Predikat Dunia dan Ekor-ekornya

Segala predikat dunia ada ekor-ekornya. Apapun. Kekayaan, ilmu, titel pendidikan, jabatan, jaringan, kemewahan, keturunan, kesehatan, bahkan kemiskinan, kebodohan, kemalasan, everything. Dan kali ini, saya akan bercerita tentang ekor predikat dunia yang bernama : keangkuhan. Lah, kemiskinan memang ada keangkuhannya? Ada. Atau, apa pasti yang disebut keangkuhan itu adalah sebuah keburukan? Tidak selalu. Tidak ada satu hal pun, baik itu yang konkret atau abstrak, yang sia-sia diciptakan. Termasuk, keangkuhan. Ada manfaat dalam setiap segala sesuatu. Baik, kita mulai.


Banyak orang (setidaknya disini, di desa saya) yang merasa tersinggung, atau bahkan marah, ketika saya tersenyum atau bahkan tertawa saat mereka sedang berbicara. Mereka bilang, itu meremehkan/tidak menghargai orang yang sedang berbicara. Tentu saja, tidak setiap orang yang sedang berbicara saya pasti tersenyum/tertawa. Gila itu namanya. Kenthir. Orang tersenyum atau bahkan tertawa pasti karena ada yang lucu. Tidak mungkin tidak ada yang lucu, lalu kita tertawa. Atau, sedang dalam keadaan serius atau bahkan sedih, kita malah tertawa. Itu juga sama : kenthir. Persoalan ukuran kelucuan sesuatu itu tiap orang beda, itu lain hal lagi. Tapi kita sepakat, bahwa orang tertawa itu karena ada yang lucu. Sepakat ya?


Banyak orang lebih sering tak benar-benar paham dengan apa yang dibicarakan. Ada satu cerita, ketika Mbah Maimoen Zubair (Mbah Mun) mengantar ziarah wali songo. Bus ketika itu mau menanjak, sepertinya ke sunan muria atau pokoknya ke daerah tinggi. Tapi ternyata di tengah tanjakan, bis 'jetlag', rem mendadak, kaget semua penumpang. Sebagian besar berdzikir, bersholawat, karena takut bus itu terguling. Tapi ada satu jamaah yang santuy, serasa tak ada masalah. Ketika Mbah Moen bertanya, "Kamu kok nggak khawatir bis ini jatuh atau gimana?"


Jawab penumpang itu apa?


"Lah, Mbah, wez onok sing ngurusi. Supir," kan sudah ada yang memikirkan itu, Mbah. Yaitu supir. Kenapa saya mesti pikir pusing juga?


Nggak lucu ya? Hehe


Itu seperti ketika orang-orang begitu serius membahas kabar berita di televisi. Atau ngerumpi omong kosong tentang sinetron telenovela yang itu-itu saja. Tapi mereka begitu serius, seakan semua persoalan dunia akhiratnya sudah tuntas. Bagaimana saya tidak tertawa ketika melihat itu? Orang kok seakan selalu merasa paling tahu, paling benar, sehingga mudah menghakimi, mengomentari apapun, ketika melihat sesuatu di luar dirinya yang nampak kacau. Ya, seperti penumpang bis tadi.


Sudah menemukan, keangkuhannya dimana? Belum ya? Baik, saya lanjutkan.


Banyak orang yang pintar mengomentari, menghakimi, atau dalam kadar yang sangat buruk, mereka marah, dengan semua yang nampak tak ideal di depan matanya. Sedangkan, sekali lagi, keilmuan kita bisa saja sangat minim untuk mengomentari, atau bahkan menghakimi sesuatu itu.


Misal.


Ada seorang bapak baru pulang sholat. Sorbannya masih melingkar di lehernya. Pecinya putih, bajunya wangi, seakan baru bersalaman dengan malaikat Jibril saat sholat tadi. Tapi ketika masuk rumah, dalam kondisi lapar, makanan belum disajikan, marahlah dia. Mengomentari, memarahi istrinya, memarahi anaknya, mengungkit-ungkit pemberian uang belanjanya, dsb. Waduh, repot. Seakan sholatnya tadi menguap begitu saja. Sholatnya tidak meresap ke jiwa. Seakan orang akan menyalahkan ibadahnya, sholatnya. Sedangkan yang menjadi titik picu fenomena tersebut adalah keangkuhan, ekor dari predikat dunia, yaitu ibadah.


Ibadah juga bisa menimbulkan keangkuhan. Seakan Tuhan bersamanya, malaikat mengiringnya, pahala selalu ada di kantong sarungnya. Keangkuhan inilah yang menjadikan mereka yang membenci agama, semakin yakin agama adalah problem. Sedang sebenarnya, segala predikat dunia itu memiliki ekornya masing-masing. Dan keangkuhan, adalah salah satu ekor itu.


Post a Comment

0 Comments