Mengapa engkau tertunduk, nak?


Sore itu, Jon bermain ke pantai, laut jawa. Niat awalnya hanya ingin melihat sunset, tapi, biasanya ada 'sesuatu' yang ingin alam tunjukan selain itu.


Benar saja, ia bertemu seorang anak perempuan, mungkin 11 atau 12th yang nampak tertunduk sedih.


"Mengapa kamu tertunduk sedih?" sapa Jon. "Sudah sore, mungkin orangtuamu akan mencarimu."


"Aku tak mau pulang," jawabnya. Si Jon memang cepat akrab, apalagi dengan anak-anak. Mungkin karena tingkahnya yang seperti anak-anak : tuyul.


"Eh, mengapa? Kamu melakukan kesalahan?"


"Bukan," ucapnya. "Aku malu dengan bapak. Apalagi saat dia menjemputku dari sekolah dengan sepeda yang penuh barang-barang rongsok."


"Em, itu pekerjaan bapakmu?"


"Ya, tukang rongsok. Aku selalu tertunduk saat dibonceng bapak,"


"Apakah bapakmu mencuri?"


"Tidak. Ia selalu izin pada orang pemilik rumah jika akan mengambil barang-barang rongsokan dari perumahan,"


"Apakah bapakmu menipu?"


"Tidak. Ia orang yang sangat jujur,"


"Lalu, mengapa kamu malu?"


"Karena, ah..." ia tak melanjutkan.


"Lihat kerang ini," Jon mengambil kerang jelek yang sudah rusak. "Andaikan kerang ini adalah bapakmu, maukah kamu menjadi mutiaranya?" Jon mengusap kepalanya. "Mungkin benar, bapakmu tak menjemputmu dengan mobil dan pakaian dinas (PNS), tapi ia bapak kamu yang baik hati dan jujur. Suatu saat, kamu akan paham seperti apa hebatnya 2 sifat itu,"


Dari kejauhan, nampak bapak-bapak setengah baya dengan sepeda federalnya.


"Itu, bapak kamu datang. Lihat senyum cerahnya, kamu akan merindukannya kelak saat kamu dewasa,"


Si anak nampak terharu. Ia berlari menjemput bapaknya. Dari kejauhan ia melambaikan tangan pada Jon. "Kakak...! Terima kasih yaaa...!"


Jon membalas lambaian tangannya. Ia menghela nafas panjang. Tak pernah ia berhenti mengkhawatirkannya,  atau  anak-anak seusianya : akan menjadi apa ia dengan dunia yang semakin gila ini?

Post a Comment

0 Comments