Untuk Indonesia

“Jangan beri obat, berikan ia hati kita, cinta kita. Hati adalah penawar. Seseorang yang memiliki hati (perasaanya masih sehat) ia mampu menyembuhkan dirinya sendiri... Selama perut dan nama – yang kelak hanya akan tertulis di batu nisan – yang diutamakan, negara ini hanya akan menjadi ‘bangsa kerbau’...”

Telekonfrens baru saja selesai. Kami hanya bertiga – yang seharusnya berenam. Tapi itu bukan alasan kami untuk tidak bersilaturahim. Kabar yang aku ingin tahu adalah dari Yanti. Tentang pembuatan yayasan pendidikan dan sosial yang akan ia dan keluarganya bikin. Awal Februari kemarin kami bertemu di kampus, bicara banyak tentang pembuatan akta notaris yayasan. Kendala, kemungkinan, atau rencana progres tentang impian ‘gila’ kami. Telekonfrens kami lakukan sebagai, katakanlah, ‘upaya’ kami menjaga ‘kewarasan’ pikiran kami di tengah-tengah jaman yang sableng ini. Bukan apa-apa, kami hanya ingin – jika bisa dikatakan sebagai keinginan, sebelum kami ‘pergi’, akan kami habiskan masa muda ini untuk kebaikan : besar. Jika memang telekonfrens itu untuk menjaga ‘kewarasan’ kami, maka aku-lah ‘otak’-nya. Seorang ‘gila’ yang menjaga diri dari kegilaan jaman pada umumnya. Kami tidak boleh meninggalkan hidup ini, kecuali bangsa ini maju : menampar bangsa lain yang ‘nakal’. Itu kami sebut : ‘pelayanan untuk dan dari Indonesia kepada dunia’.

Tidak jarang, aku bercerita tentang kisah para guru sekolah di sini. Dulu, ya, dulu, mereka juga bermimpi besar. Mengumpulkan, mencatat, mengurutkan, mana yang akan diraihnya lebih dulu. Tapi berjalannya waktu, mereka menikah – tentu bukan karena ini alasannya, lalu, alam berpikir berubah : bagaimana agar cepat menjadi PNS lalu sertifikasi.

Apakah kami akan seperti mereka, para pemimpi yang memang hanya bisa bermimpi, lalu setelah lama kelelahan, mengutuk diri sendiri? Entahlah. Masa depan, siapa tahu?

Apa susahnya bermimpi? Kemarin, sepulang ‘belajar bersama’ (mengaji, aku menggunakan frase ini untuk mereka yang belajar bersamaku : jika kau tak tahu, maka aku pun sama. Karena kita tak tahu, kita tak akan saling mengajari, tapi akan belajar bersama), motor yang berjalan di depanku mirip motor Rizki, teman SMA-ku. Sejenak ingatanku melayang ke masa lalu, ketika masih kecanduan begadang dan keliling kota malam-malam. Lampu belakang motor itu, mengingatkanku, saat aku benar-benar ‘autis’. Tak ada yang menggodaku selain mimpi dan imajinasi.

Bagaimana jika ternyata di Mars ada makhluk seperti manusia? Sedingin apa suhu di Pluto (saat itu belum dikabarkan Pluto telah keluar orbit, dan bukan planet)? Bagaimana jika Papua adalah fosil dinosaurus raksasa? Atau imajinasi-imajinasi tentang wanita : Nirina Zubir, Marshanda, Sulis. Ah, betapa konyol khayalan itu. Pantas, saat itu aku cenderung memicingkan mata saat ada teman wanita yang ‘mendekat’. Tapi, toh bermimpi tidak ada beratnya, bukan?

Jika pun impian yang tak tercapai membuat kita, katakanlah, menderita, di dunia ini apa yang tidak menderita : dalam sudut pandang kepesimisan? Seperti kisah Buddha :

“Manusia adalah makhluk kasian. Mereka harus ditolong,” kata Buddha pada murid-muridnya.
“Mengapa (manusia) kasian, guru?” tanya muridnya.
“Mereka akan terus terjebak dalam samsara selama masih menuruti keinginannya. Mereka akan merasa senang ketika diberi kemudahan dan akan berkeluh kesah ketika tertimpa kemalangan,”
Tapi sebaliknya, para manusia-lah yang menganggap Buddha (orang-orang yang tercerahkan) sebagai manusia kasian. Mengapa ?
“Buddha sangat kasian. Ia tak punya apa-apa, tak memiliki harapan apa-apa, tak memiliki keinginan apa-apa, tak merasakan apa-apa dalam kehidupan, sedih / senang baginya adalah sama : ia bahagia. Ia kasian, karena nikmatnya hidup adalah ketika kita dapat merasakan sedih dan senang,” timpal manusia.

Seperti kisah seorang anak yang takut durian. Tapi ketika mencicipinya, ia ketagihan. Surga, nirvana, jiwa yang moksa sebelum mati, itu mengerikan bagi manusia : karena belum merasakannya.

Seperti dialog kemarin ketika mengunjungi saudara yang sakit.
“Mengapa kamu diam saja?” tanya saudaraku yang sakit.
“Lagi sakit nih,” jawabku.
“Sakit apa?”
“Di sini,” jawabku sambil menunjuk ke hatiku. “Hatiku sakit melihat kamu terbaring sakit begini,”
Ia tersenyum.

Tak pernah aku banyak bicara ketika takziah. Karena mereka sebenarnya hanya butuh teman yang menemani, bukan yang sok tahu tentang penderitaan. Enak sekali, orang yang sehat menceramahi tentang kesehatan pada orang yang sakit.

“Jangan beri obat, berikan ia hati kita, cinta kita. Hati adalah penawar. Seseorang yang memiliki hati (perasaanya masih sehat) ia mampu menyembuhkan dirinya sendiri,” kataku pada seorang teman. “Seperti bangsa ini yang sedang sakit. Jika kita hanya mengobatinya, tak memberikan cinta kita sepenuhnya, bangsa ini tak akan melahirkan manusia-manusia yang akan menyembuhkan dirinya sendiri. Selama perut dan nama – yang kelak hanya akan tertulis di batu nisan – yang diutamakan oleh manusia Indonesia, negara ini hanya akan menjadi ‘bangsa kerbau’,”

Bagiku, guru adalah manusia-manusia yang terlahir lebih dulu. Manusia yang melihat banyak jalan, dan menuntun manusia pada jalan yang benar dari berbagai jalan itu. Berbagai macam watak guru pun lahir di bangsa ini. Ada yang tersibukan dengan kenaikan pangkat, ada yang sekedar berangkat nonkrong di ruang guru lalu merokok dan pulang, ada juga yang mendidik asal-asalan, ada juga (yang tragis) ia yang sepenuh hati mendidik kemudian karena sekolah tak mampu membayar ia tak mendapatkan ‘upah’ sama sekali : sedang keluarga di rumah menanti gaji. Mana yang disebut guru? Bangsa ini akan menjadi ‘bangsa kerbau’ jika para pendidiknya tak paham apa itu mendidik. Akan lahir para pemimpin yang sebenarnya adalah manusia kecil dengan ‘baju’ kedodoran. Para pemimpin yang tak patuh pada nasehat orangtua dulu : jangan makan terlalu banyak, nanti kamu (bergerak) lambat.

Dan lima sahabatku itu adalah guru. Aku sendiri, lebih senang dipanggil ‘pak guru’ oleh rekan-rekan mengajiku (yang liberal itu), meski usia kami relatif sama. Aku tak senang dengan panggilan ‘pak ustadz’. Aku orang Indonesia, bukan arab.


Siapa saja di sana, engkau muslim, kristen, buddha, hindu, konghucu, atau aliran kepercayaan apapun, ayo kita bantu bangsa kita ini. sapa mereka yang sedang tertimpa musibah, beri santunan pada mereka yang miskin, jika engkau tak punya uang, maka beri mereka pendidikan. Selamatkan perbatasan bangsa ini, sumberdaya alam, generasi muda, warisan kebudayaan, sejarah, dan masa depan bangsa ini. Apa yang akan kita ceritakan pada anak cucu kita, jika 250 juta manusia saja tak mampu mengubah bangsa ini? Dan semua ini kita lakukan, untuk bangsa kita sendiri, untuk Indonesia.

Post a Comment

0 Comments