The Hiden Narsistik

 Selasa, 19 Januari 2021


"Untuk menutupi kesedihan dan rasa bersalah, seseorang membutuhkan tempat pelampiasan. Untuk ia marahi, ia benci, ia jadikan muara dari semua perasaan buruk dari dalam dirinya. Narsistik Tersembunyi," (Narsistik Tersembunyi, syndrome penyakit jiwa)


Pertanyaanku masih sama, "What's this world?" Dunia ini apa? Setiap orang berlomba mencapai sesuatu yang pada akhirnya dengan sekuat tenaga ia pertahankan. Apa yang manusia cari? Apakah harus mencapai sesuatu itu jalan satu-satunya untuk menggapai yang ia cari? Tidakkah melelahkan, mengejar sesuatu yang pada akhirnya kita juga-lah yang harus menjaga itu?


Lalu, dunia macam apa yang kau inginkan, Jon?


Tuhan telah menunjukkan jalannya padaku, tapi aku tak mau mengikuti apa yang aku inginkan. Karena, tidak ada yang dunia bawa selain rasa kecewa, ketidaksempurnaan yang menyelimutinya. Harus berapa kali kita merasa terjebak oleh diri kita sendiri ketika menginginkan sesuatu? Apakah kurang teguran-teguran itu? Apakah kurang ayat-ayat-Ku padamu?


Setiap malam, aku harus menerima kemungkinan hari esok yang seperti kemarin. Bangun kesiangan, terlambat subuh, lalu mandi dan berangkat kerja seperti tak ada yang harus diperbaiki. Tidur dengan perasaan putus asa, hari esok akan seperti biasanya.


Lalu, kau ingin hidupmu seperti apa?


Ada orang-orang, sedikit orang, yang hidupnya sudah bukan untuk dirinya sendiri. Atau sebagian besar hidupnya, bukanlah tentang dirinya sendiri. Orang ini bertahan hidup untuk orang lain, untuk banyak manusia. Betapa putus asanya. Jika manusia sudah tak membutuhkannya? Kok seakan mau didikte oleh sesama makhluk. Seakan mereka yang membekali hidupnya saja.


Tadi siang sudah dimulai, sinau bareng guru-guru. Gedung belakang sedang dibongkar. Guru-guru merasa bingung dengan keadaan kelas itu. Keramiknya mau dikemanakan? Ah, sudahlah. Itu semacam pembelajaran filsafat kelas tinggi. Baik kelas absurd itu atau dunia, toh bukan kita kan yang menyediakannya? Kok repot. Ketika disalahkan, yang dibetulkan. Minta maaf, diperbaiki yang salah. Kalau pun kesalahan itu terkait hukum, paling pol penjara atau hukum mati kan? Tak usah terlalu baper lah. Biasa saja.


Apa yang menjadikan manusia begitu bodoh? Yang menjadikan manusia berpaling dari kebenaran, bahwa perhitungan/rencana yang tak matang atau buru-buru hanya akan merugikannya? Merasa kuat dengan kebangkitan dari kegagalan? Mengapa tak kita gunakan energi kebangkitan itu di awal, saat masih melakukan perhitungan? Kok kita bodoh sih, merasa Tuhan memberikan kita untuk bangkit? Lah terus waktu menghitung dulu ketika belum gagal itu energi dari siapa? Tuhan memberi kita energi untuk menjatuhkan kita, lalu memberi lagi untuk membangkitkan kita? Hidup yang begitu apa tidak capek?


Post a Comment

0 Comments