One Litre Milk for a Punch

 Satu liter susu, untuk satu pukulan.

Tanggal 2 Mei, tepat hari pendidikan nasional, saya mendapat 'hadiah' di malam hari. Tidak terlalu mewah memang, tapi itu penting. Meneguhkan, bahwa saya memang tak punya privasi. Pintu rumah dan hatiku, selalu terbuka untukmu yg membutuhkanku.

Seorang teman dari Salatiga berkunjung ke rumah. Ia orang dekat 'Sekolah Bunda Septi' dan 'Qorriyah Thayibah'. Jam berapa ia berkunjung? Jam 2 pagi. Saya menjemputnya di terminal, lalu membawanya ke rumahku yg banyak nyamuk itu.

Kemarin, malam Sabtu, ia pulang dari Cirebon lewat terminal Tegal. Saya tidur jam 11.30, jam 1 lagu Kotak 'beraksi' berbunyi di henpon saya. Teman saya itu, kena tilang, dan 'menunggu' di pos polisi terminal. Saya lupa mengingatkan, kalau malam hari polisi pantura memiliki insting yg kuat untuk melihat kendaraan yg tak lengkap. Saya sendiri tak pernah kena tilang (tak punya sim, stnk), tapi teman banyak. Jam itupun, saya menuju terminal, berdialog dengan polisi (kalau masih daerah pantura, bisa diatur). Ia bebas, tapi sim-nya ditahan. Saya katakan, senin setelah sidang akan saya kirim lewat pos. Sedang ia pulang pagi itu.

Di pagi harinya, saya kasih itu polisi 1 liter susu, karena telah mengganggu teman dan tidur saya.

Teringat di tahun 2007 awal, setelah bertinju dengan adik kelas. Ia dikeluarkan dari sekolah, tapi saat ia main, saya jabat tangannya, saya traktir kopi. Bukan karena takut, tapi karena aku bukan orang jahat.

"Ketika pipi kananmu tertampar, berikan pipi kirimu," Yesus, Ghandi.

12 Mei 2013

Post a Comment

0 Comments