Tuhanku Bukan Allah

Selepas maghrib, Jon terlihat membuka qur'annya. Ia nampaknya sudah berani lagi mengaji. Tidak seperti kemarin, karena tiap membaca ayat-ayat itu, katanya, matanya terasa berat, mengantuk, lalu matanya tertutup namun mulutnya berbisik-bisik seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Dan, ah, ia menyandarkan duduknya pada dinding mushola. Mulutnya menguap, terlihat mengantuk.
"Tuhanku bukan Allah," ia mengigau.
"Ajib, murtad si Jon ini?" aku yg duduk di sampingnya, menggumam.
"Aku menyembah Ia yg tak bisa disebutkan. Sedang aku menamai-Nya, Allah. Tapi aku tak menyembah Allah, aku menyembah Ia, di balik Allah,"
"Ngomong opo iki bocah. Tidur kok yo ngelindurnya kebangetan?" aku berkata-kata sendiri.
"Itukah mengapa Aku, atau Ia, mengatakan pada diriku, agar tawashow bil haq wa tawashow bishshobr? Ketika kau melihat-Nya, ah, mengapa Aku begitu banyak? Ketika si anu salah, dia adalah Aku, hingga Aku harus mengingatkan diri-Ku sendiri, dalam kebenaran, dalam kesabaran. Ketika seseorang menjahatiku, ia adalah aku yg lupa, yg menjahati diriku sendiri. Maka aku harus mengingatkannya. Ia yg menjadikan seseorang melakukan kesalahan, dan aku melihat itu, maka aku harus mengingatkannya karena ia adalah aku-aku juga."
"Hadeeh... Untung suaranya lirih. Coba kalau keras, bisa gempar jamaah mushola ini," kataku lagi.
"Akalku benar-benar dangkal. Akal hanya mampu menyentuh permukaan samudera qur'an. Akal tak akan pernah sanggup menenggelamkan diri dalam samudera qur'an. Ketika kaki-kaki akal baru saja masuk di dalam samudera qur'an, ia akan kehilangan kesadaran. Ia akan kebingungan, siapa aku ini? Dia, kau, ini, itu, mengapa terlihat sebagai Aku? Dan ketika telah tenggelam, ah, pantas saja para ahli kitab mengatakan Rasululloh sebagai pengarang qur'an. Mereka menganggap tenggelamnya jiwa Muhammad dalam samudera qur'an naqli, seperti tenggelamnya mereka dalam kitab-kitab terdahulu yg telah terkotori. Allahuma sholli 'ala Muhammad,"
Aku terkaget, bersamaan suara adzan, Jon terbangun.

Post a Comment

0 Comments