Repotnya Bahagia di Jaman Ini

 Ramadlan (13)


"Pemahaman yang kurang tepat, ketika kita mengatakan Nabi Muhammad meneruskan risalah rasul-rasul sebelumnya. Lebih tepatnya adalah menyempurnakan, karena Nabi Muhammad sudah menjadi nabi ketika Adam masih berada di antara air dan tanah,"


Seharian di rumah, badan terasa sakit, mungkin tertular flu keponakan yang tidur di kamarku. Tapi sakit seperti apapun, hasrat untuk belajar serasa tak pernah padam. Satu-satunya yang paling membuat rindu untuk pulang ke rumah adalah di kamar itu buku-buku berbagai macam jenis menanti. Semacam teman yang tak akan marah ketika ditinggalkan, juga tak akan minta apa-apa saat kita selalu berdekatan. Dulu, waktu kuliah, kamar kost yang cuma 2x1 meter itu cuma diisi buku. Tidak ada kasur, lemari, hanya baju-baju yang ditumpuk, yang seringnya jadi bantal pas tidur. Ada komputer dipinjami teman, karena aku senang menulis dan mengerjakan skripsi di akhir semester. Benar-benar mahasiswa fakir. Hehe


Di salah satu bab penjelasan kitab Barzanzi, rasulullah itu sangat mencintai orang-orang faqir. Di antaranya adalah Abu Hurairah, yang makan dan hidupnya ditanggung nabi. Jaman ini agak repot memang jadi orang miskin. Dikira anti kemapanan, sok zuhud / hidup ala sufi, menyombongkan ketawaduan : dari mana kita tahu kalau misalnya memang sebenarnya miskin? Agak susah juga jaman sekarang merasakan kebahagiaan. Karena bahagianya kita, itu sikap menutup mata dari sekian banyak ketidakbahagiaan di sekitar kita. Apakah kau bisa makan-makan kenyang dan berpesta, jika saudara-saudara di dekatmu mengais sampah mencari sisa makanan? Sama halnya pesta-pesta pernikahan, mereka berbahagia di samping sekian banyak teman-temannya yang sulit dapat jodoh, atau bahkan gagal nikah. Tapi, tanpa begitu, ekonomi tidak akan jalan. Pesta dan kemeriahan begitu juga kan memberikan rejeki pada banyak orang. Jadi bagaimana? Ya sudah begitu, memang dunia adalah tempatnya kontradiksi.


Tidak harus kan kita mengikuti Nabi dalam hal-hal terberatnya? Nabi tidak makan sampai kenyang, tidak tidur lama-lama, suka berbagi, memberikan yang ia suka ke umatnya, tapi terdepan jika ada persoalan yang merepotkan umatnya. Karena yang dapat kita ikuti adalah hal-hal yang memang kita diberikan kemampuan untuk melakukannya. Jadi, kewajiban adalah tindakan yang kita diberikan kemampuan untuk melakukannya. Akan menjadi tidak wajib, jika kita tidak mampu melakukan itu. Berbeda lagi jika tidak mau, karena seringkali kita berlindung di balik kata : hidup ini pilihan. Sebab biasanya, kita pakai prinsip itu untuk menghindari apa yang wajib, yang seharusnya kita lakukan. Kita sayang, eman-eman, melepaskan kenyamanan yang kita miliki. Sedang sebenarnya, kenyamanan itu juga yang memberi adalah Tuhan.


Derajat keimanan tertinggi adalah untuk mereka yang telah merasa nyaman dalam perjuangan hidup yang tidak nyaman. Mengikuti nabi, bukan pada apa yang mampu dilakukan, melainkan kemauan dan kesiapan belajar agar mampu melakukan hal-hal yang nampaknya di luar kemampuan. Karena tidak ada yang lebih nikmat nantinya, ketika di akhirat kita mendapat 'lisensi' umatnya yang istiqomah. Mengikuti nabi, sebabak-belur apapun diri kita, selama itu adalah kebermanfaatan untuk banyak orang. Menjadi saksi, menyampaikan cinta semesta yang rasulullah bawa, di hadapan para nabi dan umat lainnya. Sebab, nabi Muhammad sudah menjadi nabi sebelum para nabi diberikan nubuwah. Bahwa risalah yang dibawa para rasul, dan nubuwah yang didapat para nabi, adalah risalah rasulullah Muhammad sebelum mewujud menjadi manusia. Itu mengapa, tiap nabi mengabarkan akan ada nabi akhir zaman, dengan masing-masing penjelasan sesuai kasyaf mereka.


Tegal, Minggu, 24 April 2021



Post a Comment

0 Comments