Beratnya Jadi Kupu-kupu

 Ramadlan (12)


"Yang paling sakit dari pengalaman seekor ulat adalah ketika datang saatnya menjadi kepompong. Seperti ucapan biasanya : Bersihkan dirimu, atau Tuhan akan membersihkannya dengan cara yang kau tak menyukainya,"


Sabtu siang, takziyah ke rekan guru seperjuangan yang meninggal selepas buka puasa Jumat kemarin. Meski mempelajari banyak mempelajari tentang kematian, tetap saja ada rasa shock. Aku beli bukunya Seneca, salah satu tokoh Stoic, yang menjelaskan tentang persiapan kematian. "Mereka yang tak mempersiapkan kematiannya dengan baik, hidupnya pasti buruk sekali," tulisnya. Dalam buku itu ia bercerita tentang Julius Canus, seorang prajurit Caligula, yang divonis gantung. "Terima kasih atas kedermawanan Yang Mulia," katanya setelah divonis mati. Dia tidak melarikan diri meski tak dipenjara. Justru pagi sebelum dipanggil akan digantung, ia bermain catur dengan temannya (mungkin sambil ngopi, hehe), dan ketika pasukan datang, ia bilang pada temannya : Aku menghitung semua bidak, jangan curang, aku akan memenangkannya setelah hukuman ini.


Konyol ya?


Berapa kali aku tuliskan tentang kisah para yahudi tahanan Nazi di camp penjara. Satu yang unik cara membantai mereka adalah, dengan memasukan mereka ke dalam parit, dan menembaki dari atasnya. Apa yang unik? Rahib pemimpin yahudi itu, mengajak umatnya bernyanyi dan menari menyambut peluru dari pasukan Hitler itu. Pada mereka kematian bukan suatu hal yang menakutkan, melainkan memang pergantian tempat, hijrah, dan mereka yakin tempat baru itu lebih baik dari dunia ini. Seperti ketika Rumi menjelang ajal. "Mengapa kalian menangis, sedang sebentar lagi aku bertemu dengan pengantinku?" Katanya pada murid-muridnya. "Menarilah!" Ini menjadi dasar filosofis tarekat maulawiyah, dengan ciri khas tarian berputarnya.


Menjelang puasa kemarin, berapa kali pertanyaan kesiapan disampaikan padaku. Entah kesiapan mati atau kesiapan 'bermetamorfosis' dari kondisi yang saat ini. Bagiku sendiri, hidup atau mati, itu bukan urusanku. Menjadi urusanku adalah dalam kondisi apapun, aku ingin selalu melayani-Nya, mengikuti rasulullah apapun konsekuensinya. Beberapa minggu sebelum ramadlan aku tidur di masjid agung kabupaten, bukan nyari wangsit atau apa. Melainkan ikhtiar menyelamatkan subuhku. Sesederhana itu. Meskipun memang, saat subuhku selamat, kemudian pagi bekerja seperti biasanya, pulang kerja menyediakan waktu untuk melayani hamba-hamba-Nya, maka sisi-sis 'diriku' (kemanusiawian) akan makin hilang. Dan jika sisi itu makin hilang, apakah aku masih bisa disebut manusia hidup? Maka hidup dan mati sudah bukan persoalan lagi. Hidup dengan dasar gerak 'kebutuhan' saja (penjelasan lengkap ada di tulisan 'maqamul arba'ah'), orang-orang banyak yang menganggapku aneh. Bagaimana jika sisi ketaatan pada Tuhan dimaksimalkan, dan sisi-sisi yang disebut 'manusia' aku kurangi habis-habisan?


Ibarat ulat yang telah datang perintah bermetamorfosis. Kedatangan perintah itu saja sudah memberatkan, apalagi jika kita sedang asyik-asyiknya dengan dunia saat ini. Apalagi perintah harus 'memasuki' dirinya sendiri. Yang kemarin kulit, sekarang jadi kurungan, jadi penjara, karantina, dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat dinikmati ketika masih menjadi ulat. Seperti mati tadi, jika ulat menjadi kepompong dan kelak jadi kupu-kupu, dimanakah 'ulatnya' saat itu? Dan apakah ia masih bisa disebut ulat?


Tegal, Sabtu, 23 Juli 2021



Post a Comment

0 Comments