Generasi Laletoy

 (Catatan dari facebook, 16 Juli 2013)


"Jangan hanya karena hembusan angin kecil yg membuat halaman rumah menjadi kotor berdebu, lantas rumah itu disebut jelek. Siapa dari kita yg merasa bersih? Kita semua kotor!"

Jangan naif! Kita semua cenderung berbuat salah! Tanya! Tanya mereka yg bergelar doktor atau profesor, apakah tingginya ilmu mereka menjadikan mereka bersih dari kesalahan?! Tanya! Tanya para ustadz-kyai-syeikh yg kalian agungkan melebihi rasululloh dan Tuhan, apakah mereka merasa suci dari dosa?! Kita ini siapa?! Terimalah kita ini bukan nabi! Bukan dewa! Kita penuh salah, kita berlumur dosa!


Usia ini menuntut agar kita semakin bijak, menantang kehidupan dengan tegak, terus bergerak, tetap berjuang demi kejayaan masa depan, kelak. Apa yg kau pelajari saat muda?! Apa produk yg kau hasilkan selain bayi-bayi yg tak kau sanggup mengandungnya? Kau telah gagal menjadi anak muda! Dan nikmatilah penyesalan di hari tua, setelah masa muda itu terlewati begitu saja.

Generasi kita generasi tape, letoy bersama tanpa rasa malu. Lembek tanpa karya nyata. Generasi laletoy!

Jangan sombong dengan pengetahuan baratmu!

Homo homini deus!

Homo homini lupus!

Vox populi vox dei!

Cogito ergo sum!

Thales-Socrates-Aristoteles!

Kau buta pada pemahaman sendiri.

Al Kindi yg merumuskan waktu kemudian diteruskan oleh Einstein sang penemu

Avicena yg buku-buku kedokterannya menjadi buku wajib harvard sang universitas dunia.

Averoes yg dalil logikanya menjadi pintu pencerahan Eropa!

Sekedar kitab kuning yg tiap baca menghadiahi alfatihah pada pengarangnya, kau pun tak mampu mencapai itu!

Generasi macam apa kau ini? Hanya bisa mencaci, tak punya harga diri!

Karena kau pasti tak pernah mendengar senandung Sang Syafi'i :

Silahkan mengina

Diamku adalah jawaban

Aku semakin tenang, dan Kau semakin berang

Aku diam, karena tak pantas seekor singa melawan anjing!

Untukku sendiri!

Post a Comment

0 Comments