Kompensasi Kehidupan

 Ramadlan (20)


"Langit dan bumi ibarat ayah dan ibu yang mempersiapkan kelahiran manusia dari tanah. Tapi setelah ia mewujud, fa idza khosyimum mubin, menjadi pembangkang yang sejati. Mengira semesta ini diadakan untuk menjadi budaknya,"


Lebaran kali ini Jon sepertinya tidak mudik. Bukan karena ia tak mampu, selain karena tugas-tugasnya belum selesai, lebih utama adalah kompensasinya terhadap orang-orang yang makin menderita akibat kebijakan itu. Setahun bersabar karena virus, harus ditutup dengan kebijakan larangan mudik. Entah berapa banyak orang di luar sana yang kesadaran hidupnya di ambang batas : antara bertahan hidup atau bunuh diri saja. Bertahan hidup tapi tak punya jaminan penghasilan, bunuh diri juga memalukan. Di malam-malam hari, Jon hanya bisa duduk i'tirof, memohon pertolongan Allah agar menguatkan mereka.


Hampir saja si Jon berdoa, agar orang-orang kaya yang menutup mata dari derita sesamanya, untuk diambil jatah pahala mereka di akhirat. Seperti asbabun nuzul al furqon ayat 7-10. Agar ketika di akhirat nanti, mereka orang-orang kaya yang menutup kesadarannya merasa shock, ternyata pahala yang diharapkannya sudah habis untuk mengkompensasi derita sesama manusia saat di dunia. Tapi si Jon urung berdoa. Dia malu.


Mulai saat ini, ramadlan ini, ia enggan meminta hal-hal yang tak diperintahkan Tuhan untuk berdoa itu. Ia mencukupkan diri, ni'mal abdu, cukup apa yang Allah tetapkan untuknya. Kini seakan ia naik 'maqom', yang kemarin-kemarin tak peduli dengan surga dan neraka, pahala dan dosa, kini berada dalam 'ahwal' itu.  Mencukupkan diri dengan apa yang Allah tetapkan untuknya. Ia sering bertanya dalam dirinya, apakah seseorang yang ditolong Allah untuk mengendalikan hembus hasratnya bisa dikatakan sebagai 'ash-shobirin' (orang-orang sabar) lagi, sedangkan kesabaran itu permainan naik turunnya kekuatan hasrat dalam diri. Jika hasrat terkendali, apa ia masih bisa disebut sabar? Ia juga sering bertanya, apakah layak orang-orang disebut bersyukur ketika mereka tak tahu bahwa apa yang ia syukuri sebenarnya dari Allah? Bukankah syukur itu kesadaran bahwa apa yang ada dalam dirinya itu semua milik Tuhan, dan dia menikmati itu? Apakah orang-orang ikhlas layak masuk surga, sedang ia sudah berada dalam derajat keikhlasan yang ditempatkan dimana saja oleh Allah seharusnya dia ikhlas? Bagaimana bisa, seorang hamba biasa dapat menikmati dunia tanpa mengurangi ketaatan pada-Nya? Jon memang rumit.


Suatu saat selepas Jon pulang dari rumah klien (pasien konselingnya), ia bertanya pada 'yang membisiki' banyak pengetahuan padanya.


"Mengapa kau mau melayaniku? Sedang kalian tahu, aku tak akan tergoda dengan apapun yang kalian tawarkan?" Kata Jon dalam hati.


"Kau pikir cuma kau saja yang ingin melayani Allah, eh?" Yang ditanya marah-marah mesra. "Kau pikir kau saja yang mengharap keridloan Allah dengan melayani hamba-hamba-Nya? Kami juga mau!" Terlihat mereka menangis haru. "Semesta akan melayani mereka yang melayani hamba-hamba-Nya karena ketaatan pada-Nya. Kau jangan ge-er! Kami sujud di belakangmu bukan karena engkau, tapi karena Dia,"


Sambil menyetir sepeda motor bututnya, Jon meneteskan air mata : haru.


Tak perlu menunggu lebaran untuk hidupnya mengkompensasi sesamanya. Tak perlu menunggu puasa untuk belajar menahan beratnya bertarung dengan hasrat. Orang-orang tak tahu maqom si Jon itu sampai dimana. Sedang hanya membayangkan satu saja derita Jon, orang pasti kelabakan. Seperti lebaran ini, tak perlu menunggu larangan mudik untuk belajar ngempet. Sebulan mengelola birahi, dan ketika sampai di rumah istri ternyata ia sedang 'libur bulanan'. Sedang sebelum libur bulanan itu usai, si Jon harus kembali ke habitatnya untuk bekerja kembali. Orang normal mampu hidup bahagia dengan disiplin begitu?


Tegal, Rabu, 5 Mei 2021



Post a Comment

0 Comments