Hidup di-skakmat banyak sisi

"Jika di depanmu jurang, di belakangmu ada harimau yang lapar, dan di pohon dekatmu dipenuhi ular berbisa, kemanakah kau akan lari?"_Jon Q_


Jangan remehkan siapapun. Karena setiap orang, bisa jadi, memiliki beban hidup yang berat, yang bahkan memikirkan itupun kita enggan. Kerumunan semut mati tersiram air panas dari muntahan wadahnya. Manusia yang menumpahkannya meminta maaf, meski tentu mereka tak bisa saling berbicara. 


"Maafkan aku telah membunuh kalian," kata manusia.


"Tak apa. Sudah konsekuensi hidup kami begini. Seperti manusia yang memang konsekuensi hidupnya bertarung dengan persoalan-persoalan rumit," jawab semut.


Si Jon memang rumit. Di rumahnya, tepatnya di kamarnya, itu sudah beratap terpal. Kapan saja bisa roboh, menimpa si Jon yang memang sudah gepeng tubuhnya. Tapi dia tak bisa meninggalkan rumah itu, bukan karena tak punya uang buat nge-kost, tapi orangtuanya kurang ridho dia tinggal jauh dari mereka. Jadi? Ya pasrah. Total. Mau roboh atau apa, biarlah terjadi. Toh tubuhnya juga sudah gepeng, jadi tak masalah tertimpa atap juga.


Di sekolahnya, dia tak punya gedung, tak punya ruangan. Gedung bambu sudah dirobohkan, gedung baru permanen tak boleh ia rapikan sendiri. Kalau ada tamu, guru pada bingung mau duduk dimana. Karena guru dan kepala sekolah satu ruangan, empel-empelan, dan masih dikhawatirkan kebanjiran. Bagaimana dia bisa kerja atau sekedar mengerjakan tugas administrasi? Di rumah. Dan dilihat oleh orang-orang sebagai kepala sekolah pemalas. Karena tiap hari di rumah terus.


Istri Jon itu di luar kota. Ikut orangtuanya. Dibawa ke kampungnya belum bisa, karena memang disana dia jadi pelipur lara (bersama anak mereka), di kampung, si Jon harus ngempet syahwat agar tidak dilampiaskan disalah tempat. Ke kambing tetangga misal. Sedang perjalanan ke tempat istrinya 6 jam perjalanan. Keburu syahwatnya hilang di tengah jalan. Di kampung dia tegang, eh, pas sampai istri, dia loyo. Kasihan benar.


Di yayasan sekolahnya, dia merangkap sekretaris yayasan. Tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena idealisme musyawarahnya selalu berlawanan dengan prinsip totaliter kakaknya. Jika terdesak, kakaknya akan menghasud orangtua mereka, bahwa Jon seenaknya sendiri, tak taat aturan, sok pintar pangkal kerajinan. Sedangkan aturan kedinasan itu tak bisa menunggu, harus diselesaikan, bersinergi dengan para guru. Merapikan tak bisa, dari atas terus menekan. Jadi wajar, tubuhnya makin gepeng tak karuan.


Tapi dia juga tak bisa mengundurkan diri. Karena peradaban yang sedang dibangun itu, bisa jadi runtuh sebelum tumbuh. Maju tak bisa, mundur juga bukan pilihan. Mestinya kan dia sudah stress berat hidup dalam tekanan begitu. Tapi katanya....


"Jika di depanmu jurang, di belakangmu ada harimau yang lapar, dan di pohon dekatmu adalah sarang ular berbisa, kemanakah kau akan lari?" kata Jon suatu saat.


Apa solusimu?


"Kagebunshin no jutsu," Jon bercanda. "Jika kau mengalami persoalan yang akal dan pengalamanmu tak mampu memecahkan itu, jangan repot-repot. Bertahanlah. Tuhan yang akan mengurus itu semua."


Jumat, 9 April 2021



Post a Comment

0 Comments