Dialog sepulang zakat

Malam hari di perjalanan sepulang menempatkan zakat pada tempatnya, Jon menggumam dalam hati.

"Allah, bulan (ramadan) ini Engkau jadikan aku sangat kaya," gumamnya dalam hati. "Engkau berkenan membuatku sangat kaya. Empat minggu penuh Engkau jadikan aku mampu memberikan sembako pada 'rakyat kecilku' itu," tiap minggu Jon bagikan sembako hasil dari sedekah dosennya dan jual rokok untuk orangtua siswa dan guru yang terkena dampak pandemi. Lebih tepatnya, efek kebijakan 'bapak-bapak di kursi sana', yang membuat rakyat kecil si Jon itu semakin nelangsa.

Tanpa disadari, gumaman hati si Jon itu melesat sangat cepat ke atas arasy. Baru saja ia meletakan motornya, ganti baju, tetiba datang orangtua siswa Jon, beserta dua siswanya - mereka penerima PIP (Program Indonesia Pintar).

"Pa, ini zakatnya fulan dan adiknya, fulanah," kata ibu itu. "Kami pamit langsung ya, pa," mereka bertiga naik sepeda dari desa sebelah.

Cetar!

Baru saja tadi merasa 'sedikit kaya', Tuhan dari atas sana langsung membercandai si Jon.

"Jangan belagu, Jon. Aku lebih mencintaimu dalam kesadaranmu yang tak memiliki apa-apa itu,"

Bersambung...

Post a Comment

0 Comments