New Normal : 3. Perubahan Kutub Kehidupan


"Kemanapun engkau berpijak, kau tetap akan teranggap tak normal," (Jon Quixote)

Penting diketahui bahwa semua tulisan-tulisan saya di blog ini adalah (semacam) sampah, ocehan-ocehan tak berharga, cocoklogi beraroma hoax, otak atik gathuk seinginnya nafsu. Jadi jangan jadikan tulisan-tulisan saya beban pikiran teman-teman pembaca. Seperti yang dikatakan Aquinas (dalam level yang sangat rendah), tulisan saya ini ibarat tumpukan jerami yang jika terbakar akan lenyap tak berbekas, tak bermakna. Judul ketiga ini, kita akan berbincang tentang 'Perubahan Kutub Kehidupan' pasca musibah atau bencana.

Tidak ada musibah yang tak memaksa manusia untuk mengubah hidupnya. Entah cara berpikirnya, perilakunya, disiplin hidupnya, sistem kepercayaannya, dan sebagainya. Idealnya begitu, meski banyak juga manusia yang sekalipun berkali-kali musibah didatangkan, mereka tetap dengan karakter lamanya. Selain itu memang sunatullah, pasti ada, juga ini tentang keseimbangan. Apa tugas manusia baik, jika bukan untuk terus mengajak kebaikan? Dan apa fungsi ampunan Tuhan, jika manusia tak punya jalan untuk berbuat keburukan? Tuhan memberikan jalan keburukan, dan merahmati orang yang berbuat kebaikan. Tiap saat kutub bumi bisa berubah, yang dengan itu akan berubah pula kondisi alamnya, atau diiringi dengan bencana. Manusia memang seringkali telat paham, bahkan hanya untuk berubah, Tuhan harus mendatangkan musibah. Pun setelah musibah, masih saja mereka berbangga dengan kebodohan yang mereka lakukan. Musibah yang sebenarnya bisa jadi bukan bencana, bukan pandemi, bukan virus, melainkan kebodohan, kemerosotan moral, dan lupa-nya manusia bahwa Tuhan itu masih dan akan selalu ada. Adanya kegelapan, menjadikan cahaya lebih bermakna. Adanya keburukan, menjadikan jalan kebaikan semakin nampak sebagai pilihan.

Nyatanya, fase new normal yang didengungkan masih saja seperti kemarin. Kita, media, pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi, dan semua segi kehidupan manusia, masih dipisahkan dari kuasa Tuhan. Kita masih menganggap sesuatu terlepas dari kuasa Tuhan, sesuatu berdiri sendiri atau hanya kausalitas materil. Sedang sebenarnya, corona mengajarkan kita membaca, bahkan sekelas pengajian atau diskusi-diskusi ketuhanan, pun ikut terkena dampak. Kita memperbincangkan Tuhan dalam pengajian-pengajian itu, tapi melupakan bahwa rahmat Allah yang diberikan di dunia ini hanya 1 buah, dari 100 buah. Dan 99 buah sisanya, tidak berada di wilayah materi ini. Bisa jadi, pengajian kira itu terlalu mengandalkan jasad, fisik, ragawi. Sedangkan, bisa jadi, rasulullah dan jamaah beliau di wilayah yang lebih halus telah lama menunggu kita. Yaa ayyuhan nafsul muthma'inah, yang dipanggil adalah jiwa (yang tenang). Jiwa-jiwa yang dipersilahkan hadir dan bersama jamaah kekasih-Nya mengenal-Nya bersama rasulullah di wilayah itu. Wilayah yang tersimpan 99 buah rahmat Allah.

Ada fase ketika semua nabi dan orang-orang yang dalam golongan kekasih-Nya, mereka seakan 'menghilang' dari tengah-tengah masyarakatnya. Fase remaja menjelang dewasa. Memang hanya ada tiga pilihan tentang perubahan diri. Hanyut melebur bersama mainstream, dipaksa keluar dari kerumunan agar dapat melihat dari sisi yang lain, atau dengan kesadaran diri menjaga jarak sementara untuk menjelajah dunia, mencari fadilah Allah. Manusia semakin aneh, kita zaman ini seringkali baru bisa bersyukur setelah melihat orang yang lebih menderita daripada kita. Baru mau belajar setelah datang ujian, datang masalah-masalah hidup. Dan juga, baru mau sadar (sebagian kecil) setelah didatangkan musibah, lalu kita baru merefleksi diri dan akhirnya mulai memperbaiki diri. Memang kita bukan kalangan nabi, ya? Wajar kan, kita ini orang awam. Jadi telat paham, telat sadar begitu juga lumrah. Masih mending kan sadar, daripada tidak sama sekali. Naif.

Fase ketika para nabi menjaga jarak itu disebut dengan 'ghuroba', mengasingkan diri, menjaga jarak, baik secara fisik ataupun pikiran (mainstream). Dan wabah ini, mengajarkan kita untuk itu : social distance. Bahkan physchal distance, jaga jarak secara fisik. Kurang jelas?

Nabi Nuh, harus melenyapkan umat yang keras kepala tak mau berubah. Lalu mereka 'mengkarantina' diri di bahtera yang beliau buat. Kemudian turun di daerah baru, new normal, dengan hasil pembiasaan dari karantina di kapal itu. Kemudian, sunatullah, sebagian beriman, sebagian fasik, sebagian kafir. Nabi Luth, bahkan istrinya tak taat hanya untuk menaati perintahnya : jangan menengok! Berbeda dengan Nuh yang sudah memiliki teknologi canggih, Luth mengkarantina umatnya sambil jalan, dan hanya untuk 'membiasakan' menaati perintahnya, sang istri bahkan menolak. Matilah dia. Kaum 'Ad, umatnya Nabi Hud, kaum Aikah umatnya Nabi Syu'aib, kaum Tsamud umatnya Nabi Sholeh. Mereka tak menaati 'pembiasaan karantina' oleh nabinya masing-masing. Mereka merasa berbangga diri, merasa canggih, merasa cerdas, seperti qorun yang lupa siapa sumber pemberi rezeki baik itu materi ataupun ruhani. Nabi-nabi itu membawa umatnya ke zaman 'new normal', tapi sekali lagi, pada akhirnya sebagian ada yang tetap beriman, sebagian fasik, sisanya kafir. Bagaimana dengan zaman ini? Manusia meremehkan corona, menganggapnya sebatas konspirasi, sebagian lain ketakutan tanpa menghubungkan dari siapa wabah itu ditakdirkan. Manusia diminta mensucikan diri, tapi karena saking bebalnya, Tuhan harus membersihkan mereka dengan cara yang manusia tak senangi. Pun, fase new normal Tuhan masih saja dibiarkan 'di luar pintu rumah' kita. Kita mau hidup nyaman, dan kenyamanan juga yang memberi adalah Tuhan, tapi kita menolak-Nya. Lah, kok aneh?

Air laut tak akan begitu bermakna, jika mereka tak melakukan perjalanan ke pemukiman, menjadi rahmat, hujan, yang juga pada akhirnya kembali ke samudera : sang sumbernya. Begitu pun orang-orang yang tak harus menunggu musibah, bencana, untuk melakukan perjalanan. Memiliki semacam 'zona sunyi' diri masing-masing. Merefleksi, menjaga jarak dari keumuman, menjadi (kata orang) 'aneh', asing, tak normal. Bagaimana mungkin, orang-orang dalam kategori ini akan menjadi 'normal', jika makna normal adalah menjalani hidup tanpa 'zona sunyi', tanpa koneksi (ketersambungan) dengan Tuhan? Bagaimana mungkin, bahkan sebelum (yang dikatakan orang sebagai) musibah datang mereka sudah tak normal, lalu dengan datangnya musibah, yang justru menguatkan jalan hidupnya, mereka justru mengikuti kenormalan yang ditetapkan orang pada umumnya? Terkadang kita memang harus menjaga jarak, untuk mengenal, memahami, apa sebenarnya yang sedang kita hadapi. Bukan tentang perbedaan yang memisahkan, tapi tentang kewaspadaan, tentang persiapan untuk selalu berubah, tentang cara hidup dan mencintai dalam ruang dan waktu yang berbeda. Bahwa mencintai-Nya di hari kemarin, itu berbeda dengan di hari ini. Itu mengapa saya katakan, bisa jadi, rasulullah dan jamaahnya di wilayah yang lebih halus (yang sebenarnya juga tak jauh dari kita) sudah memanggil-manggil, menyeru, alam ya'ni liladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq? "Belum datangkan seruanku padamu, bahwa kebenaran yang kamu pahami disana (dunia) itu hanya sedikit saja?"

Senin, 1 Juni 2020, jam 01:11

Post a Comment

2 Comments

  1. Gila, yg menikmati tulisan ini cuma si jhon doang keknya wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lon2an ae.. Selamat hari burung yak, mudah2an tambah berkah hidupmu..☕ 😇

      Delete