2. Komplotan Firaun Internasional


أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا


“Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar” (HR. Muslim)

Dan para kapitalis, bersertifikat Dajjal (ini akan dikupas di nomor 5, Insya Allah), mengilhami perang dan segala jenis penindasan lainnya di atas muka bumi ini, hanya untuk mempertahankan pasar yang mereka ciptakan. Mari berkisah.

Pasca merkantilisme (perburuan emas) yang mengilhami penjajahan abad pertengahan silam, negeri-negeri mulai bernegosiasi untuk tidak semakin 'adu kekuatan' dengan luasnya wilayah jajahan mereka. Yang awalnya mencari tanah jajahan, vini vidi vicci (datang, lihat, taklukan), memasuki perang dunia 1 mereka berkompromi. Untuk tidak menindas, menghancurkan wilayah jajahan, melainkan menjadikan mereka 'pabrik kekayaan' negeri-negeri penjajah. Lho kenapa? Tentang 'Pasar'. Kita lanjut.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Sebelum lanjut, manusia selalu merasa berkuasa dengan apa yang mampu mereka lakukan, terlebih lagi dengan kekuasaan yang mereka miliki. Kesadaran ilahiyah yang kosong, berketuhanan, selalu saja yang menjadikan mereka akhirnya dijatuhkan oleh kecerdasan mereka sendiri. Fatir ayat 44

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِى الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عٰقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوٓا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ

Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka?

Putra mahkota tertembak, entah disengaja atau 'kebetulan', negosiasi tentang 'pasar dunia' batal. Perang dunia 1 membuncah. Rahim dunia pun melahirkan tokoh-tokoh yang pada akhirnya meramaikan setengah abad sejarah dunia di abad ke-20 : Hitler, Mussolini, Lenin-Stalin, Hirohito, Mao, dan tentu saja para nasab Yudea dari negeri bekas jajahan eropa : Amerika Serikat.

Baru setelah perang dunia 2, para petinggi negara eropa dan amerika memikirkan cara baru. Mereka berkumpul dalam perjamuan 'rahasia', tanpa pers, tanpa media, tanpa catatan buku, tanpa kamera. Perjamuan yang sampai hari ini hanya sayup-sayup terdengar sebagai penerus iluminati atau bahkan freemason. Apapun itu, kisah tentang pasar dunia akan berawal dari mereka : Para komplotan fir'aun internasional. Mengapa internasional? Karena memang di negeri kita sendiri, rahim ibu pertiwi juga tak mampu mengelak, generasi firaun terus dilahirkan. Tapi, itulah sunnatullah, hukum alam. Sekuat apapun firaun, Musa-Musa yang hanya berbekal tongkat penggembala domba akan selalu mampu mengimbanginya.

Kisah Fir'aun yang merasa telah menguasai dunia, menguasai ilmuwan beserta aset intelektualnya, menguasasi opini, bahkan sampai cara berjalan, berpakaian, makan, dan permainan anak-anak kita, lalu membuat program 'pembunuhan anak laki-laki' di seluruh dunia. Mereka, para komplotan fir'aun, menganggap tak ada kekuatan yang menguasai dirinya. Membuat aturan untuk segala sesuatu, dari mulai tata hukum, ekonomi, pendidikan dunia, sampai hal terkecil tentang cara makan bahkan memilih mana ustadz yang baik untuk ummat. Lalu 'anak laki-laki' yang melawan mereka akan dimusnahkan, diburu, dipenjara, dikebiri, atau bahkan diubah kelelakiannya. Lalu kita, yang berjuang atas nama kaum tertindas, mempelopori ide-ide budaya tandingan, membuat benteng pertahanan dari kehancuran moral, semua itu ternyata hanya berada di atas permainan selembar kertas monopoli yang diatur oleh mereka : Komplotan Fir'aun Internasional (KFI). Kita berlomba kaya, seakan orang terkaya di bangsa ini adalah bagian dari mereka (KFI), sedang sebenarnya, yang kaya atau yang miskin, adalah dalam permainan mereka. Begitu juga yang berdakwah dan didakwahi, yang berjuang untuk orang tertindas dan yang menindas, media dan para penikmat kebodohan mereka, semua itu adalah permainan KFI. Kita, digiring dari sekian ratus ratus tahun yang lalu untuk semakin jauh dari 'cara baca sang nabi'. Kita, semakin bergantinya zaman, dosis keracunan jiwa kita semakin parah. Dan kabar 'baiknya', kita merasa sakti, tak merasa ada yang keracunan, bahkan mati, di dalam diri kita sendiri.

Kita jadi 'salah baca', 'salah ukur', dengan hampir segala sesuatu. Bahkan, ketika saya ceritakan pada orang-orang yang 'sefrekuensi', bahkan satu-satunya cara untuk memperbaiki dunia ini adalah kembali hidup dengan 'cara hidup nabi'. Dan saya dicecar : mesti pakai jubah? Pakai onta? Rumah cuma sepetak? Aduh, repot. Mereka menganggap gaya hidup itu sama dengan cara hidup.

Pasca perang dunia 2, memasuki tahun 70-an, negara-negara maju mengontrol dunia dari dalam ruangan mereka. Semua hal, segala sisi kehidupan manusia, nyaris seperti staf Tuhan, atau malaikat rokib atid atau bahkan Mikail. Mereka-lah yang bermain dalam kurs mata uang, minyak bumi, perang, rekayasa politik, ekonomi atau bahkan kesehatan. Kita tahu, bahkan urusan tembakau saja mereka 'mengurusi' itu. Selalu, demi pasar mereka sendiri. Dan negeri kita yang terlalu santuy ini, proteksi pada ekonomi dalam negeri tidak ada, dan laju perkembangan (lagi-lagi) pasar dunia kian tak terbendung. Kita, seperti negara-negara 'terbelakang' lainnya (negara lho ya, bukan negerinya), menjadi bola permainan mereka. Negara satelit

KFI ini juga-lah di balik ketidakjelasan lembaga kesehatan dunia menangani pandemi Covid. Mengatur laju jual-beli minyak bumi, mengontrol media, mengelola kurs mata uang, dan bahkan budaya baru yang tercipta dari efek Corona. Di sisi lain, mereka satu sama lain bersilang pendapat dan menggunakan kekuatan masing-masing yang mereka (merasa) miliki, 'perang' antar sesama, tahsabuhum jami'an wa qulubuhum syatta, dengan tetap satu tujuan : pasar (dunia) harus tetap berjalan.

Maka, ketidakjelasan pemerintah bukan suatu hal yang mengherankan. Tenaga medis habis juga tak masalah. Mengapa? Bisa impor. Pengangguran menjamur? Bisa dibuat kebijakan kemudahan jadi TKI, so then? Devisa bertambah. Harga emas dinaikan, agar orang ramai menjual emas, kemudian uang beredar kembali banyak di masyarakat, pasar pun tetap jalan. Dollar dinaikan (oleh KFI itu), agar rupiah (dan negara rendahan lainnya) nilai mata uangnya jatuh, lalu ekspor pun tetap lancar? Mengapa? Aduh, ini hitung-hitungan standar mahasiswa ekonomi bahkan di semester awal. Dollar naik : ekspor besar, wisatawan masuk, para pemegang dollar menjualnya dengan rupiah, inflasi dan deflasi pun terukur. Termasuk menaik-turunkan suku bunga, menaikan harga-harga dan retribusi negara, dengan prinsip : rakyat harus dipaksa agar mereka semakin giat bekerja. Bagaimana mengatasi hancurnya ekonomi negara pasca pandemi? Untuk mereka, boneka KFI, mudah saja (musik SO7 terdengar).

Pinjaman luar negeri adalah salah satu masukan devisa, termasuk kesepakatan dana hibah/hadiah, dengan win-win solution. Arab hibah, China hibah, dengan kesepakatan proyek Ibu Kota baru dan aset besar lainnya untuk jangka panjang, misalnya. Rupiah akan lebih jatuh, setelah pandemi, untuk mengimbangi neraca pembayaran, dan pendapatan negara, sektor ekspor dan pariwisata akan dikejar total. Ini, hanya sektor ekonomi. Bagaimana dengan pendidikan? Perbaikan moral? Spiritual? Mengapa urusan otak tak lebih penting dari urusan perut?

Dunia ini, rupanya selain Tuhan, ada segelintir manusia yang mengontrol itu. Umat Islam akan dijaga, termasuk populasi manusia, selama itu akan menguntungkan 'pasar' mereka, dan menjaga kestabilan itu. Dari ini, mana mungkin kita merasa sombong di hadapan Tuhan, sedang 'melawan' KFI saja justru kita menjadi bahan permainan mereka. Lebih tragisnya, 'membaca' yang seperti ini saja kita tak mampu. Tidak ada pilihan lain untuk seorang mukmin, selain kembali pada-Nya, balik kanan dari jalan mereka (KFI), dan mulai meniti kembali 'cara baca' yang rasulullah ajarkan.

Para KFI itu sebuah jaringan sangat besar, yang buahnya berjatuhan dari zaman ke zaman, tapi akarnya tetap bertahan, menanti Dajjal.

Post a Comment

0 Comments