Ya Rasulullah,

Aku tahu engkau datang ketika kami memanggil. Untuk mereka yang tak paham, suara musik kulit kambing itu pasti memekakan telinga : berisik mengganggu. Ya Rasul, apakah engkau marah dengan umatmu yang awam? Atau pada para ustadz yang sekedar belajar pada permukaan : langit Nya? Atau engkau marah padaku, karena aku yang melihatmu setiap kami memanggilmu, tak mampu apa apa ketika umat ini bernyanyi tanpa memahami?

Jangan marah wahai rasulullah. Kami melakukan ini karena cinta : padamu. Engkau yang memahami cinta Nya pasti paham, apa efek ketika kami mencintai Nya. Kami bodoh, kami tak peduli apapun, kami tuli, buta, karena cinta : pada Nya. Engkau mendengar nyanyian kami setelah adzan, wahai rasul? Itu adalah suara suara kerinduan padamu. Kami tak mengingat apapun saat melantunkan itu : selain engkau dan Dia. Itu kami lakukan karena keawaman kami. Akankah Isa ibn Maryam akan marah, ketika domba gembalanya sedikit tersesat karena tak melihatnya di arah belakang? Dan engkau lah sang arhamu rahimin, cahaya penyayang dari sang maha penyayang.

Maafkan kami, wahai rasul, jika kami tak menyayangi orang orang miskin. Mementingkan dan hanya memikirkan diri kami sendiri. Maafkan kami dengan kedangkalan ilmu kami atasmu. Maafkan kesibukan kami yang tak seberapa sampai kami melupakan Nya. Ingatkan kami wahai rasul, ketika kami menjauh darimu, dari Nya. Betapapun sakitnya suatu bencana, kami membutuhkannya : agar kembali pada Nya. Betapapun menyakitkannya ditinggalkan, kami harus menerimanya. Karena kami membutuhkan rasa sakit untuk menguatkan mental dan melembutkan jiwa kami. Tuntun kami wahai rasul, agar selalu dalam jalanmu, jalan para nabi dan rasul.

Wahai rasul,
Temani kami,
Seperti Tuhan yang selalu menemani Ibrahim
Menuntun jalannya
Dari bulan yang menemaninya sendiri dalam malam
Bintang yang begitu banyak dan membingungkan
Atau matahari yang kuat terbakar sendiri

Lawan kami selalu diri sendiri
Keinginan berteman dengan buruknya pikiran
Seperti musafir pencari wadah air
Di tengah padang pasir

Telaga gurun menggoda untuk meminumnya
Tapi ketika cawan itu didapat
Hilanglah itu fatamorgana
Ia melihat nafsu sebagai Tuhannya

Seperti ia yang menuju kota 1001
Ketika sampai pada kota kelima
Ia merasa telah jauh berkelana
Kaki berhenti merasa telah begitu tinggi

Ya rasulullah,
Kota Ilmu adalah engkau
Dan pintunya adalah sang karamallahu wajhah
Mengapa kami enggan mendekatinya?

Ketika pancaran ilmu,
Hanya bayangannya saja
Kami merasa telah mendapatkannya
Lalu lupa dengan ajaran dan ujaran yang kau bawa

Kepandaian membuat kami bertengkar
Keimanan membuat setan bebas berjalan dalam pikiran
Amal perbuatan kami sebut sebut tak karuan
Seperti anjing yang menggonggong dari dalam kandang

Ya rasulullah
Izinkan kami melewati jalanmu yang perih
Menahan lapar dan derita kaum tak berkekuatan
Menerima hinaan dan cela dengan senyuman
Seperti engkau yang selalu mendoakan kebaikan
Pada mereka yang menyerang dengan kebodohan

Ya rasulullah,
Badan yang sakit ini tak seberapa
Jika dibandingkan dengan kerinduan
Dan sakit hati yang tak terperi
Ketika melihatmu pergi

Ya rasulallah,
Sampai ini ku hanya bisa berkata
Dengan dosa dan kotornya jiwa ini
Bahwa cinta yang Ia beri
Kan ku bawa di hadapanmu

Ya rasulallah,
Lisan ini mampu berdusta
Akal pikiranku yang pintar merangkai kata
Tapi engkau tahu jiwaku, ya rasulallah
Yang selalu berperang
Melawan pikiran yang lupa
Tak bershalawat kepadamu saja
Shalallah 'ala muhammad
Shalallah 'ala muhammad
Shalallah 'ala muhammad
Nuron 'ala nuurin
Fauqo nuurin..

Bacaan selanjutnya

Qutiba alaikumul qital                                                                                Muda sang nabi 

Post a Comment

0 Comments