Nikmat Terdekat

 Ramadlan (30)


"Saat kau merasa hidupmu penuh dosa dan kesalahan, merasa putus asa dengan masa lalu yang kelam, carilah teman. Sendiri dalam keterpurukan adalah hidangan ternikmat para setan."


Hari terakhir ramadlan. Di setiap ramadlan, hari-hari terakhirnya selalu membuat si Jon merasa agak kecewa. Bukan karena harus memenuhi kebutuhan guru-guru dan karyawannya menjelang hari raya. Melainkan semacam perasaan melankolis, nestapa, mengapa puasa hanya diwajibkan sebulan saja. Tapi, ketika ia sedang sholat isya, seperti biasa, syathohat di saat-saat sholat, ia mendapat penjelasan.


"Biasanya kau sedih, Jon?" Kata suara dari dalam dirinya. Bertanya tentang perasaan akan berakhirnya ramadlan.


Jon tersenyum. "Bagaimana mungkin ramadlan pergi dari sisi-Nya? Dan aku, ramadlan ini, juga diberikan tempat di sisi-Nya. Kita bisa bertemu kapan saja aku mau, dan Dia perkenankan,"


Berawal dari kegelisahan si Jon yang entah berapa puluh hari tak ikut tarawih, ia curhat dalam sholatnya. Kemudian ia ingat nasihat-nasihat kyainya, bahwa kenikmatan terbesar justru adalah kenikmatan-kenikmatan terdekat dari diri kita. Bagaimana ia menyesal dengan amal yang terlewat, sedang ia direjekikan masih bisa sholat, dzikir, bermesraan lewat senandung-senandung quran. Kesadaran pesimisme memang mengkahawatirkan. Semenakutkan hidup dirundung ketakutan tentang masa depan. Kekhawatiran terhadap hal-hal yang bagi-Nya merupakan persoalan sepele, kecil, remeh. Bagaimana bisa manusia dilemahkan oleh hal-hal kecil? Uang, ketenaran, jabatan, kehormatan, pujian, bukankah manusia dapat tetap hidup bahagia tanpa itu semua? Seperti pertanyaan : milih mana, selalu punya uang atau setiap apa yang kau kehendaki terwujud saat kau menginginkannya?


Beberapa bulan sebelum ramadlan, Jon diminta siswanya untuk membuang benda-benda jimat bapaknya. Kita akan bahas dijudul lain, insya Allah. Benda-benda itu kami buang di laut. Setelah membuang itu, sambil mengopi kami berbincang tentang ayat quran, innahu yarookum huwa wa qobiluhu min haitsu, setan dan kabilahnya meriset kita diam-diam dari arah yang kita tak tahu itu, la tarownahum. Akan sehebat apapun manusia, tetap kalah dengan setan yang meriset mereka ribuan tahun. Mereka selalu mencari titik lemah dari diri manusia, illa mukhlishin, kecuali orang-orang ikhlas. Orang-orang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Orang-orang yang, 'dengan-Ku ia berbicara, dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat', yang sudah tak memiliki diri lagi di hadapan-Nya. Orang-orang yang 'id', kembali, dalam keadaan suci. Dan tiada kesucian kecuali telah dibersihkan oleh-Nya, di sisi-Nya, di dekat-Nya.


Selamat ber-idul fitri, saudaraku. Jangan jadikan kembalinya pada kesucian hari ini, membuat kita justru semakin lupa pada-Nya.


Tegal, Rabu, 12 Mei 2021



Post a Comment

0 Comments