Mata Air Khidir, Konfigurasi Angin, Dewa Ruci

 Ramadlan (21)

"Ibarat angin, arah matanya ke seluruh penjuru. Setan menggoda kita hanya lewat empat arah, tapi hawa (rundungan keinginan dalam diri), menyerang dari semua arah."


Menjelang berbuka, seperti biasa Beth ke rumah si Jon untuk menyambut buka puasa bersama dengan belajar hal-hal baru. Kali ini, Beth bertanya tentang Surat Ibrahim ayat 24.


"Aku kok kebayang yang diibaratkan di ayat itu adalah ilmu ya, Jon?" Kata Beth mengawali. "Buahnya panen setiap saat. Itu kan ibarat orang dengan kearifan dalam dirinya,"


"Aku juga baru segitu pemahamannya," Jon mengiyakan. "Pohon baik itu berakar kuat, ini tentang pemahaman teologis, logika, kalamullah, tauhid. Cabangnya menjulang ke langit, ini tentang sifat-sifat, nama-nama Allah, dan segala macam turunan ilmu dari akar itu. Ukulaha kulla hinim bi-idzni robbiha, panen setiap saat setiap seseorang yang diberi ilmu itu dan orang-orang sekitarnya membutuhkan pertolongannya."


"Berarti dalam ilmu filsafat benar ya, tentang tahapan epistemologi, aksiologi, dan ontologi?" Respon Beth.


"Iya, cuma posisinya dibalik, ya," kata Jon. "Ontologi itu dasar yang harus dipahami lebih dulu,"


"Tapi berkelanjutan yah?"


"Iya," jawab Jon.


"Ada tambahan nggak tentang tadabur ayat itu?" Tanya Beth sambil tersenyum. Ia tahu betul, teman kecilnya ini sering mendapatkan pemahaman-pemahaman baru yang ia sendiri susah mencarinya di buku-buku atau bahkan para cendekiawan lain.


"Waktu aku baca itu, aku diceritakan tentang 'mata air khidir', konfigurasi keinginan, dan dewa ruci-nya Sunan Kalijaga," Jon mulai beromong kosong.


"Wah, gimana tuh?"


"Mitos di dunia tasawuf, Nabi Khidir yang katanya masih hidup itu telah menemukan Mata Air Kehidupan dan meminum air dari sana," Jon mulai bercerita. "Dan kisah ini mirip seperti kisah perjalanan Sheikh Malaya yang diceritakan Sunan Kalijaga,"


"Tapi kan ente pernah jelasin, Nabi Khidir dan Nabi Isa masih hidup itu dari perspektif ayat 'la taqulu li mayyuqtalu fi sabilillah?'. Jangan kita anggap orang yang wafat di jalan Allah itu mati?"


"Iya,"


"Lah terus?"


"Ini tentang penundukan total 'angin' di dalam diri manusia. Keinginan, hawa, makanya tadi aku sebut sebagai konfigurasi keinginan, konfigurasi angin,"


"Kenapa ente ibaratkan dengan angin?"


"Sifat angin yang pertama itu melawan tekanan yang menghalanginya. Kita tertipu, mengira hancurnya karang dan batu karena panas dan hujan, padahal angin yang berhembus mengenainya, itu pelan-pelan menghancurkannya,"


"Hubungannya dengan keinginan?"


*Manusia akan hancur jika hidupnya dikendalikan keinginannya."


"Oh ya. Aro-aita manittakhodza ilahahu hawahu, yah?" Beth ingat betul ayat yang sangat sering Jon kutip itu.


"Iya," lanjut Jon. "Segala sesuatu di dunia ini netral, bisa baik bisa buruk. Keinginan-lah yang menjadikan itu buruk, dan ketaatan pada Tuhan-lah yang akan menjadikan itu baik. Khidir, selama hidupnya berlatih mengelola keinginan di dalam dirinya (seperti semua nabi pada umumnya), sampai tunduk total, dan menganggap kekuatan penundukan angin dalam diri itu semata-mata karena pertolongan Allah. Awalnya kita babak belur, bertempur dengan rasa ingin, dorongan-dorongan dari dalam diri, lalu ketika itu telah terkendali, kita harus sadar bahwa itu adalah pertolongan Allah, bukan dari kekuatan kita sendiri. Karena angin dan setan, mereka seperti kaki kanan dan kiri, saling bergantian posisi menggoda manusia,"


Tegal, Kamis, 6 Mei 2021



Post a Comment

0 Comments