Doa itu tertunda, bukan kalah

 

4 Hijriyah 1443, Jumat, 13 Agustus 2021



Seorang teman muda berkata dengan nada bercanda satire. "Duh, doa kita kalah. Antum akhirnya pergi ke Bandung," saya bilang mau hijrah ke domisili istri di Bandung. Karena beberapa alasan, nampaknya memang lebih baik kalau saya tidak berada di kampung halaman sendiri lagi. Meski di balik itu, ada banyak hal yang sebenarnya berat buat saya meninggalkan kota kecil itu. Tentang maisyah yang sedang dibangun, tentang pengobatan 3 disiplin, mengaji malam sabtu, ngopi diskusi bebas, dan beberapa hamba Allah yang harus saya tinggalkan dalam kondisi sakit. Tapi memang demikianlah seharusnya manusia, tidak melawan takdir, merasa Tuhan tak lebih berperan, dan mulai di hijriyah ini sebaiknya kita memulai untuk menyerahkan kembali komando hidup pada-Nya. Akan disuruh berjalan kemana kita, itu bagaimana Dia. Ke timur kita berangkat, ke barat juga kita tak merasa berat. Man lam tardlo bi qodlo-i, wa lam yashbir ala bala-i, ilaa akhirihi, siapa yang merasa mampu menggenggam takdirnya sendiri, silakan cari Tuhan selain Dia : Allah.


Di kota kecil itu, 4-5 bulan ke belakang, saya sedang memberikan konseling pada seorang anak muda berusia 25 tahun. Keluarga dan masyarakat memvonisnya gila, sang ibu yang menjadi tempat pelampiasan kemarahannya sering berdoa keburukan pada anaknya sendiri, sudah bukan dari keluarga berkecukupan, diberi ujian seperti itu pula. Bukan sedang pamer atau sok keren, saya adalah satu dari sekian banyak pelayan-Nya yang tak bisa berbuat apa-apa selain patuh ketika tugas-tugas sosial seperti ini datang. Tak dibayar, bukan ahlinya, juga harus merahasiakan pada banyak orang tentang pelayanan ini, karena bisa menjadi fitnah. Salah satu yang membuat saya berat meninggalkan kota kecil itu adalah ini : merawat hamba-hamba Tuhan. Dulu, dulu sekali, aku mengeluh pada Tuhan. Saya bukan Khidr, yang mampu taat total atas perintah-Nya. Menolong orang atau menegakan tembok yang mau roboh, itu bukan saya. Itu terlalu berat untuk manusia selemah ini. Tapi, ketika perintah itu turun, dengan dilema yang berat, mau tak mau harus dijalani. "Dengan-Mu aku berjalan, dengan-Mu aku bergerak dan diam,"


Di Bandung ini, satu ayat kembali terdengar : alam ya'ni liladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillahi wa ma nazala minal haq? Sebulan ini, 9 to 9, nampaknya harus makin serius menyikapi komando ini. Perbaikan diri, dari dalam, meletakan kembali perintah-perintah takdir kepada-Nya, bukan untuk apa-apa, melainkan semakin dekatnya kita dengan ajal. 


Post a Comment

0 Comments