Corona dan Pelajaran Membaca

Di awal-awal kabar virus itu, ada saja orang-orang lucu yang mengaitkannya dengan palajaran mengaji tajwid. Lucu, karena selain 'salah baca' (ketidaktepatan) secara ilmu, juga efek bola salju dari kebodohan yang ditimbulkan lumayan besar : kaum sesama akal pendek semakin menjamur. Tapi, tulisan saya juga mungkin akan seputar itu : Pelajaran Membaca.

Dua buku terjemahan yang saya baca dari mulai akhir tahun 2019 adalah Fushus Al Hikam dan Futuhatul Makkiyah, yang ditulis Ibn Arabi. Dua buku, ya, kata ulama setempat sih bukan 'maqamnya' saya membaca itu, terlebih lagi 'hanya terjemahan'. Tidak akan berefek apa-apa, kata mereka. Bagi saya, daripada tidak belajar sama sekali, bukankah masih lebih baik baca buku/kitab sekalipun itu terjemahan? Lagipula, mereka yang nyinyir, apakah benar sudah membaca juga buku-buku itu? Dua buku ini, alhamdulillahi robbil 'alamin, tidak bisa dipahami kecuali sudah mempelajari sekian banyak disiplin ilmu lain : barat dan islam. Dua buku ini, akan 'agak mudah' dipahami, kalau kita sudah pernah 'menyentuh' ilmu-ilmu ilmiah. Filsafat, sains, sastra, sejarah, astronomi. Juga ilmu islam dan jawa : Kalam, mantiq, shorof, fiqh, tafsir, hadits, balaghah, dan pemahaman lain yang membuat buku itu terasa 'mistis'. Hanya buku-buku beliau, yang memang katanya langsung diajarkan rasulullah, yang setiap membacanya, terasa sekali sedang berdiskusi, dituntun pelan-pelan olehnya. Seakan benar langsung dari sang nabi, seperti quran yang terajarkan 'khatir' di tiap membaca dalam kondisi 'jadzab' (merasa sangat dekat dengan Tuhan). Dua buku itu, dengan syarat membaca yang begitu sulit, mengantarkan saya pada kontradiksinya : membaca buku yang mengajarkan agar sampai pada kebutahurufan rasulullah. Mengantarkan saya pada 'gambaran' tentang ketidakmampuan membaca sang nabi. Beliau, tidak mampu membaca apa yang kita baca. Beliau, tidak membaca dengan cara seperti kita membaca. Beliau, punya kamus sendiri untuk definisi-definisi segala sesuatu yang kita baca, yang sangat berbeda dengan 'kamus' definisi menurut kita, menurut zaman kita ini. Beliau, dari kecil telah sampai pada kemampuan membaca yang Allah ajarkan pada Kakek Moyangnya : Adam. Wa alama adamal asma-a Kullaha.

Dan kali ini, saya akan menuliskan apa yang menurut saya (mudah-mudahan tidak salah baca juga, hehe) corona ajarkan pada kita. Lima hal yang Corona bawa, dan 'pelajaran membaca' yang ia ajarkan.

1. Hubungan takdir dengan nafas
2. Komplotan Fir'aun internasional
3. Perubahan kutub kehidupan
4. Formula dasar kehidupan manusia
5. Sutradara Dajjal

Pertama :

1. Hubungan hembus dan tarikan nafas dengan takdir manusia.

Ini juga diajarkan Al Hikam, kitab dari Ibn Athoilah. Bahwa setiap hembus dan tarikan nafas kita, itu membentuk jalan takdir ke depannya. Setiap tarik dan hembusan bersama takdir senang dan sedihmu. Semakin kau bernafas dengan rasa senang, syukur, kuat, maka hembusan itu akan berefek seperti itu pada darah, pada sel, pada kulit, dsb. Lalu otak memancarkan gelombang yang menarik hal-hal yang menyenangkan, memuaskan, persoalan-persoalan sulit pun dapat ditangani dengan rasa ringan. Disana letak nasehat : bukan karena hari ini menyenangkan, lalu hatimu gembira. Justru karena hatimu bergembira, maka harimu menyenangkan. Dan itu dimulai dari hembusan nafas. Bahkan dalam bela diri, olah nafas menjadi hal terpenting. Apa hubungannya dengan corona? Mengapa ia sangat menarget paru-paru? Kenapa lewat nafas dan hanya organ paru yang berefek fatal?

Kita salah baca, bahwa yang kita takutkan sebenarnya bukan penyakit, bukan kemiskinan, bukan kelaparan, bukan juga kekacauan yang ditimbulkan virus itu. Melainkan, ternyata, sejak dari hembusan nafas, atau lebih mudahnya BERNAFAS saja kita masih salah. Kita, umat Islam sudah begitu PeDe dengan ibadah sholatnya. Tapi justru corona mengajarkan, jangankan sholat, bab thoharoh/kebersihan saja kita masih bodoh. Sekedar cuci tangan saja kita harus mendatangkan tamu, guru, yang kemarin kita ramai-ramai ingin melawannya bersama. Lalu merembet ke sholat jamaah, dan memakmurkan masjid. Allah maha pengasih, Dia kasih kita ramadan. Momen untuk memperbaiki itu, dengan tetap 'sang guru' (corona) mengawasi kita dari tempat yang kita tak tahu. Tapi, seperti biasa, ramadan ini kita jalani lagi-lagi sebagai ajang kontestasi : makanan, gaya pakaian, lomba dakwah.

2. Komplotan Fir'aun internasional

Ini akan menyambung ke nomor lima. Kisah Fir'aun yang merasa telah menguasai dunia, menguasai ilmuwan beserta aset intelektualnya, menguasasi opini, bahkan sampai cara berjalan, berpakaian, makan, dan permainan anak-anak kita, lalu membuat program 'pembunuhan anak laki-laki' di seluruh dunia. Mereka, para komplotan fir'aun, menganggap tak ada kekuatan yang menguasai dirinya. Membuat aturan untuk segala sesuatu, dari mulai tata hukum, ekonomi, pendidikan dunia, sampai hal terkecil tentang cara makan bahkan memilih mana ustadz yang baik untuk ummat. Lalu 'anak laki-laki' yang melawan mereka akan dimusnahkan, diburu, dipenjara, dikebiri, atau bahkan diubah kelelakiannya. Lalu kita, yang berjuang atas nama kaum tertindas, mempelopori ide-ide budaya tandingan, membuat benteng pertahanan dari kehancuran moral, semua itu ternyata hanya berada di atas permainan selembar kertas monopoli yang diatur oleh mereka : Komplotan Fir'aun Internasional (KFI). Kita berlomba kaya, seakan orang terkaya di bangsa ini adalah bagian dari mereka (KFI), sedang sebenarnya, yang kaya atau yang miskin, adalah dalam permainan mereka. Begitu juga yang berdakwah dan didakwahi, yang berjuang untuk orang tertindas dan yang menindas, media dan para penikmat kebodohan mereka, semua itu adalah permainan KFI. Kita, digiring dari sekian ratus ratus tahun yang lalu untuk semakin jauh dari 'cara baca sang nabi'. Kita, semakin bergantinya zaman, dosis keracunan jiwa kita semakin parah. Dan kabar 'baiknya', kita merasa sakti, tak merasa ada yang keracunan, bahkan mati, di dalam diri kita sendiri. Para KFI itu sebuah jaringan sangat besar, yang buahnya berjatuhan dari zaman ke zaman, tapi akarnya tetap bertahan, menanti Dajjal.

3. Perubahan kutub kehidupan

Tidak ada musibah yang tidak mengubah kutub-kutub kehidupan manusia. Allah menjadikan hidup ini ujian dalam tiap partikelnya. Aladzi kholaqol mauta wal hayata li yabluwakum ayyukum ahsanu amala. Hidup dan mati ujian, senang dan sedih adalah ujian, lapar atau makan juga ujian, kerja apalagi menganggur juga ujian. Dan alur ujian ini, jika tak mau belajar, berpikir, 'baca', akan menuju tahap selanjutnya : yaitu musibah. Corona ini musibah kecil atau besar? Efek dari musibah adalah pembersihan. Kita belajar dari kisah Nuh, Luth, Syu'aib, Sholeh. Mereka yang bodoh mutlak dimusnahkan, mereka yang beriman diselamatkan, mereka yang masih ingin bermain diperpanjang masa hidupnya, lalu disempurnakan siksanya nanti setelah mati. Musibah untuk sebagian orang (yang ingkar, yang menolak belajar), adalah rahmat untuk mereka yang beriman. Corona mengajarkan perubahan kutub kehidupan. Kita yang dulu tertindas, kemudian di masa pandemi ini mau belajar, maka kutub ketertindasan itu akan diubah. Begitupun sebaliknya, kita yang menolak belajar, berpikir, 'membaca', setelah pandemi ini akan diubah kutubnya menuju hari yang lebih memberatkan. Badai pasti berlalu, tapi itu akan datang lagi. Corona mengajarkan kita untuk mengubah kutub kehidupan yang buruk selama hidup kemarin. Ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakatan, agama, politik, hubungan internasional, semuanya, harus ada yang dibenahi. Bagaimana jika tidak? Maka tahap terakhir dari ujian akan datang : yaitu azab.

4. Formula Dasar Kehidupan Manusia

Jika corona adalah keburukan, maka setiap predikat keburukan di dunia ini akan selalu ada sampai hari kiamat. Kebencian, amarah, dendam, keserakahan, kemunafikan, semua keburukan itu akan selalu ada. Termasuk wabah penyakit, dan dalam kasus ini, corona. Tak ada upaya yang lebih dahsyat, secara jasadiyah, menurut saya, selain untuk terus menguatkan diri. Baik dari dalam diri (jiwa, mental, intelektual, spiritual, dsb), dan juga dari luar diri (makan minum yang halal, berpikir yang baik-baik, istirahat, ibadah, kerja, dsb).

Semua predikat keburukan itu akan selalu ada, dan mereka tidak lebih berbahaya daripada pikiran kita sendiri. Predikat keburukan itu akan selalu ada, dan manusia tak akan mampu jika hanya melawan itu dengan obat-obatan medis. Bagaimana mengobati kebencian dengan aspirin? Dada kita sesak karena rasa dendam pada seseorang, bagaimana bisa kita mengobati itu dengan anti-inflamasi atau Steroid? Atau bahkan teknologi yang justru pelan-pelan menggerogoti sisi moral/kemanusiaan diri manusia.

Corona, adalah formula dasar kehidupan, bahwa tidak ada yang menakutkan, kecuali pikiran kita sendiri. Disinilah letak/kordinat ayat : Allah tak mendholimi hamba-Nya, manusialah yang mendholimi dirinya sendiri (dengan pikiran dan semua tindakannya).

5. Sutradara Dajjal

Bahkan Iblis, kakek buyutnya Dajjal, yang tahu seberapa Dzal jalali wal ikram-nya Allah, itu bersumpah atas nama-Nya. Karena iblis atau Dajjal, memang mengambil peran itu : semacam furqon. Dialah makhluk Allah yang bersertifikasi langit, yang 'ditugaskan' membuka topeng-topeng kemunafikan manusia.

Dan corona, hanyalah triger kecil, dari jutaan umpan Dajjal yang sudah tuntas termakan manusia : kecuali mereka (kembali ke atas) pada manusia 'ihdinashshirothol mustaqima'.

Dajjal yang disponsori Allah, dalam kasus korona ini, membuka semua topeng kita. Yang bergelar akademik, yang bergelar agama, yang awam, yang pejabat, yang rakyat, semua : kecuali mereka tadi.

Entah sejak zaman siapa, pepatah ini benar : hanya dokter yang menikmati hasil kerja Tuhan. Dokter mengobati, Tuhan menyembuhkan, baik pasien atau dokter, mereka menomorduakan Tuhan. Dajjal tepuk tangan.

Kita sudah bahas surat al furqon ayat 8-11 dulu. Tapi para pemuka agama? Berbicara tentang puasa, tapi mereka lebih sering kenyangnya daripada laparnya. Berbicara tentang sabar dengan rezeki yang Allah tahan, tapi mereka menabung, dan berinvestasi. Apakah salah? Kita tidak sedang membicarakan salah benar. Jika kita bicara kepuasan makanan di hadapan orang yang bahkan untuk makan saja mereka kebingungan harus makan apa, kira-kira kita disebut apa?

Dajjal tepuk tangan : U see my Lord, U're slave just opportunis.

Sekarang kita ketakutan corona, hanya karena media. Kita takut mati, kita takut tak punya pekerjaan, kita takut tak kebagian sembako, takut ini, takut itu, sedangkan Dia bilang : huwa anzala sakinata fi qulubil mukminin liyazdadu imana ma'a imanihim (al fath).

Dajjal, memutar balikan baik dan buruk. Dia sukses untuk : 'membuat manusia fokus menjaga kehidupan (tetap kerja, dapat uang, hidup sehat, dsb), tanpa mementingkan lagi keimanan'.

Padahal? Keimanan-lah yang seharusnya kita jaga. Bukan kehidupan. Adapun kita sungguh-sungguh menjaga kehidupan, karena atas dasar keimanan kita, dan kekhawatiran kita pada mereka yang lemah hidupnya, apakah mereka akan kehilangan keimanan juga di dalam proses kehilangan hak-hak kehidupannya?

Dajjal, menjadilan hidup ini lebih penting daripada keimanan yang oleh Tuhan kita diwajibkan menjaganya lebih dulu. Man amana billah wal yaumil akhir, berapa kali ayat harus sang nabi kutipkan tentang itu? Kita baca pola gerak Dajjal : Menjaga kehidupan yang menomorduakan Allah, dan mendatangkan kematian yang mewariskan fitnah. Sebaliknya, Sang Imam Mahdi melakukan antitesisnya. Tidak sadarkah kita, berapa artis yang meninggal dalam beberapa bulan ini? Apakah itu kebetulan, dengan menggunakan formula 'pola gerak Dajjal' itu?

Tegal, 12 Mei 2020 (19 Ramadan)

Post a Comment

1 Comments

  1. Tulisan kamu selalu membuat org yang bacanya mikir, dan mudah2an saya yang berusaha memahaminya tidak salah membacanya juga, sekali lagi membuat kita belajar.

    ReplyDelete