Satire


Aku rasa juga begitu, aku harus menemukan alasan mengapa beberapa hari ini begitu malas. Bangun pagi, berangkat sekolah, inisiatif, beberapa hal itu begitu melemah. Apa karena rasa malas yang bertumpuk? Atau memang sudah saatnya aku mulai mencoba lagi berikhtiar menjemput ‘ia’ yang masih disembunyikan?

Tanggal 7 Januari kemarin aku ke Bandung. Banyak perbincangan perbincangan dengan Pak Sena (dosen) yang aku lupa tak terrekam di sini. Rasa malas pertamaku, barangkali dalam hal ini : menulis. Bukan karena tak ada ide/emosi, barangkali, tapi karena memang aku belum tahu apa yang manjadikanku menjadi malas seperti ini : rasa malas begitu besar yang baru pertama kali ini ku alami. Mungkin juga karena rasa malas ini, keyboard laptop ‘ngambek’, rusak beberapa tombol. Dan akhirnya ku ‘retas’ : ctrl untuk spasi (space), caps lock untuk angka 5, left shift untuk angka 7, dan F10 untuk angka 0. Repot sekali. Aku kira, hanya aku yang bisa pakai ini laptop. Selain keyboardnya yang rusak, juga gambar tombolnya tidak sesuai : @ di tombol . (titik), dan sebagainya. Laptop dan orangnya sama sama susah dimengerti.

Seringkali aku berpikir, mengapa Tuhan mengamanahiku beberapa ‘ujian’ ini : penyampai pesan rasul (apa benar yang ku sampaikan adalah pesan rasul?), pelayan masyarakat kecil, teman (manusia manusia kesepian)? Aku mendapat jawabannya, yaitu : Tuhan tak akan memilih selain diriNya sendiri untuk mengurusi tugas tugasNya di bumi. Tapi aku selalu meragukan itu, dengan segala keterbatasan yang ada. Kecacatan dan kelemahan watakku bahkan membuatku malu pada diri sendiri. Mengapa Tuhan memilih seseorang yang lemah? Agar ia menjadi kuat? Mengapa tak memilih ia yang kuat saja, agar menjadi lebih kuat? Aku jadi mendikte Tuhan.

Mungkin seperti itulah aku seharusnya. Selalu ‘belagu’ berpikir dari orang orang seuasiaku pada umumnya. Sampai ‘Dia’ memberi ‘ujian’ hidup yang over dosis, tak seperti anak muda lain yang seumur denganku. Ketika SMA, anak anak yang lain menikmati masa remaja dengan berpesta, aku menikmati masa itu dengan derita sesama. Perkuliahan pun sama. Ketika para mahasiswa muda bermain ceria, aku telah sadar bahwa istana bernama kampus itu tak akan pernah menunjukan kebenaran hidup padaku. Dan aku pun keluar, di jalanan, menyapa mereka yang gelandangan di bumi Tuhan, kesepian. Apa memang aku harus begitu? Berpikir jauh, over dosis, dari orang orang seusiaku? Melihat murid murid guruku yang suci itu, mengapa Tuhan tak memilih mereka? Mengapa Tuhan memilihku yang, baik Dia ataupun aku sama sama mengerti, aku ini manusia hina? Jika Tuhan memilih orang orang kotor untuk memimpin dunia ini, lalu apa tugas orang orang suci? Hanya hidup wajar dan tekun beribadah padaNya? Mengapa tak jadikan surga saja tempat mereka hidup? Ah, demikianlah aku, si pemuda belagu yang sok mempertanyakan kenyamanan, kemapanan. Karena, bisa jadi, kondisi nyaman itulah keadaan yang sebenarnya membahayakan.


Aku ingat kata kata kakak ke 3, saat bicara tentang penolakanku atas barang barang dari kakak kelima : (pikiran) kamu sangat sulit dimengerti orang lain. Ia mengira, aku benci dan marah pada kakak kelima. Jika aku benci/marah padanya, mengapa tidak aku kacaukan saja sekolah itu dan ‘suksesi’ yang sedang ia lakukan untuk pencalonannya? Mengapa aku harus melayani orang orang yang dulu ia tinggalkan? Mengapa aku harus memenuhi janji yang ia pernah katakan pada orang orang yang ia tinggalkan? Aku ingat kata kata Frigga (ibu Loki dan Thor) : Kamu mudah mengerti orang lain, tapi tidak (bisa) mengerti dirimu sendiri. Seperti aku dengan mimpi dan ide ide gilaku, yang ditertawai oleh pikiranku sendiri. Tindakan yang ia (pikiranku) lakukan padaku selama ini. hidup dalam tertawaan diri sendiri. Satire. 

Post a Comment

0 Comments