'Puasa' 3 Bulan

 Hinaan orang tak akan menghentikanku, pujian orang tak akan memalingkang fokusku._Jon Q_



Sore hari ini Jon pergi ke Cimahi untuk ngopi santuy bersama seorang teman lama. Ngopi santuy adalah nama yang Jon buat untuk belajar bersama orang-orang yang ingin taqorub ilaallah. Mendekatkan diri pada Allah tanpa ada kasta, tanpa ada guru dan siswa, Mursyid dan murid. Membahas banyak hal, tentang dakwah di diskotik, diplomasi bisnis di dalam sistem-sistem rusak buatan manusia, ujian pembelajar dan pembagi ilmu, dan DNA warisan karakter orangtua. Di malam ini pula, ia mendapat jawaban mengapa ia harus 'berpuasa' (hijrah) 3 bulan di Kota Kembang.


Obrolan dimulai dengan pertanyaan : Bolehkah seorang mukmin yang sudah taubat masuk ke diskotik?


Teman si Jon itu pernah mengembara di 'dunia hitam'. Banyak teman di dunia perdiskotikan, yang orang mukmin menyebut mereka dengan nama : orang-orang fasik. Bolehkah berteman dengan orang fasik? Boleh, jika untuk berdakwah. Tidak boleh jika kemungkinannya justru kita terbawa mereka.


Cerita berlanjut ke ayat tentang Shofa dan Marwah. Dulu, saat rasul masih hidup, di dua bukit itu ada banyak berhala. Tapi digunakan untuk sa'i (kalau tidak salah ya). Ada sahabat yang tanya, bolehkah menyembah Allah sedangkan di sana ada berhala? Ayat yang turun justru menjelaskan tentang kebolehannya. Ini yang menjadikan dasar hukum, bahwa dakwah itu boleh dimana saja, sekalipun itu tempat maksiat, tempat 'kotor'. Ini juga yang menjadi dasar berteman dengan orang-orang fasik untuk memperbaiki mereka. Dan juga dasar untuk kebolehan ke tempat-tempat wisata religi agama lain, selama bukan untuk menyembah Tuhan mereka. Seperti Borobudur, misalnya. Boleh-boleh saja.


Tidak mungkin manusia bisa sepenuhnya menggunakan cara baik dan benar universal di dalam sistem yang rusak. Ibarat motor tak akan bisa berjalan dengan baik jika sistem mesin atau sparepartnya rusak. Begitu juga dengan bisnis dan politik dari sistem buatan manusia. Tetap menjadi putih di tengah-tengah banyak warna itu tak akan bisa lama. Pasti akan menyesuaikan diri jika ingin bertahan di sana. Selalu dua cara, keluar dari sistem itu, atau menyesuaikan diri tanpa kehilangan jatidiri. Jangan tanya mana yang baik, karena selalu ada resiko di tiap keputusan kita.


Di kampung halamannya, si Jon sering ditanya anak-anak muda yang belajar bersamanya, "Pak Jon apa tidak masalah, datang ke tempat kami? Bukankah tidak ada sumur yang mendatangi ember?" pengibaratan seseorang yang ingin mencari ilmu, mereka harus datang pada guru/kyai-nya. Sedangkan si Jon justru yang datang.


"Ujian pembelajar itu berat," Jon menjawab. "Kalau jadwal belajar datang, kalian akan diserang dari 4 penjuru. Rasa malas, lupa, disibukan dunia, kemungkinan menunda esok hari. Kalau itu datang, kalian nggak akan sampai-sampai ke rumah saya. Sedangkan saya bukan ustadz, bukan kyai, atau semacamnya. Wajib bagi saya tidak merasa mulia karena akan membagikan ilmu Allah pada kalian. Wong saya juga nggak punya ilmu kok, kita belajar bersama itu dengan mengharap diberikannya hidayah, ilmu Allah, pada kita saat diskusi."


Dan saat si Jon di antar pulang, temannya bertanya tentang dosa warisan. Tentang anak pezina yang kelak juga menjadi pezina. Banyak da'i yang cenderung bersumbu pendek dalam berpikir. Gula itu manis, tapi tidak semua yang manis itu gula. Tapi baiklah, kita berbincang tentang DNA (Dioxyribo nucleic acid). Tentang unsur terkecil tubuh manusia yang menyimpan blueprint para leluhur manusia sebelum kita. Karakter orangtua akan menurun pada anak, tapi tidak selalu. Karen faktor lingkungan itu berpengaruh besar pada pertumbuhan anak. Bukan doa yang diwariskan, tapi karakter. Dan itupun tidak selalu, karena lingkungan dan challenge (tantangan) hidup si anak juga sangat berpengaruh.


Di perjalanan pulang jalan kaki, Jon berdialog dengan dirinya sendiri. Tentang kemungkinannya hidup di Bandung, hijrah dari kampung halamannya. Tapi ia tersenyum, kesadarannya kembali pada Tuhan. 


"Ah, gimana Engkau saja lah," Jon menggumam. "Jika memang aku ditakdirkan sebagai pengembara, maka baiklah. Yang akan aku lakukan pertama adalah minta ridlo ibu. Kalau masih di Tegal ia akan memakai waktu luangnya untuk beliau. Kalau di luar rumah, dipastikan ia sedang menemani hamba-hamba-Nya yang kebingungan." Tak peduli lagi bagaimana komentar orang-orang, tak peduli penilaian, penghakiman manusia. Pujian dan hinaan bernilai sama di telinganya.


Entah sampai kapan ia akan hidup begitu. Dasar orang aneh.

Bandung, Rabu, 20 Oktober 2021

Post a Comment

0 Comments