Membumi, bukan melangit

Jika seseorang tengah menderita, terlilit persoalan yg sangat pelik, terteror -hutang, lalu dia berdoa pada Tuhan, maka apakah Ia akan turun dari langit&membantunya? Jika tidak, untuk apa ia menyembah-Nya? Toh Ia tak merasa senang/sedih dengan ibadah makhluk-Nya. Tuhan tetap Tuhan, apapun kondisi ciptaan-Nya.

Itu pertanyaan yg ku ajukan -pada diriku sendiri- sekitar 4th yg lalu. Seseorang diragukan keimanannya selama mulutnya menyuarakan Tuhan. Karena orang beriman, ia tak peduli anggapan orang lain. Yg ia pedulikan adalah 'penilaian Tuhan'. Dari itu kerja&hatinya akan selalu untuk kebaikan : bukan pribadi/golongan.
Orang-orang yg senang mempersoalkan agama/iman barangkali harus membaca karya Durkheim : Elementary form of the religious life. Bahwa agama awalnya, bukan untuk menjaga hubungan manusia dengan Tuhan/dewa. Sebaliknya, itu diadakan untuk menjaga hubungan antar manusia. Tapi apa yg terjadi saat ini?
Aku tak pernah menyatakan diri sebagai pengikut jalan apapun selain Muhammad ibn Abdullah. Tapi bukan berarti tak paham dengan 'jalan-jalan itu'. Tahlilan, mungkin dari tradisi Yahudi : peringatan duduk shiva/se'udat haura'ah. Juga khaul, peringatan 40/100 hari : Mourner's kaddish. Tapi itu diadakan para ulama dahulu untuk itu : menjaga hubungan antar manusia. Terlepas saat ini banyak penyimpangan, itu zaman. 

Manusia terlahir menjadi 3 golongan : ia yg memperbaiki, merusak, & para pengikut. Para nabi&rasul diutus dengan bahasa kaumnya. Mereka menembus langit demi memperbaiki umatnya, dengan menjaga&memperbaiki hubungan antar mereka. Tapi apa yg terjadi saat ini?

Kemudian, apa jawaban pertanyaan di awal?

Hidup ini pilihan, selama menyangkut diri sendiri. Tapi keharusan, jika itu berkaitan dengan banyak orang. Keharusan ini, akan mengalir pada terlepasnya ikatan diri : ikhlas. Bahwa kualitas manusia, terlihat dari sebesar apa pengorbanannya untuk banyak orang.
Siapa contohnya?
Ia satu-satunya manusia yg aku ikuti : Muhammad ibn Abdullah.

Post a Comment

0 Comments