Yang membuat hati berkarat

 Ramadhan (5)


"Seseorang yang di dalam dirinya tersimpan quran (hafalan, tadabur, pengamalan), dan ia tak terpengaruh, tak peduli dengan cahaya yang Allah pancarkan darinya, hidupnya sudah tuntas."


Ada kesan aneh tiap membaca buku futuhatul makkiyyah. Buku jilid ke-2 aku bawa ke Bandung. Sekedar buat menemani waktu, karena disini, aku istirahat total. Bahkan mencuci baju atau piring pun dilarang oleh mertua. Enak atau gimana menurutmu?hehe


Kesan aneh itu adalah, seakan aku sudah diajari lebih dulu, dan saat membaca seakan bertemu. Seolah ada perasaan : kok ini yang dulu diajarin, ya? Alhamdulillah, ternyata aku nggak sesat-sesat banget. 😂


Ada dua jenis penjelasan dari Allah, baik lewat para pasukan langit, atau dari material inderawi. Ada yang namanya penjelasan burhani, yaitu argumentasi yang diajarkan pada kita tentang segala sesuatu. Kita tiba-tiba mampu menjelaskan dengan gamblang, bertahap, runtut, tentang sesuatu yang tidak berlawan dengan ilmu ilmiah, atau bahkan melampaui keilmiahan saat ini, yang itu tidak diajari seorang guru, ataupun buku. Kedua, penjelasan kasyafi. Yaitu tentang penyingkapan segala sesuatu, melihat kekuasaan Allah, apapun itu, yang terkadang membuat diri kita takjub, terkadang justru hanya timbul perasaan malu. Semacam perasaan : kok orang macam kita ini diperbolehkan 'melihat ini'? Berbeda dengan penjelasan burhani, yang runtut dan jelas. Kasyafi justru sangat sulit untuk dibahasakan dengan redaksi ilmiah. Paling pol, bisa diceritakan dalam kiasan, puisi, atau kisah-kisah setengah khayal.


Sore ini, aku diberitahu tentang apa itu ilmu yang sebenarnya. Tentang yang membuat hati berkarat, kotor, tertutupi. Tentang konsep 'lingkaran pikiran' yang tahun 2019 lalu aku tulis dalam keadaan 'mabuk'. Ilmu yang sebenarnya bukanlah tentang apa yang kita dapatkan lewat indera, akal, pikiran, atau segala sesuatu yang bahkan disepakati masyarakat. Ilmu adalah pencapaian keterangan sebenarnya dari segala sesuatu. Dan untuk sampai itu, manusia tak bisa menggunakan indera dan akalnya. Seperti konsep 'lingkaran pikiran', ilmu hanya dapat kita capai ketika kita sudah tak terpengaruh dengan lingkaran pikiran kita sendiri.


Kondisi ketika ilmu telah sampai pada seseorang, seperti Khidir dan Ashif (dua hamba Allah di quran), akal yang tadinya sebagai pengolah data/informasi, kini hanya berfungsi sebagai wadah penampung ilmu yang didatangkan bukan dari diri sendiri. Semesta berbicara, hidup bersama, dan saling menjelaskan segala sesuatu yang menyambung pada Allah. Nah, definisi inilah yang disebut ilmu. Segala penjelasan, detail ataupun kiasan, yang tersambung sampai ke Allah : itulah ilmu. Semesta ini hanyalah ayat, tanda, anak-anak tangga, tetenger, untuk mencapai ilmu yang nantinya justru Allah sendiri yang akan mengantarkannya pada hatimu.


Lalu, kondisi bagaimana hati yang mampu mencapai itu?


Dua hal yang menjadikan hati berkarat, kotor, tertutup. Awalnya, aku kira semacam keburukan sifat. Keraguan pada Allah, kesedihan, kebodohan, dendam, amarah, hawa dan nafsu yang buruk, dsb. Tapi ternyata bukan. Hal paling parah yang dapat menjadikan hati manusia tertutup dari cahaya Allah adalah keyakinan ada ilmu selain segala sesuatu yang menjadikan dirimu kembali pada-Nya. Hal paling bahaya, bersandar pada sesuatu yang sekunder. Pada indera, akal, dan ilmu yang justru didapatkan dengan dua hal itu. Dan cara untuk membersihkan karat, 'takha' (penutup hati), kotornya hati, adalah dzikir dan tilawah (tadarus, tadabur quran). Maka mulailah dzikirmu, bukan untuk membersihkan hati, tapi justru memuji dan memuja Allah. Menunjukan kebergantungan mutlak pada-Nya, membuktikan kebutuhan primer yang sangat mendasar (fundamental) kepada-Nya. Hati yang di dalamnya tersimpan quran (hafalan, tadabur, pengamalan), dan ia tak bergantung pada itu, merasa biasa saja dengan itu, ia hanya semakin bergantung pada Allah, hidupnya dunia akhirat sudah tuntas.


Sabtu, 17 April 2021 Kota Bandung

Post a Comment

0 Comments