Intinya adalah : keinginan II

3 Desember 2014 pukul 12.46


Dalam satu riwayat, Abu Bakar Ashshidiq pernah dimarahi seseorang saat ia duduk bersama rasul. Ia tetap tenang meski dimarahi. Tapi saat orang itu diam, Abu Bakar balas memarahinya. Rasul berdiri, meninggalkan sahabatnya itu. Abu Bakar bertanya, "Mengapa engkau meninggalkanku, wahai rasul?"

"Saat ia marah&engkau tetap tenang, malaikat duduk di dekat kita. Lalu saat kau marah, duduklah setan di dekatku. Aku tak mau duduk bersama setan,"

Malaikat adalah nama lain dari jiwa yg tenang. Setan, nama lain untuk keburukan. Abu Bakar mendapatkan 'jannah' saat ia tak marah. Jiwanya tenang, sejuk, rasul merasakan itu. Sebaliknya, saat ia marah, ia mendapat 'nar', terasa panas, rasul juga merasakan itu.

Saat kuliah, beberapa teman Jon memanggilnya dengan sebutan 'dukun'. Ia tak marah, karena apapun yg temannya lakukan, ia menganggapnya sebagai candaan. Ia disebut itu karena terkadang mampu merasakan jiwa panas teman-temannya yg baru saja 'minum', clubbing, indehoy. Para sesepuh Jon di daerahnya, biasanya tahu siapa yg akan bertamu, berapa jumlahnya. Orang-orang seperti itu telah damai dalam 'jannah'. Dunia mungkin masih mampu menyakitinya, tapi jelas tak bisa melemahkannya.

"Kenapa kita marah, cemburu, iri, dendam, inti dari semuanya adalah keinginan - yg berlebihan. Keinginan merabunkan kesadaran. Makan, minum, tidur, berpikir, sampai bekerja mengejar target, semua akan terasa melelahkan jika berdasar pada keinginan - dan rasa takut jika tak terwujud. Orang berbohong, karena ingin dianggap jujur dan tetap dipercaya. Orang marah, karena merasa harga dirinya direndahkan. Orang dendam, karena merasa tak pernah salah. Orang yg berada dalam 'ketersembunyian' (surga) cenderung menang melawan keinginan yg seperti itu. Ia berada dalam 'ketersembunyian', karena itu ia tak tenar, tak dikenal, asing," gumam Jon sepulang berbincang dengan sesepuh tetangga desanya itu.

Post a Comment

0 Comments