Tiga (3) dimensi waktu

 Ramadhan (2)


"Untuk apa kitab yang kita terima dengan tangan kanan atau kiri di akhirat nanti?"


Tidak ada satu pun ayat yang Tuhan katakan (dalam quran), kecuali itu benar-benar ada dan nyata. Kali ini, aku akan berkisah tentang tiga (3) skala waktu semesta. Skala waktu semesta materi, yang akan diwakili oleh prinsip waktu newton. Skala waktu semesta jiwa, yang akan diwakili oleh einstein. Dan skala waktu semesta ruh, yang akan diwakili oleh Jon Quixote. Yang terakhir ini bercanda.


Pertama, kita akan bahas semesta waktu (sedikit) dari disiplin dimensi waktu menurut Newton. Singkatnya, dia menganalogikan waktu seperti rel kereta yang memanjang dari masa lalu ke masa depan. Dari angka 1 ke angka 10, dan dari 10 tak bisa ke angka 1 lagi. Kita di tahun 2021, dan kita tak bisa kembali ke masa lalu, atau bahkan pergi ke masa depan lebih dulu daripada orang-orang lain. Kita kesampingkan dulu serial kartun doraemon ya.


Apa yang Newton rumuskan adalah dimensi waktu semesta materi. Bumi, planet-planet, bintang, memiliki putaran waktu yang statis dan tak bisa mengulang ataupun dipercepat. Dalam ayat 'wakhtilafil layla wa nahar', dalam pergantian siang dan malam. Ini, adalah dasar tiap planet dalam menghitung satuan waktunya. Dalam konteks bumi, sehari terjadi ±24 jam. Tidak bisa dipercepat, ataupun diperlambat.


Disiplin semesta waktu menurut Einstein lebih revolusioner. Bahwa dalam wujud materi yang lain, yang lebih kecil, manusia bisa memasuki dimensi waktu jiwa. Dapat melakukan perjalanan ke masa lalu, juga ke masa depan. Jika Newton mengibaratkan waktu seperti rel kereta, Einstein mengibaratkannya seperti angka delapan (∞ ). Dari masa lalu bisa ke masa depan, begitupun sebaliknya, jika kita mengubah wujud materi kita ke bentuk lain dan melakukan pergerakan dengan kecepatan cahaya dikuadratkan (E=m.c²). Dalam wujud energi, kita bisa melakukan perjalanan ke masa lalu, atau masa depan, lalu di sana mengubah diri kita lagi ke wujud materi. Dalam qur'an, ini adalah skala waktu sehari hitungan prinsip waktu menurut Einstein, sama dengan ( = ) 1000 - 50.000 tahun ukuran waktu menurut Newton. 'Wa inna yauman inda robbika ka-alfisanatin mimma ta'uddun', sehari di sisi-Nya setara dengan 1000 tahun menurut perhitunganmu.


Kemungkinan kita bisa ke masa lalu, nyaris runtuh dengan pertanyaan : jika aku ke masa lalu sebelum orangtuaku menikah, lalu aku halangi mereka untuk menikah, lalu akan adakah aku di masa depan? Ini, disebut kontradiksi dimesi waktu Einsteinian menurut Stephen Hawking. Jawaban Hawking justru menambah kerancuan (silakan googling), karena selain dia tidak akrab dengan tradisi pemikiran timur, dia juga sepertinya tak mempelajari quran. Karena di quran, riwayat Ibn Abbas dari surat at thalaq ayat 12, yang jika dijabarkan ke orang awam akan mendadak menganggapnya gila, adalah bahwa paralel universe itu nyata. Kita, tidak hanya ada 1, tapi banyak, hasil dari kemungkinan-kemungkinan pilihan takdir yang kita putuskan di masa lalu. Bahwa ada tujuh bumi dan tujuh langit, yang di tiap bumi itu juga ada kita. Dan angka 7, bisa jadi itu hanya simbol, dari ketidakterbatasan kekuasaan Tuhan yang sangat mampu menciptakan lebih dari itu.


Penjelasan di atas sudah cukup ruwet belum? Tapi ini ada yang lebih ruwet lagi. Subhanallah wa allahu akbar.


Ketiga, adalah disiplin semesta waktu ruh. Skalanya adalah 1 hari disana sama dengan ( = ) 50.000 tahun bahkan lebih dari itu, dibandingkan dengan disiplin waktu Newtonian. Rumus dari Jon Quixote, lebih gila dari yang Einstein buat. C = E.c², jika perjalanan waktu versi Einstein itu bisa dilakukan dalam wujud energi, mala disiplin waktu skala ruh ini dalam wujud KESADARAN / consciousness. "Ta'rujul mala'ikatu wa ruhu ilaihi fii yaumin kana miqdaruhu khomsina alfasanah", malaikat dan ruh naik ke langit dengan skala waktu 1 : 50.000 tahun. Jika Einstein memvisikan manusia bisa menjelajahi dimensi waktu materi (masa lalu - masa depan), maka skala waktu ketiga adalah perjalanan waktu semesta materi dan imateri. Singkat kata : masa lalu, manusia yang belum lahir, manusia zaman ini, kiamat, surga dan neraka, itu sedang berjalan bersamaan saat ini. Orang yang sudah diberikan kenikmatan menyaksikan kekuasaan Allah dengan dimensi waktu ketiga ini, adalah orang yang sangat beruntung. Dan sekali lagi, rasulullah Muhammad membuatkan jalan untuk ummatnya memasuki itu : illa bi sulthon (kalau mampu).


Lalu, pertanyaan PR pertama : untuk apa rapot yang manusia dapatkan di akhirat nanti di tangan kanan atau kirinya? This world is not the end. Ada perjalanan hidup lagi yang lebih jauh, lebih panjang. Dan buku itu adalah petunjuk perjalanan selain quran dan apa yang rasulullah ajarkan. Dan itu, peristiwa pemberian buku di tangan kanan atau kiri, hanya untuk mereka yang beriman rata-rata. Sedang di atas itu, seperti google map, mereka tidak menerima, tapi duduk manis dipandu buku-buku amalnya di dunia.


Fyuh, ruwet nggak? Pemahaman seperti ini, masih receh lho. 


Ciputat, 14 April 2021 di hotel kelas PL

Post a Comment

0 Comments