Seorang Hamba

6 Desember 2014 pukul 18.57

Fa'altuhu 'an'amriy...

"Apa beda antara 'hamba yg terpilih' dan seorang nabi/rasul?" tanyaku pada Jon Sabtu sore. Ia hendak pergi ke pengajian sekolahnya, memintaku menemaninya.

"Emm.. Bukannya para nabi/rasul itu adalah orang-orang yg terpilih?" tanya si Jon balik.

"Misal, seorang 'hamba' di jaman Nabi Sulaiman yg memindahkan kerajaan Bilqish. Atau Khidir, ia cuma disebut 'abdu min abdiyna', seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya. Nabi Sulaiman kaget pada hamba itu, Nabi Musa malah berguru pada Khidir. Mengapa ia tidak disebut 'seorang nabi di antara nabi-nabi yg diutus'? Atau mengapa yg jadi nabi malah Musa bukan Khidir, sedang Khidir lebih dekat pada Tuhan?" kataku seperti anak kecil yg sangat penasaran.

"Lebih dekat pada Tuhan? Tandanya?" tanya Jon lagi. Biasanya kalau begini itu tanda-tanda Jon mau 'kesurupan'.


"Seorang hamba di jaman Sulaiman/Musa, dua-duanya dikatakan 'Diberi rahmat dari sisi Kami, diajarkan ilmu dari sisi Kami'. Apakah Sulaiman dan Musa tak diberi derajat dari sisi Tuhannya?"

Jon terdiam. Lama. Lama-lama boncengan motorku terasa berat. Si Jon nampak tertidur.

"Nah, nah, mulai lagi nih. Aduh, kumat lagi ini orang. Mestinya tadi jangan tanya itu," gumamku dalam hati.

Ia terdiam, bahkan sampai di tempat pengajian. Lalu terbangun dengan wajah blo'onnya, mengisi pengajian itu.

Sepulangnya, kami saling diam. Dia menekankan jari telunjuknya di leher belakangku. Serasa ada 'yg mengalir' masuk ke dalam otak.

"Nabi, nubuwah, wahyu, hayyu, ahya," terdengar bisikan di telingaku. Tapi, mulut si Jon tertutup. Siapa tadi yg bicara?

Tiba-tiba Jon memintaku untuk bonceng, dia yang menyetir. Baru saja aku duduk di boncengan, kepalaku pusing, lemas, entah tidur atau tersadar, seperti sedang duduk di samping seseorang.
"Mereka yang disebut nabi, mendapatkan nubuwah, wahyu, dari tingginya derajat pikiran mereka. Mereka telah dihidupkan (hayyu, ahya), bahkan sebelum jasad mereka mati," kata seseorang di sampingku. "Tapi, nubuwah itu hanya untuk dirinya sendiri, karena kebelummampuannya untuk menerjemahkan wahyu itu dengan bahasa sederhana, pada manusia-manusia yang masih tertidur / mati dalam hidupnya,"

"Jadi, kita ini masih dikatakan tertidur / mati ?"  tanyaku.

"Ya, itu mengapa dalam tiap kitab dikatakan tiap manusia akan mengalami qiyamah, qum, keterbangunan / keterjagaan dari tidur saat ini. Dan para nabi adalah mereka yang telah terjaga," katanya.

"Apakah itu maksud dari ayat, tahajud di sepertiga malam akan ditinggikan derajatnya oleh Tuhan? Bahwa ayat itu dimaksudkan agar jiwa kita yang terjaga di antara jiwa-jiwa manusia yang tertidur, meski tubuh mereka terjaga di siang hari? Bahwa keterjagaan tahajud hanyalah simbol, agar kita terjaga di antara orang-orang yang tertidur, diawali dengan keterjagaan tubuh kita di sepertiga malam itu?"
Seseorang di sampingku itu mengangguk. Serasa ada pemahaman yang memukul pikiranku, sakit sekali.

"Para hamba itu diberikan rahmat dari sisi-Nya, mereka yang telah lulus sebagai manusia, tak menganggap apa-apa pada dunia ini, dan secara langsung mendapatkan kasih-sayang / cinta (rahmat) dari-Nya. Mereka diberi ilmu dari sisi-Nya, mereka adalah orang-orang yang tak punya apa-apa, tidak jasad, jiwa, ruh, bahkan bersitan pikiran, mereka merasa tak memiliki itu. Mereka orang-orang kosong, yang berhak diberi ilmu langsung dari-Nya,"

"Jika mereka telah lulus dari proses menjadi manusia, mereka kosong, apa perbedaan mereka dengan malaikat?"

"Malaikat tak pernah diuji untuk sampai pada kondisinya (kesucian mutlak), tapi mereka, para hamba itu, mereka diuji dengan ujian kehidupan, melawan diri sendiri, menyingkirkan segala kasih sayang (rahmat) dunia, belajar hidup sepanjang hidupnya hingga ia mengerti bahwa semua ilmunya adalah ilusi. Mereka seperti malaikat dalam wujud manusia,"

"Ah, itu mengapa seorang Musa pun belajar padanya - Khidir. Aku mengerti," kataku sedikit memahami. "Tapi, bukankah rasulullah pernah sampai ke Sidrah Al Muntaha, dan dikatakan bahwa beliau melihat sebagian tanda-Nya secara langsung?"

"Beliau tak perlu belajar pada Khidir, atau hamba lainnya. Karena ujian kehidupannya, membuatnya sampai ke sana (Sidrah Al Muntaha),"

"Itu mengapa beliau disebut penutup para nabi? Bahwa beliau adalah manusia, nabi, rasul, malaikat (bahkan lebih tinggi), dalam wujud manusia biasa?" kataku terburu-buru. 

Grrrnngggg...

Tiba-tiba aku terbangun, kami telah sampai rumah Jon. Pertanyaan terakhir itu menggantung. Membuatku demam, tubuhku memanas, entah karena peristiwa sebelumnya, entah karena si Jon yang mengagetkanku dengan gas motor bututnya. Sialan si Jon itu, aku jadi tak bisa malam mingguan dengan pacarku. Sialan.

Post a Comment

0 Comments