Sebelum Terciptanya 'Ada' (Time Before Being)

 


#Alif

Tidak ada jalan untuk seorang kekasih, selain selalu kembali kepada-Nya.

كنت كنزاً لا أعرف، فأحببت أن أعرف فخلقت خلقاً فعرفتهم بي فعرفوني
(Kuntu kanzan makhfiyyan, fa-aradtu an u‘rafa, fa-khalaqtu khalqa)

Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Ku ciptakan makhluk untuk memperkenalkan-Ku kepada mereka, maka merekapun mengenal-Ku. (Hadits Qudsi)

Di salah satu sesi diskusi ngopi bareng, seorang sahabat diperjalankan untuk bertanya tentang 'sangkan paran', asal mula keberadaan. Ini mungkin sedikit rumit untuk yang belum terbiasa membaca tulisan-tulisan saya yang lain di web ini.

"Mudah-mudahan memang malam ini rejeki kamu ya," saya bilang. "Entah ini tepat waktu atau bukan, berbahaya atau tidak buat kamu setelah mendengar ini, saya nggak tahu. Tapi kamu tanya, ya saya jawab,"

Sepemahaman saya, argumentasi tentang tauhid, mengenal Allah itu sangat penting. Selain agar kita tidak terjebak dalam debat teologis teoritis (karena memang itu wilayah subjektif personal), juga agar tidak bangga dengan pemahaman tentang ketuhanan setelah kita memahaminya. Untuk mereka yang sudah 'sampai' (maqom tertentu), pemahaman ini biasa saja.

Setidaknya, ada tiga tahapan umum manusia mengenal Tuhan. Pertama dan paling primitif, manusia mengira Tuhan adalah sosok raksasa berjubah putih di atas langit sana. Mengawasi dari sana, memberi pahala siapa yang baik, dan menyiksa siapa yang jahat. Pembaca pernah di posisi pemahaman yang ini? Yang sabar ya. Kita lanjut.

Kedua, ternyata Tuhan tidak sesederhana itu. Ada atau bahkan banyak, manusia baik yang hidupnya menderita, disiksa, bahkan mati muda. Lho, bagaimana ini? Katanya Tuhan maha adil, maha baik? Kita akan bahas tentang adil, kebaikan Tuhan di paragraf yang lain. Di tahap kedua, pemahaman kita akan dibenturkan dengan kenyataan bahwa Tuhan berada di dalam segala sesuatu (prinsip imanensi) dan meng-atasi segala sesuatu (prinsip transendensi). Dari sini muncul ungkapan Tuhan ada di mana-mana. Pemahaman yang ambigu ini, mau tak mau akan memaksa kita ke pemahaman tingkat ketiga.

Yaitu, bahwa yang ADA hanyalah Tuhan, dan jika kita ini ada, maka kita adalah Tuhan. Stop. Jangan dilanjut kalau pusing. Hehe

Kita pakai definisi 'ada' dalam batas : ada yaitu kekal dan tak berubah. Karena yang berubah itu terpengaruh waktu, dan Tuhan pasti tidak terpengaruh itu. Jika 'ada' berarti kekal dan tak berubah, maka manusia tak pernah ada (dalam definisi itu). Lalu, keberadaan kita ini apa? Nah, disinilah kita pakai konsep kenisbian, kemungkinan, mungkin kita ada, mungkin kita tak ada. Pusing yah? Jangan dilanjut kalau sudah bingung.

#Orbit dan Kordinat Alif

Tuhan adalah 'huruf' sebelum Alif. Dan Alif adalah Nur Muhammad, atau al qalam, atau la ilaha illa allah Muhammad ar rasulullah atau makhluk pertama yang diciptakan Allah. Kita pahami, ayat 'kholaqo', adalah ayat-ayat yang khusus, dan cenderung bukan konsumsi akal manusia untuk mengeksplorasinya. Maka tidak ada pertanyaan, bagaimana Allah menciptakan Nur Muhammad? Mengapa Allah yang tadinya tak ingin menciptakan kemudian berubah menjadi ingin menciptakan? Nah, sesat kan? Disanalah letak kordinat hadits nabi : pikirkanlah apa yang diciptakan, bukan Dzat yang menciptakan. Pikirkanlah semesta, pikirkanlah orbit dan kordinat huruf dari Alif sampai ya', bukan 'huruf' sebelum alif-nya. Paham ya?

Alif adalah al qalam, pena yang berjodoh dengan lauh al mahfudz, lembaran yang terjaga. Pena diperintahkan menulis, lalu alif itu melengkung, menjadi huruf ba (belum dengan 'titiknya'). Di sisi azali al qalam disimbolkan dengan alif dan ba, di kordinat jasadi, disimbolkan nun, yaitu Muhammad ibn Abdullah, tajjali dari al qalam. Jika al qalam diperintahkan menulis, maka tajjali-nya, yaitu Nabi Muhammad diperintahkan membaca (iqra). Ba titiknya di bawah, nun titiknya di atas. Ini simbol azali dan tajjali-nya al qalam. Maka, hanya sang nabi yang mampu bertemu dengan Tuhan di wilayah yang bahkan jibril tak mampu melewatinya. Karena itu adalah 'ruang khusus' Muhammad, yaitu tajjali menuju azalinya. Jadi, plis jangan bertanya, kenapa kenabian sudah berhenti, dan kenapa Muhammad menutup jalan manusia untuk menjadi nabi. Kebanyakan nonton sinetron, kalau pembaca punya pertanyaan seperti itu. Lho kenapa? Para nabi itu ibarat menaiki tangga-tangga langit. Dan anak tangga terakhir, semua nabi sadar diri, mereka tak mampu kesana. Yang mampu adalah seseorang dari keturunannya yang memang tajjali dari keazalian Nur Muhammad. Paham ya? Berkat cinta sang nabi-lah, kita umatnya dibuatkan jalan, dipersilahkan, siapa saja yang mampu silakan kesana, ke atas lauh al mahfudz yang dibatasi 7000 lapis langit, yang satu lapisnya berjarak seumur dimensi waktu, yang menjadikan apapun lenyap ketika memasukinya, termasuk cahaya Jibril.

Dari alif, Nur Muhammad, al qalam, terwujudlah lauh al mahfudz, lembaran skenario perjalanan semesta (termasuk serabut takdir manusia yang amat sangat rumit diceritakan dengan kata-kata), arsy, kursy, surga dan neraka, para malaikat dari derajat atas sampai bawah, dimensi waktu, dan jin. Kisah tentang jin, iblis, sampai Adam menjelang dikeluarkan dari surga, akan dibahas di tulisan kedua. Insyaallah.


Selasa malam, 1 September 2020

Post a Comment

0 Comments