Dua Suluh dalam Jiwa Manusia


 "Ada dua suluh (obor) di dalam jiwa manusia. Suluh pertama menyala menerangi dirinya sendiri, sedangkan suluh kedua menerangi banyak orang, atau bahkan semesta. Suluh pertama milikku telah padam dan mungkin tak bisa menyala lagi. Kau tahu sebabnya?"_Jon Q_


Sore itu Jon dan Beth yang baru pulang dari Jakarta berbincang di pinggir sungai. Seperti biasa, Beth juga pasti rindu diskusi-diskusi 'omong kosong' si Jon, sahabat dari mereka kecil.


"Menurutmu, setelah wabah ini selesai, dunia akan seperti kemarin, Jon?" Tanya Beth. "Sebelum corona datang?"


Ia menarik nafas panjang. "Aku nggak tahu," pandangannya ke langit. Entah sedang memikirkan apa.


"Nyatanya, meski wabah ini berlangsung lama, manusia tetap miskin rasa peduli, ya." Beth bertanya retoris.


Jon hanya mendengarkan.


"Kau sendiri, masih pedulikah dengan bangsamu ini, hem?" Kata Beth lagi.


"Selalu," jawab Jon lirih.


"Masih dengan hukum pesimistik terbalik buatanmu sendiri itu?" Tanya Beth lagi.


Pesimistik terbalik adalah semacam prinsip hidup yang terlihat dari penampilannya nampak putus asa, pesimis terhadap dunia. Tapi sebenarnya, dari dalam dirinya tersimpan energi besar untuk mengubah keadaan. Prinsip ini Jon 'temukan' saat kuliah semester 6.


"Iya," jawab Jon. Matanya terpejam. Air mukanya seakan ia sedang mendapat ujian berat lagi.


"Emm, masih terbebani dengan sekolahmu itu kah?" 


"Ah," Jon membuka matanya. "Bebannya bertambah, namun tekanannya berkurang,"


"Duh, filsafat lagi,"


"Kau tahu aku Beth," kata Jon. "Aku tidak peduli dengan hidupku sendiri. Tapi mereka, orang-orang yang tak pernah menyerah dalam keterbatasan, untuk mereka aku bertahan,"


"Apa kau tak pernah menilai, jangan-jangan masalahmu justru karena memang kau tak pernah peduli pada dirimu sendiri?"


"Aku mau cerita tentang suluh (obor)," Jon seakan tak menganggap sanggahan Beth,


"Suluh apa?" Tanya Beth.


"Di dalam diri manusia ada dua suluh yang menyala. Suluh pertama menerangi dirinya sendiri. Dan suluh kedua, bersinar menerangi manusia lain, atau bahkan dunia. Kau tahu aku Beth, suluh pertama dalam diriku ini telah lama padam, dan nyaris tak dapat dinyalakan lagi."


"Mmm.. Karena momen-momen terberatmu di 'penjara bambu' (maksudnya adalah sekolahnya si Jon) itu?"


"Bukan, bukan," jawab Jon. "Itu hanya menambah dingin suluh yang memang telah padam beberapa tahun sebelum itu,"


"Ah! Karena 'itu' ya?" Yang dimaksud Beth adalah kisah roman picisan si Jon saat menimba ilmu.


"Suluh itu padam, bukan karena mereka. Tapi karena memang itulah yang seharusnya terjadi. Menerima bahwa diri kita tak diterima keadaan. Terhina, tertuduh, bahkan tak dianggap ada,"


Beth menarik nafas panjang. "Yang tak dipahami banyak orang yang mengenalmu," Beth menanggapi. "Adalah sejumlah luka yang kau tutupi selama ini. Lima belas tahun aku mengenalmu, dan sejak itu pula kau terus menyembunyikan pedih luka yang kau terima. Meski itu bukan ulahmu sendiri,"


Jon tersenyum satire. "Kau yakin, aku mengharap orang-orang memahami luka-ku itu?"


Beth tertawa.


"Sebenarnya," lanjut Beth. "Apa tujuan hidupmu, Jon? Kebahagiaan versi-mu itu yang bagaimana? Mengapa kau seakan tak mau berhenti, keras kepala 'menolak takdir',"


"Takdir yang bagaimana yang kau maksud, Beth?" Jon menanggapi. "Apa tujuan hidupku? Kebahagiaan itu apa?" Pandangannya masih kosong ke arah langit. Mereka tiduran di atas rumput pinggir sungai.


Mereka terdiam. Hening. Seakan menikmati perbincangan dalam keheningan mereka masing-masing.


"Aku tak bisa melihat sisi nikmat hidup ini selain dalam perjuangan untuk umat nabi kita," Jon melanjutkan. "Kebahagiaan.... Ah, apakah itu harus didefinisikan? Aku akan terus berjalan, dengan atau tanpa teranggap ada oleh orang lain,"


Kamis, 17 Desember 2020

Post a Comment

0 Comments