Cinta

“You've gotta dance like there's nobody watching,
Love like you'll never be hurt,
Sing like there's nobody listening,
And live like it's heaven on earth.” 
― William W. Purkey

Entah mengapa, dua hari ini tanganku seakan enggan untuk berdekatan dengan kata. Ada satu buku novel yang harus segera ku selesaikan, Petualangan Jon Quixote, tapi rasanya malas sekali untuk melanjut ke judul selanjutnya : sedang ide berjubel di pikiran. Seperti sudah begitu damai hidupku ini. Tak penat oleh 'perang' intelektual lagi. Terkadang aku berpikir, untuk apa memiliki pemikiran seperti ini jika ternyata aku tak tahu kemana harus mengalirkannya. Atau, satu kekhawatiran bahwa apa yang aku pikirkan ini salah, sampai sampai aku tak punya teman untuk berdiskusi tentang ini. Hidupku memang sudah tak bermainstream, tapi terkadang aku sangat yakin bahwa jiwa ini memang benar benar gelandangan. Tak punya apa apa, tak boleh menginginkan apa apa, hanya melakukan pekerjaan 'tiba tiba' yang sesuai untuk seorang gelandangan.

Seorang gelandangan bebas melakukan apa saja, sekaligus terbatas : melakukan hal hal menjijikan (dilihat dari kacamata manusia normal). Seorang gelandangan menari seperti orang gila. Merasa tak ada yang melihatnya, tak punya rasa malu, atau segan. Ia juga menyanyi bebas, seperti ucapan seseorang : Ketika tak ada orang yang mendengarmu, maka kau bebas (berkata apa saja). Hidup mengalir, tak terbatasi oleh beban hidup, merasa bahagia dalam derita atau kesenangan. Seperti perasaan yang beda tipis dialami seseorang yang jatuh cinta.

Dalam novel itu akan aku buka semua perasaan si Jon, terutama pada wanita ketiga yang ia cintai. Harapannya ketika hanya sebatas mengungkapkan cinta saja, namun tertanggapi ketertutupan sedemikian rupa. Ia bersyair :

Terlalu lirih bisikan hati ini
Ketika kau berkata benci
Ia terdengar seperti kebohongan diri
Aku terus menatapmu, berlari

Kau tahu, roses rouges
Mengungkapkan adalah jalanku
Tapi itu bukan tujuan
Aku seperti sang musafir
Yang datang hanya sebentar
Lalu kembali melanjutkan perjalanan

Perbatasan bangsa ini menantiku
Dan Roxinantie telah menunggu tak sabar
Mengacu kaki kainya yang kekar
Menuju medan perang yang besar

Tapi mengapa kau lari
Ketika ku baru saja menunjukan hati?
Begitu buruk kah?
Begitu menyedihkan kah cinta ini?

Aku adalah Hanzalah
Tak sanggup berduaan nyaman
Ketika dunia memintaku untuk perang
Kau cintaku, bangsa ini ruhku
Apa yang harus ku pilih?

Entah ini novel akan selesai kapan, karena sebenarnya aku membutnya dua jilid.

Post a Comment

0 Comments