Bertempur dan Jeda Sejenak

Semakin dekat dengan September, aku rasakan betapa 'galaknya' pendidikan yang Tuhan berikan berkaitan dengan halal-haram. Bukan tentang halal haram seperti babi dan arak, melainkan segala sesuatu yang tak lebih dulu disampaikan pada-Nya, itu seakan haram untukku. Rasulullah dulu pernah ditegur sama Allah karena, demi istrinya, ia bersumpah tak akan melakukan sesuatu yang tak diinginkan istrinya itu, meski sebenarnya boleh. Satu ayat turun, agar umatnya paham, bahwa sekaliber rasul, itu tidak boleh mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah. Bukan bermaksud sok suci atau sok cinta nabi, tapi beberapa bulan terakhir, kok rasanya susah sekali memastikan bahkan hanya sekedar beli bensin, bubur, bertemu pak anu, bu fulan, yang sebenarnya tak ada masalah apa-apa. Jadi begini, dari riset yang dengan detail aku catat, banyak hal yang harus aku sampaikan lebih dulu pada-Nya, sebelum melakukan sesuatu apapun itu. Susah benar, ya. Tadabur yang aku maknai adalah, bahwa segala sesuatu itu milik Allah. Untuk orang-orang tertentu, tak boleh ia merasa mampu sebelum meminta izin pada-Nya, sekalipun itu rasanya adalah hal kecil. Ini tentang ihsan, lagi-lagi. Tentang penyaksian bahwa makin bertambahnya usia seseorang, seharusnya makin melihat Tuhannya dimanapun, dan kapanpun di hidup.


Hari kelima ini, aku belum mampu membuat formulasi baru. Tentang wujud zat kelima, tentang partikel/zat M13u, tentang hierarki 4 sumber gerak, tentang 3 jalan menaklukan nafsu dari dalam, tentang skenario/diplomasi Dajjal dalam membuat fitnah, dan banyak hal lain yang seharusnya September ini aku tuntaskan. Tapi, yah, kita tak boleh menyesali ketetapan Tuhan yang sudah lewat. Meski sebenarnya gatal sekali ini mulut untuk menyayangkan, jika saja kemarin tidak ada 'drama' pergantian kepala sekolah, dengan perhitungan yang memang ternyata terjadi setelah PPKM ini, mungkin semua beban ini lebih mudah dirumuskan. Wabah mungkin akan diselesaikan bulan ini. Anak-anak sekolah dibolehkan berangkat, namun dengan tetap harus ada pundi-pundi cuan yang masuk ke lembaga-lembaga medis sesuai rencana awal : wabah ini. Manusia memang lucu, mereka tak tahu di balik rencana busuknya ada waktu yang justru akan membusukan dirinya lebih hina.


Malam ini nonton kembali film Red Clift I. Imajiku terbang langsung ke perang uhud. Betapa pedih apa yang rasulullah hadapi saat itu. Dan kepedihan selanjutnya adalah, ternyata hidup ini tak berhenti perang dan jeda sejenak. Bertempur dan mempersiapkan pertempuran selanjutnya, terus begitu sampai manusia mati. Setidaknya, 9 tahun ini aku hidup begitu. Saat-saat genting dan jeda sejenak, hanya untuk mempersiapkan pertempuran yang makin rumit. Jika perang dahulu itu mudah, bunuh membunuh, perang saat ini adalah bagaimana membunuh sifat buruk manusia tanpa melukai orangnya. Mematikan api tanpa memadamkan cahayanya. Bodoh sekali, jika manusia merasa mampu melakukan itu. Kekuatan, saat berjuang dan kemenangan, itu dari Allah, mengapa kita merasa puas akan itu?


Minggu, 5 September 2021



Post a Comment

0 Comments