Empat Arah Godaan Setan (3)

 Ramadhan (10)


"Awalnya, mungkin kita akan merasa takjub, kemudian merasa minder, semacam perasaan 'mengapa aku diperlihatkan semua ini?'. Tapi pada akhirnya kita paham, bahwa apa saja yang Allah perlihatkan pada kita, itu adalah ujian dan hal remeh bagi-Nya,"


Arah godaan setan selanjutnya adalah dari sisi kanan. Seperti di tulisan sebelumnya, jika kita dimampukan oleh Allah mengatasi godaan dari depan, yaitu melawan 'hawa' dan nafsu-nafsu yang buruk, maka salah satu hadiahnya adalah pemahaman musyahadah, kasyafah, penyingkapan kegaiban, yang kita anggap sebagai ilmu sirr (rahasia) Allah. Dari musyahadah itu, jika pakai pengibaratan dariku, setan menduplikasi kasyaf-kasyaf yang kita saksikan saat kita di-mi'rajkan. Saat seseorang 'diangkat', mi'raj, menuju kesadaran yang lebih tinggi, ia akan diperlihatkan banyak hal yang bahkan setan tak mampu kesana. Lam yatmitshuna insun qoblahum wa la jann, manusia dan jin tak bisa kesana kecuali tidak dalam wujud itu, dan diperkenankan oleh-Nya. Lalu, kasyaf yang ia bawa ke kesadaran manusia akan diduplikasi oleh setan di dalam pikirannya. Diubah niatan-niatan dalam hatinya, tujuan hidupnya, digoda kemanfaatan dari kasyaf itu, dsb. Pelajaran paling masyhur adalah tentang Barsesho, seorang wali di jaman Nabi Musa. Musyahadahnya diduplikat, diubah niatan hatinya, lalu jatuhlah ia dihadapan nafsunya. Kita berdoa mudah-mudahan Allah menolong kita agar tidak seperti itu.


Hadiah yang Allah berikan ketika kita dimampukan Allah untuk lepas dari ujian itu adalah diperlihatkannya kekuatan Allah untuk mengalahkan semua kebatilan, baik itu yang dhohir ataupun batin. Dalam kitab Futuhatul Makkiyyah, Ibn Arabi mengibaratkan seperti menangnya Musa di hadapan para penyihir saat ditantang Fir'aun. Meski Musa juga sebenarnya kaget dengan tongkatnya yang bisa jadi ular besar (ini tanda mukjizat/karomah), karena ia sadar itu bukan kekuatannya.  Dan para penyihir juga sadar, bahwa apa yang dilakukan Musa bukanlah kekuatan Musa, dengan melihat rasa takut diwajahnya. Karena itu mereka beriman pada apa yang dibawa Musa, bukan mengkultuskan/mendewakan Musa (seperti penyihir-penyihir yang nampak hebat), melainkan iman kepada Allah dan apa yang diserukan Musa.


Pada awalnya, jika kita diperlihatkan sedikit kekuasaan Allah yang dirahasiakan dari banyak manusia, mungkin kita akan takjub, merasa hebat, merasa bangga, dsb. Dan jika kita tak berhenti disitu, terus belajar, maka kita akan jatuh pada perasaan malu. Mengapa aku layak mendapatkan 'ini'? Memangnya seberapa besar amalku? Seberapa bersih jiwaku? Dan jika kita terus berjalan, belajar, tak berhenti dengan musyahadah yang kita alami, maka kita akan jatuh para perasaan penghambaan total, ketundukan, ketaatan mutlak, bahwa kita ini hamba-Nya, apa saja yang kita saksikan itu bukan milik kita, dan bukan tentang kesucian jiwa kita, melainkan memang sifat rahman-Nya yang menjadikan kita ditolong untuk menyaksikan itu, dan terjaga dari godaan setan sisi kanan itu.


Tegal, Kamis, 22 April 2021



Post a Comment

0 Comments