Ulat yang malas

 Ramadhan (1)

"Pikiran orang beriman harus memanjang. Agar ketika akan melakukan sesuatu, seolah-olah dia sudah melihat apa yang Tuhan akan balas dari tindakannya itu. Amana billah wal yaumil akhir..."


Sehari sebelum ramadhan, diundang sebuah sekolah besar di Semarang. Memasuki bulan April makin terasa, betapa hati ini sudah enggan menerima khayalan-khayalan dari pikiran. Tidak ada bayangan apapun, kecuali datang dan berbagi ilmu disana. Sebelum pulang, kami diajak makan di sebuah restoran. Mengobrol banyak hal. Di perjalanan pulang setelah itu, entah mengapa seakan ada desakan pikiran untuk bersyukur. Bukan tentang makan-makan tadi, melainkan semacam 'khatir' (bayangan yang nampak jelas oleh jiwa), tak mungkin aku mengalamo takdir ini - perjuangan totalitas, jika saja Tuhan justru memilihkan jalan untukku seperti mereka. Bekerja di tempat besar, dan urusan finansial cenderung telah selesai. Sangat mungkin aku tak akan mendapatkan berbagai nikmat yang bahkan tak dapat dibeli dengan uang. Nikmat apa itu?


Allah bilang lewat lisan kekasih-Nya, Rasulullah, bahwa Dia turun ke langit dunia setiap ⅓ malam terakhir. Siapa yang berdoa akan dikabulkan, yang meminta akan diberi, yang bertobat akan diterima, yang memohon ampun akan diampuni. Dan tahukah kita berapa malaikat dan ruh yang mengiringi-Nya? Lalu, apakah hanya di malam ramadhan? Malam pertama ramadhan penglihatan akan itu tersingkap. Betapa bodohnya diri ini. Ramadhan digulirkan untuk mereka yang beriman, namun enggan meniti jalan berat di tiap bulan, minggu, hari, di tiap waktu. Seakan dibully : Lu juga mengira cuma bulan ini yang 'seperti itu' (penjelasan Allah datang), Jon? Bodoh benar aku ini.


Dan tentang perjalanan ke timur itu, seakan ada perasaan yang berbeda. Mengapa aku terus merasa berhak mendapat uang dari perjalanan kesana? Bukankah rejeki dari Allah lebih baik, dan kau tahu persis itu? Hari pertama ini, makin nampak kedaruratan hatiku yang harus segera dibersihkan dari khayalan-khayalan servis dari dunia. Tak ada gugatan dalam rasa, dan gugatan dalam pikiran yang tanpa ilmu adalah omong kosong, tak usah dipedulikan. Betapa recehnya ternyata hati ini. Benar-benar masih di derajat ulat dengan kebiasaan malasnya. Apakah sebulan ini benar-benar akan bermetamorfosis?


Selasa, 13 April 2021 setelah berbuka puasa

Post a Comment

0 Comments