Dunia yang Belum Halal

 Ramadlan (23)


"Seperti ketika kita berharap kekasih kita memanggil. Kita berharap begitu, diperhatikan, diharapkan oleh yang kita cinta. Jika yang begitu saja sedemikian membahagiakan, bagaimana jika Tuhan yang menyapa kita? Lewat tajalli-tajalli-Nya Dia menyapa, namun telinga kita tak mendengar karena kita sedang menikmati dunia."


Tahun 2020 akhir, kreatifitas si Jon mulai dilirik salah satu pejabat lembaga negara tingkat kota. Yang awalnya ia hanyalah sampah tak berharga di kubangan comberan, kini, kata pejabat itu, "Kamu ibarat mutiara yang aku ambil dari dalam lumpur,". Ada benarnya. Karena, bahkan, sebutir mutiara pun akan kehilangan dirinya sendiri ketika ia terlalu lama di dalam lumpur. Seseorang yang tak diperlakukan semestinya, pikirannya akan menciptakan kesadaran baru yang sangat mungkin berlawanan dengan dirinya yang sebenarnya. Ia mutiara, tapi yakin bahwa dirinya hanya batu kali biasa.


Dulu, Jon itu tipe orang yang ditolak dimana-mana. Mengemis kemana-mana, bukan untuk dirinya (yang memang sudah terlalu tahan dengan lapar dan kemiskinan), melainkan untuk sekolah yang sedang ia pimpin. Sampai pada satu momentum, ia memutuskan semua jerat keberharapan kepada dunia. Memutus bayangan-bayangan pelayanan dunia, apapun itu, darimanapun saja. Tidak sampai seperti Sayyidina Ali Kwh. yang mentalaq tiga pada dunia, si Jon hanya memutus semua harapan pada apa saja yang mungkin bisa membantunya, selain Tuhan. Ia putus asa terhadap dunia, tapi tidak pada Tuhannya.


Waktu masih remaja, Jon merasa sepertinya enak kalau jadi terkenal, dapat wanita cantik, kemana saja bisa pergi, mau beli apa saja mampu. Tapi menjelang dewasa, saat kuliah, dengan momentum menolak zina pada tiga perempuan yang berbeda, ia sadar. Betapa manusia itu ditakuti oleh hal-hal kecil, dikhawatirkan dengan hal-hal remeh, dibayangi rasa sakit dari hal-hal yang sementara. Ia memutuskan untuk hidup tak peduli dengan servis dari dunia. Ia tetap pada jalannya, dunia mau seburuk apapun padanya, yang terpenting adalah hatinya yang cenderung dalam kebersihan. Ia tak peduli seperti apapun orang-orang berebut materi, jabatan, ketenaran, karena kesenangan/kenyamanan membawa resiko yang sama besar. Bukan bagaimana dunia memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita mengelola kondisi hati agar tetap tenang, bersih, selamat : bi qolbin salim.


Ibarat atasan si Jon yang pejabat lembaga negara tadi, ia bukan PNS, bukan 'orang dalam', bukan keponakan pejabat X atau anak pejabat Z. Ia tukang, rewang, yang bahkan ketika dipanggil ke kantor, ia boleh masuk ruangan pak pejabat itu. Sangat kontras dengan tradisi bangsa kita saat ini yang mengandalkan 'orang dalam' kalau mau bertemu seorang pejabat. Tapi bagi si Jon, itu bukan apa-apa. Dunia baginya telah sekuat tenaga dibersihkan dari hatinya. Dunia boleh menyentuh hatinya, tapi tak boleh menetap lama-lama disana. Baginya, fenomena ia dekat dengan pejabat adalah seperti fenomena tajalli-tajalli-Nya. Ia bukan anak kyai, bukan anak ustadz, habib, atau bahkan ada nasab suci lainnya. Ia orang awam, kaum dari darah kotor, tapi tiap kali Tuhannya 'memanggil', tak mungkin ia menolak.


"Mengapa Engkau memperlihatkan banyak 'hal ini' kepadaku, Tuhan?" Tanyanya dulu waktu pertama-tama dalam kasyafnya.


"Engkau berjalan ke pantai, lalu melihat pasir, kerang, ombak dan karang, lalu bertanya, 'Mengapa aku melihat semua itu?', kau ini bagaimana?" Jawab-Nya.


"Tapi, bukankah Engkau tahu aku sudah tak berkehendak kemana-mana?"


"Maka kau harus pahami, bahwa perjalananmu itu adalah kehendak-Ku. Kau menolak Aku yang memperjalankanmu?"


Si Jon tertunduk menangis.


Tegal, Minggu, 9 Mei 2021



Post a Comment

0 Comments