Menambah Durasi Kesabaran

 


Diponegoro dijebak De Kock. Ia berkata, _"Jika aku mau, aku bisa bunuh dia di tempat itu juga. Tapi seorang mukmin sejati tak akan melakukan itu di dalam meja perundingan"_ Kayu pegangan kursinya sampai patah, menahan amarah yg sangat besar.

Raden Fatah (Jinbun) putra mahkota Brawijaya V. Hijrah ke Demak dan mendirikan _kerajaan_ tanpa tahta. Sungguh, bumi-Nya itu luas. Berhijrahlah. *Tetaplah menjadi bagian dari cinta yg rasulullah bawa.*


Ingin rasanya si Jon bertanya pada idolanya, rasulullah sholallohu alaihi wassalam, tentang apa yang harus dilakukannya. Ia memang sudah cukup terdidik dengan dilema-dilema hidup dari kaidah fiqh : darul mafasid muqodamun ala jalbil masholih. Ketika kau dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit, ambilah yang ada sedikit kebaikannya. Atau ambilah yang paling kecil resiko keburukannya. Masalah menjadi rumit, ketika kita belum mampu mengidentifikasi, mana persoalan dengan keburukan yang besar dan mana yang kecil. Bisa jadi, yang kita anggap persoalan kecil, di hadapan Allah itu persoalan yang besar, begitupun sebaliknya. Jika sudah sampai pada titik ini, tidak ada jalan lain kecuali mengharap hidayah Allah. Dan ini biasanya justru paling berat.


Orang bilang kesabaran ada batasnya. Tapi bagi si Jon, bukan tentang batas kesabaran. Melainkan durasi kesabaran. Beda derajat iman beda durasi kesabarannya. Tapi memang membedakan orang sabar dengan orang tolol agak susah. Apalagi zaman ini, penampilan adalah sumber penilaian utama seseorang menilai orang lain. Termasuk dalam hal kesabaran. Orang miskin atau orang lemah yang ditindas diam saja dianggap tolol, sedang orang kaya dan gagah pasti akan dianggap sangat sabar.


Andai Nabi Yusuf hadir di jaman ini ketika baru saja diangkat dari sumur, mungkin ia akan dianggap sebagai si tolol. Dan saat ia diangkat jadi gubernur ia disebut sebagai orang dengan kesabaran yang sangat besar. Ini menjadi rumit, karena ternyata orang-orang sabar, ketika Tuhan ternyata berpihak padanya, lalu memberikan pangkat dunia padanya, ia sebenarnya tak begitu mengharapkan itu. Ibarat seseorang yang sangat menginginkan kekasihnya, diperjuangkan, dikejar-kejar habis, tapi ternyata ia menikah dengan orang lain, dan setelah tangis juga kepedihan yang berlarut-larut, kelasih itu datang ingin dinikahinya. Itu seperti harus menerima sesuatu yang sudah tak diinginkannya lagi. Apa yang harus dilakukan?


Syukurlah, tokoh kita ini, Jon Quixote, sudah lama meninggalkan keinginannya di pojok dimensi jiwanya. Ia sudah tak dijerat keinginannya lagi. Maka kesabarannya pun menjadi hal yang susah didefinisikan. Apa yang harus dia sabari, jika memang tak menginginkan apa-apa lagi? Persoalannya, hidup ini ada tugas sosial yang harus dituntaskan. Dengan atau tanpa keinginan, itu harus dilakukan. Bukan kesabaran yang diperkuat, melainkan menambah durasi kesabaran yang kita latih.


Minggu, 1 Agustus 2021



Post a Comment

0 Comments