Masalah yang sebenarnya

 Menjelang Isya hari minggu tanggal 24 Januari 2021, dada tiba-tiba serasa dipukul. Sesaat sesak nafas, lalu batuk-batuk, dan ternyata keluar lendir berdarah. Keluar rumah, batuk muntah darah lagi, di jalan menuju mushola, batuk darah lagi, ending saat wudhu. Muntah darah entah berapa banyak, mungkin ¼ liter. Banyak sekali.


Dari tahun 2017, saat didiagnosa TBC dan asam urat (dan setelah di tes ternyata normal), aku banyak melakukan riset mandiri. Termasuk tentang pernafasan, baik biologi, psikologi, ataupun klenik. Kita tak mungkin menyesali apa yang terjadi, apalagi protes pada Tuhan. Kita paham betul hadits 'pengusiran dari langit Allah'. Tanpa gejala apapun, tanpa lemas, kepala pusing, dsb, aku batuk darah parah. Terus apa itu? Apapun itu, selama itu tak mengganggu kemesraan hati kita pada Allah dan rasulullah, jangan jadikan itu sebuah masalah. Karena masalah hidup kita yang sebenarnya adalah ketika kita melupakan Allah dan rasulullah, dan lebih hina lagi ternyata demi dunia kita melupakan-Nya. Kacau.


Seminggu sebelum itu, ba'da maghrib aku dipanggil kakakku yang itu. Dia ngasih duit 15juta buat akomodasi bawa istri dan anak kesini. Rencana awal, aku gak akan pakai itu uang. Sakit pikirannya masih tetap. The hiden narsistic, narsistik tersembunyi. Menampakan kebaikan pada orang-orang yang sebenarnya tidak butuh dikasihani olehnya. Ketika menolak ia akan marah, dan setelah diberi dia akan mengungkit-ngungkitnya suatu saat.


Dia bilang sedang melakukan amalan buat 'mengerjai' orang. Meskipun aku sebenarnya gak peduli, tapi aku merasakan 'gempa pikiran' (perasaan gempa tapi dalam pikiran), seperti dulu saat menemani orang yang kena sihir. Entah itu ulah jin, atau aku yang terlalu halu. Mbuh.


Hari rabu kemarin ada launching kegiatan kemenag kota. Mengundang wali kota, tapi tak bisa hadir karena ada rapat di DPRD. Di kantor itu, aku dimintai tolong untuk mengurus masalah teknologi dan informasi digital. Rapat bersama para ASN dan pejabat. Kontras, orang desa berpenampilang kampungan di samping kepala kantor. Alhamdulillah acara lancar.


Tadi jam 2 ke kota. Teman SMP ada yang minta dibeliin tetes tebu buat ternaknya. Dia montir ahli, kalau aku servis motor gak pernah mau dibayar. Sebagai gantinya ya begini, melayani beli molase/tetes tebu pakai motor jupul.


Di perjalanan, lewat samping gedung PPIB, langit di atas laut gelap sekali. Aku tanya dalam diri : tidakkah kalian (angin, awan, langit) juga hamba Allah? Jika kalian hujan, tidakkah kalian mengerti di bawah hujanmu ada orang beriman yang sedang mengais rezeki?


Jawaban terdengar.


Jika hujan ku turunkan (kata awan), dan di bawahku ada orang-orang beriman yang sedang mengais rezeki, maka (hujan) itu mengandung rahmat dan berkah. Terlepas rahmat yang mereka dapat itu adalah kenikmatan dunia atau akhirat, Tuhan kita lebih tahu apa yang layak untuk hamba-hamba-Nya. Dan jika ku turunkan hujan pada mereka yang berdosa, itu sebagai musibah sekaligus penyucian jiwa untuknya. Robbana ma kholaqta hadza bathila.


Kamis, 28 Januari 2021



Post a Comment

0 Comments