Nikmatnya Kesabaran yang Besar

 Ramadlan (18)

"Semua doamu terkabul. Sebagian diwujudkan sesuai bentuk permintaanmu, sebagian lagi dalam wujud kesabaran yang besar. Ketika bentuk doamu tak terwujud, sebenarnya kau sedang menerima kesabaran besar sebagai modal perjuangan untuk mendapatkan dua kali lipat apa yang kau pinta"


Seperti anak-anak muda madesu lain, Jon juga ikut tradisi ngabuburit. Mencari sore, menunggu maghrib. Mungkin satu-satunya yang mendatangi penantian si Jon ya cuma 'si Maghrib' itu. Dia tipe laki-laki yang selalu salah menanti seseorang. Sedih benar.

Bukan untuk melampiaskan syahwat mata, si Jon ngabuburit. Melainkan belajar, riyadloh, mengamati orang-orang yang mengais rejeki di sore hari itu. Pada penyapu jalanan, penjual sapu dengan gerobak, tukang sol sepatu, tukang mainan anak : Tuhan, sudahkah Engkau cukupkan mereka hari ini? Seakan ia lebih sayang terhadap mereka, sedang Tuhan jelas-jelas lebih sayang bahkan melebihi sayangnya seorang ibu pada anaknya.

Ada yang bilang, hidup manusia adalah kalkulasi, sebab akibat dari apa yang dahulu dilakukannya. Mereka jadi penjual sapu, tukang sol, penjual mainan keliling, para sarjana bisa saja menganggapnya akibat dari masa remaja/muda yang malas. Seakan mereka lepas dari tanggungjawab bahwa ketimpangan sosial bisa jadi bukan karena memang kondisinya begitu. Tetapi juga penolakan orang-orang mampu (materil, ilmu, kekuasaan) untuk merangkul mereka yang lemah, mendidik, sekaligus memodali baik materil ataupun moril. Seakan orang-orang yang tidak berzina, tidak mabuk, tidak judi, itu bebas dari dosa-dosa para pezina, pemabuk, sedang mereka melakukan itu bisa saja karena, bahkan, kita tidak mendoakan mereka.


Lebih parahnya, sebelum berdoa yang baik-baik biasanya kita tergoda untuk mengumpat, menyumpahi, berdoa keburukan pada mereka yang kita lihat banyak bermaksiat. Sedang sang nabi mengajarkan, keimanan seseorang itu diragukan selama ia belum mencintai sesama orang beriman seperti ia mencintai dirinya sendiri. Seorang mukmin belum dianggap dewasa, 'keren', 'sampai' (wushul), selama ia belum mampu memberikan apa yang dicintainya untuk mukmin yang lain. Harta, rejeki, perlindungan kekuasaan, kesempatan kerja, waktu luang untuk mendidik, dan hal-hal mendasar lainnya kita masih nafsi-nafsi, masing-masing. Dan kita merasa telah menjadi mukmin yang ihsan. Luar biasa.


Hanya orang-orang yang memiliki kesabaran yang besar, hasil dari tertundanya doa-doa, yang mampu melakukan itu. Mereka bersyukur ketika mendapat rejeki, dan mereka bersabar ketika rejeki materil tertahan sejenak di langit. Dan saat mereka mendapat rejeki besar, sedang tetap memiliki kesabaran yang besar, maka ia akan memberikan apa yang dicintainya itu untuk saudara-saudaranya. Merekalah yang termasuk golongan 'ni'mal abdu', hamba-hamba yang tercukupkan. Bagaimana tak cukup, jika kita sudah bersama-Nya kapan saja dan dimana saja? Innalllaha ma'a shobirin.


Tegal, Kamis, 29 April 2021



Post a Comment

0 Comments