Menyikapi Takdir

 

_"Man lam tardlo bi qodlo-i, wa lam yashbir ala bala-i, wa lam yashkur ala na'ma-i, fal yakhruj tahtis sama-i. Fal yatakhidz robban sawa-i,"_


Bulan pertama masuk kuliah, dulu di kampus UPI, saya berhadapan dengan senior yang memberikan pertanyaan, "Yang kamu inginkan tak terjadi, dan yang tak kamu inginkan terjadi, bagaimana kamu menyikapi Takdir?" saat itu, yang ternyata saat ini saya tak lebih cerdas, saya menjawab polos : jalani saja. Dan memang cara terbaik menyikapi Takdir adalah terus bertahan, berjalan, apapun yang terjadi. Di usia ini, saya baru sadar, ternyata rangkaian ujian hidup yang bertubi-tubi datang dengan level berat itu memaksa saya untuk sampai di tahap ini : tawakal. Menyerahkan arah langkah kaki bagaimana Tuhan saja. Tak berani lagi memutuskan suatu hal tanpa lebih dulu 'berdialog' lewat doa pada Sang Pencipta Alam. Belakangan saya dijelaskan tentang tadabur ayat _afala ta'qilun, afala yatafakarun_ . Di satu kondisi, ayat itu untuk orang-orang yang malas menggunakan akalnya untuk berpikir, merenung, mengoreksi diri. Tapi di kondisi yang lain, ayat itu menjadi semacam _maqom_ , derajat, orang-orang yang tak mau lagi mendewakan akalnya di hadapan takdir yang akan Tuhan putuskan. Bahasa jawanya _kersonipun Panjenengan, Gusti_ ...


Awal bulan Juli, teman kuliah tanya tentang kesanggupannya menggantikan mengajar sementara di SMA-nya lagi. Saya jawab, "Ta istikhirohin dulu ya..." sambil masih memetakan (peta masalah) yang saya hadapi di rumah dan MI. Sayangnya, entah lupa atau memang tanpa mimpi, saya tak dapat 'wangsit' seperti dulu : entah mimpi sekolah lagi, diajar di kelas, atau mengajar di kelas. Hanya dapat bisikan, "Apapun keputusanmu, Allah akan menemanimu," dan ternyata kondisi persoalan MI kita makin pelik. Sudah kita pelajari tentang kaidah fiqh _darul mafasid muqodamun ala jalbil masholih_ . Tentang generasi muda yang memang sebaiknya dihadapkan dengan persoalan-persoalan dilematis sejak kecil. Agar akalnya terbiasa berpikir, merenung, tirakat, puasa, agar menemukan solusi-solusi terbaik. 'Sialnya', seminggu setelah saya jawab sanggup menggantikan teman saya mengajar, Allah memberikan hidayah pada kami, saya dan saudara saya. Sebagian masalah clear, tapi saya sudah kadung menjawab sanggup dan keberangakatan tinggal sehari lagi. Akhirnya, ya, kita ini hanya makhluk lemah, Tuhanlah yang berkuasa di atas kita. Jangan menyalahkan siapapun, tapi berpikirlah jalan tengah, solusi, dari tiap persoalan yang kita hadapi.


Hidup ini sudah pasti banyak masalah. Kalau baperan, mudah tersinggung dan marah, itu tanda iman kita masih lemah. Tapi ada keimanan yang lebih lemah, ketika kita lari dari masalah, dan kita tahu dengan ilmu hidup jadi mudah tapi kita justru sering lari dari ilmu. Empat hari di Bandung saya bertemu dengan 'orang-orang sakti'. Si pencari paku bekas di selokan yang tertangkap polisi, perampok minimarket yang ingin anak istrinya beli beras, dan orang-orang yang berapapun berat masalah yang saya hadapi, rasa syukur makin bertambah. Bukan tentang keberpemilikan, melainkan dikuatkannya kesabaran. Karena, rejeki itu tak selalu tentang hal-hal materil, tetapi dikuatkannya kita atas kesabaran, dan ketabahan di tengah persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi.


Sabtu, 5 Hijriyah 1443 H, 14 Agustus 2021

Post a Comment

0 Comments