Ayah Hidup, Ayah Mati

Secara ontologis (hakikat), agak susah menyebut orang hidup dan orang mati. Karena mereka masih hidup, tapi di wilayah yang beda. Kita mengurusi yang hidup, bukan yang mati._Jon Q_


Sabtu pagi, 10 Juli 2021, sebelum berangkat si Jon temui bapaknya duduk hening di kursi meja makan. Ada perasaan, 'kok rasanya dalam sekali'. Bapak lagi berjalan ke suatu 'alam bawah' yang dalam sekali. Diajak ngobrol agak telat responnya. Mau berjalan pegangan meja, nampak tak kuat bahkan hanya untuk menggeser kakinya. Lalu ia bilang emak, buat menjaga bapak, jangan jauh-jauh. Ia pun berangkat kerja, karena ada rapat dengan guru membahas tahun ajaran baru hari Senin lusa.


Jam 9 ada pesan grup, kakak Jon meminta semua anak-anak kumpul. Rapat pun dipercepat, saat masuk kamar, Jon tahu bapak sedang sakaratul maut. Yasin, doa, dan dzikir terdengar dari kamar itu. Jon langsung 'ngedan', menyusul bapaknya yang sudah terlalu dalam perjalanan ke 'alam bawah' itu. Mencoba video call dengan anaknya yang di luar kota, agar menghibur kakeknya. Jam 11 bapaknya si Jon siuman. Bisa diajak ngobrol, bisa duduk, bisa makan. Jon lupa, kalau orang sudah sakaratul maut, lalu tiba-tiba sehat begitu, itu adalah energi terakhirnya. Dan benar, setelah ashr beliau sakaratul maut untuk yang kedua kalinya. Pukul 17.30, beliau wafat.


Jon paham betul apa itu kesedihan. Ia tak bersedih, tapi entah mengapa ada perasaan pilu yang membuatnya menangis, tak mampu menahan gejolak rasa itu. Kesedihan adalah pikiran yang menggenang, tak mau melepas sesuatu yang seharusnya direlakan. 


Kakak perempuan si Jon tanya, "Bapak sudah nggak bernyawa, Jon?" Sesaat setelah nafas dan dada bapak tak terasa.


Jon terdiam. Lalu pelan ia jawab, "Iya, Mbak,"


Renungannya sampai pada ajal sang nabi. Mengapa orang sesempurna nabi, dan sesholeh bapaknya, ajalnya tak seperti orang yang sedang tidur?


Dua hal yang menjadikan ajal terasa berat : merelakan apa yang paling dicintai saat hidup, dan kerelaan keluarganya terhadap jenasah.


Jon mendapat jawaban untuk pertanyaan dari dulu, mengapa sang nabi sekaratnya begitu berat? Karena umatnya. Ia sangat mencintai ummatnya. Dan tentu saja, yang menjadikan ajalnya semakin berat, karena orang-orang yang mencintainya lebih berat lagi merelakan beliau. Semacam perasaan putus asa : apa yang akan terjadi dengan agama ini sepeninggalmu, wahai nabi?


Saat sahabat muda si Jon takziyah, menemaninya hari itu, ia bercerita pada anak-anak muda itu.


"Berdoalah pada Allah, agar kita diperkenankan melihat dimana ayah/ibu kita ditempatkan," ucap si Jon. "Bukan karena kita tak percaya dengan janji-janji Allah, melainkan sebagai anak yang sholeh, kita ingin memastikan kenikmatan yang diterima orangtua kita disana."


"Memangnya bisa, bang?" Tanya sahabatnya.


"Aku rasa bukan itu pertanyaannya," Jon mengarahkan. "Tentu Allah mampu. Di dunia atau di alam itu, Dia berkuasa penuh."


"Lha iya, maksudnya, apa orang kayak kami ini dibolehkan 'diperlihatkan' begitu?" Tanya ia lagi.


"Yaaah... Itu persoalannya," Jon tersenyum.


"Btw, apa yang Abang lihat dari ayah Bang Jon disana?"


Jon tersenyum.


"Aku tahu, manusia secara mendasar akan meninggal dalam dua kondisi,* Jon mulai membacot. "Pertama karena usia renta, saat ia masih ingin banyak hal tapi tubuhnya tak mampu. Kedua, saat ia diikuti pikiran putus asa yang membuatnya merasa tak nyaman lagi hidup di dunia,"


"Saat sekarat yang pertama, aku cuma ingin memastikan, bapakku meninggal karena memang alasan yang pertama. Kedua, tanpa aku ceritakan dilema besar internal keluarga kami, bapak sudah diperlihatkan. Konon, saat ajal, kita diperlihatkan dunia setelah ini, dan apa-apa yang sudah kita kerjakan di dunia, juga apa yang kita lupa mengerjakannya."


"Dari itu kita akan dilema. Meninggalkan seseorang yang belum kita beri keadilan padanya, entah istri, anak, saudara, dsb. Tapi di sisi lain, kesadaran tubuh sudah mulai mati perlahan. Dari kesadaran organ, jaringan, sel, dan terakhir DNA. Itu secara medis. Tubuh kita perlahan mati dari permukaan ke arah dalam,"


"Kong Fu Tse pernah bilang, karena ajarannya terlalu meremehkan orang mati. Hampir sama seperti di Jawa, di Cina, orang mati dimuliakan. Dia bilang : mengurusi yang hidup saja kita kerepotan, bagaimana kita akan mengurusi yang mati? Maksudnya, lebih dari sekedar memakamkannya.


Secara ontologis (hakikat), agak susah menyebut orang hidup dan orang mati. Karena mereka masih hidup, tapi di wilayah yang beda. Kita mengurusi yang hidup, bukan yang mati. Saat bapak dimakamkan, aku sudah melihatnya bersama para pendahulunya. Wa yanqolibu ilaa ahlihi masruro, mereka (orang-orang beriman) dikumpulkan kembali dengan keluarganya dalam keadaan bergembira. Bapak disambut pakdhe, kakek dari bapak, kakak ipar (suami kakak ke-4) dan anak keduanya. Bahkan mereka agak meledek, karena bapak yang baru sampai sana, tapi rumah plus taman untuknya sudah disiapkan." Jon tersenyum. Dari matanya nampak sekali ia ingin menangis, bahagia.


"Aku bahkan diberitahu, mengapa penghuni surga berusia 33 tahun. Bukan usia umur, melainkan energi, stamina, disana orang-orangnya berenergi enerjik, trengginas, kalau bahasa jawa."

"Tapi, itu bukannya alam barzakh, bang?" Tanya sahabat Jon.


"Iya," jawab Jon. "Seperti bumi, yang bisa menjadi cerminan surga/neraka dalam kadar 1%-nya. Alam itu juga sama,"


"Tentang taman dan rumah bapak bang Jon tadi, bang, kok bisa begitu?" Tanya lagi sahabat muda Jon.


"Itu doa dan ikhtiarku disana," jawab Jon pelan.


Tanpa Jon sadari, kakaknya nguping diskusi si Jon bersama para sahabatnya itu. Dan dengan PeDe-nya, ia bercerita pada para jamaah tahlil bahwa ia-lah yang melihat apa yang diceritakan si Jon itu. Ia tak mengerti, penglihatan seperti itu hanya bisa diterima orang-orang dalam lingkaran belajar seperti yang si Jon jalani. Ia tak tahu, resiko bicara seperti itu di masyrakat. Baik resiko lahir, dan terlebih lagi resiko batin.


Senin, 12 Juli 2021



Post a Comment

0 Comments