Pertarungan Abadi di Dalam Diri

 Ramadlan (14)


"Ruh dan Hawa (keinginan) berkompetisi, dan jasad adalah medan tempurnya. Seperti dunia, yang merupakan 'medan tempur' antara Tuhan dengan setan yang Dia ciptakan sendiri : manusia dan jin adalah pemainnya,"


Sains seperti alam semesta, itu terus berkembang, meluas. Akan sampai kemanakah itu? Sains tak bisa mencapai itu. Mana mungkin, yang terbatas mampu mengukur sesuatu yang terus meluas? 


Pertarungan manusia dengan setan yang menggoda diri, yang sebenarnya adalah 'hawa' (desakan keinginan), disebut 'cross inhibition' dalam sains. Proses ini mirip seperti animasi gambar kartun, ketika si setan dan malaikat yang menggoda di pundak kanan-kiri manusia. Misal, kita sedang memilih, mau makan di warteg atau di restoran padang. Maka pikiran akan langsung terbelah, antara kubu warteg dan padang. Hormon, zat, memori dan syaraf otak, antara warteg dan padang, itu bertarung saling mengalahkan. Tentu saja ini bergerak dengan sangat cepat. Akan makin lama, bertambahnya evidensi, bukti-bukti, data-data tentang pilihan itu. Maka makin rumit persoalan, harusnya makin lama pertimbangan yang dilakukan. Keputusan yang terburu-buru, diikuti penyesalan di depannya.


Itu contoh kecil, hanya sebatas makan di warteg atau di padang. Bagaimana jika itu urusan yang lebih kompleks : pernikahan, pemilu, atau bahkan yang berkaitan dengan Tuhan? Maka segala sesuatu di dunia ini melakukan pergerakan, dalam kata lain : perlawanan, persaingan/kompetisi, pertempuran. Termasuk Tuhan, dia membuat dunia ini, satu dari banyaknya jembatan yang harus dilalui manusia, selama masih ada hidup dan mati, akan terus ada pertempuran. Setidaknya antara kehendak Tuhan (ilham) dengan 'hawa' manusia. Rasa desakan, rong-rongan, teror keinginan, dari dalam diri yang terasa begitu menyiksa. Begitu juga jasad manusia, menjadi medan tempur antara ruh yang membawa kehendak-kehendak ilahiyah, dan hawa yang mendorong manusia menjauh dari apa yang dikehendaki Tuhan.


Makna ruhul qudus, maqom yang dicapai Nabi Isa, seperti halnya manusia ketika di awalnya (wa nafakhtu fiihi min ruhi), adalah derajat ketika hawa sudah benar-benar tunduk. Dan rasulullah saw, tidak mengajarkan itu untuk orang-orang awam seperti kita. Karena ketika telah sampai ke derajat Isa, apa saja yang ditiupnya akan hidup, disentuhnya bisa berbicara, seperti ketika ia menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, dan menyembuhkan orang buta.


Sama halnya dengan apa yang diinjak jibril, sebagai ruhul al amin. Ketika menjumpai Musa dengan penjelmaan manusia, Samiri memahami itu. Diambillah segenggam tanah yang diinjak jibril, yang kemudian dilemparkan tanah itu ke dalam pembakaran pembuatan patung emas anak sapi. Jadilah patung itu bisa bersuara, seakan berbicara pada kaum yahudi yang memang ingin Tuhan yang bisa dilihat mata. Orang-orang yang terlampau cerdas, tak sadar bahwa kecerdasannya bersumber dari hawa-nya. Itu berbahaya, karena bagaimana kita akan melawan hawa kita, jika diri kita ini menopang hidup padanya? Kalah bahkan sebelum bertanding.


Tegal, Minggu, 25 April 2021



Post a Comment

0 Comments