Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wujud Zat Ke-5 (Kelima) [Bagian 2]

 Wujud Zat Ke-5 (Bagian 2)


"Manusia memang cenderung sombong. Saat sang nabi mengatakan, tidak ada satu pun umatnya yang tersisa di neraka (semua masuk surga) itu bukan hanya untuk manusia saja. Tetapi juga jin (apapun bentuknya), hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain zaman ini yang bukan dari golongan itu semua,"


"Beda," jawab Jon. "Jin itu wujud sebenarnya, sedang penampakan itu baju, kostum, yang mereka buat dari gabungan energi mereka dan daya khayal manusia,"


"Gabungan energi dan daya khayal manusia?" Tanya Joan lagi. 


"Iya," kata Jon. "Mereka (golongan jin kafir dan fasik) juga melakukan semacam riset. Bukan cuma mencari ribuan cara untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk mengikutinya, tetapi juga semacam mengembangkan teknologi-teknologi, salah satunya kekuatan menggabungkan energi mereka dengan daya khayal manusia,"


"Itu mengapa di setiap negara penampakan makhluk astralnya beda-beda?" Tanya Joan sambil tertawa kecil. Mungkin mengkhayal tentang pocong berkimono di Jepang, atau Mumi berkostum batik di Jawa. 


"Iya," jawab Jon pendek.


"Tapi, sebenarnya, (penampakan) itu ilusi atau delusi, apa memang jin yang memakai kostum materi dari energi tadi?" Tanya Joan lagi.


"Agak susah memastikannya," kata Jon. "Maksudku begini, jin kan ada empat wilayah (tentang ini ada di tulisan berjudul 'strategi setan'). Mereka yang berhalusinasi, juga ulah jin-jin (setan) tapi di wilayah memori otak manusia. Tapi kan ini nggak bisa diriset pakai ujilab." Jon tertawa. "Nah, penampakan yang sampai mewujud ke alam materi itu kelanjutan dari delusi. Semacam kerja sama antara setan dari otak manusia, dan setan yang mengumpulkan energi juga kekuatan, dari luar diri kita. Mudahnya, otak kita dirusak dulu biar memunculkan proyeksi/gambaran penampakan, lalu di depan pandangan mata disiapkan wadahnya."


"Itu mengapa Mas sebut sebagai, semacam teknologi setan dan gabungan antara energi juga daya khayal kita?"


"Iya,"


"Tapi, bagaimana bisa dari plasma (wujud zat ke-4), yang hanya berupa kilatan-kilatan api," Joan meneruskan. "Bisa mewujud jadi materi atau wujud zat padat?"


"Aku rasa itu lebih mudah," jawab Jon. "Api, ketika didinginkan, akan membeku. Karena disana ada oksigen dan sumber bahan bakar yang menjadikannya bisa berkobar. Yang lebih sulit dipahami adalah bagaimana wujud zat kelima, cahaya, bermetamorfosis menjadi zat padat,"


Joan tertawa,"Iya yah, bagaimana bisa cahaya menjadi materi?"


"Dalam sains (Einstein dan Thomas Young), cahaya berupa partikel sekaligus gelombang." Jon melanjutkan. "Di fisika kuantum, ada pernyataan 'pikiran membentuk realitas'. Sedangkan menurutku, itu konteksnya materi. Kamu mau masak sayur asem, kan dipikirkan dulu tuh. Terus baru dicatat resep, bumbu, dan sebagainya. Baru jadi sayur asem. Begitu juga dengan teknologi-teknologi yang saat ini,"


Joan mendengarkan. Kumandang adzan Isya sayup-sayup mulai terdengar.


"Wujud zat kelima, bukan pikiran membentuk realitas, tapi kesadaran membentuk realitas. Bukan 'Aku berpikir, maka aku ada' (Rene Descartes), tapi 'Aku ada, karena sesuatu menyadari keberadaanku'." Teori-teori si Jon memang bikin puyeng. "Misal begini, kita berdiri di tengah-tengah lapangan. Selama orang-orang tak menyadari, tak menganggap kita ada, maka kita tak bisa menganggap diri kita ada. Keberadaan kita itu membutuhkan kasadaran lain yang sama, atau dalam konteks wujud zat kelima ini, kesadaran lain yang lebih tinggi,"


Joan melongo. Agak nge-lag pikirannya buat memahami itu.


"Nah, kesadaran yang lebih tinggi itu, paling tinggi adalah Tuhan," Jon melanjutkan. "Yang pertama diciptakan Allah kan Nur Muhammad, berupa cahaya awal. Nah, yang mampu manusia capai dengan akalnya, dari data yang rasulullah berikan, dari qur'an dan hadits, bahwa kita semua, termasuk semesta itu tercipta dari partikel Nur Muhammad. Dari kesadaran beliau dalam wujud cahaya, keberadaan kita dimungkinkan ada,"


"Ah, itu jembatannya ya?" Tanya Joan seakan memahami sesuatu.


"Jembatan apa?" Tanya Jon balik.


"Bahwa Allah bilang, jika tidak ada Nur Muhammad, maka semesta juga tidak ada?" Lanjut Joan. "Dan hadits qudsi, 'Aku (Allah).adalah khazanah tersembunyi, dan karena itulah Ku ciptakan semesta agar mengenal-Ku?"


"Hehehe," Jon tertawa, merasa istrinya sudah agak paham. "Nabi dan rasul diutus untuk mengenalkan Allah pada manusia. Maka bersholawatlah, sebagai dara cinta kita pada sang nabi. Karena, Saat sang nabi mengatakan, tidak ada satu pun umatnya yang tersisa di neraka (semua masuk surga) itu bukan hanya untuk manusia saja. Tetapi juga jin (apapun bentuknya), hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain zaman ini yang bukan dari golongan itu semua,"


"Allahuma sholli ala sayyidina muhammad wa 'ala alaih,"


Mereka berdua berdiri, melanjutkan sholat isya setelah berbincang tentang wujud zat kelima, cahaya, dari setelah sholat maghrib. 


Tegal, 4 April 2021

Post a Comment for "Wujud Zat Ke-5 (Kelima) [Bagian 2]"

Berlangganan via Email