Tuhan tak harus ada (2)

Hari ini, aku terbangun tanpa Ia. Rasanya begitu sakit ketika menjalani kenyataan, bahwa Ia – Tuhan – telah hilang. Pada apa lagi aku harus percaya? Diriku sendiri? Kini aku paham, tidak ada apapun yang terjadi kecuali kita yang membuatnya : termasuk ‘keajaiban’.

Nietczhe berkata, Tuhan telah mati. Karena Ia adalah ‘penyembah’ Yesus. Kini aku paham, apa yang ia maksudkan. Tuhan telah hilang, setelah aku yakin bahwa Ia-lah satu-satunya yang ‘Ada’. Tetapi, ‘ada’ adalah konsep dari akal, dan apapun yang lahir dari akal adalah hasil olahan indera. Bagaimana mungkin selama ini aku meyakini apa yang seharusnya aku ketahui? Akal, sampai kapanpun terlalu lemah untuk menyentuh wilayah ketuhanan. Jika ‘ada’ adalah produk akal, mengapa aku meyakini apa yang seharusnya aku logikakan?

Dari mana aku (semua ini) berasal, jika Tuhan – personal – tidak ada?

Jika semua ini tak nyata, mengapa kita mau hidup dalam kepalsuan?


Mengapa aku harus memikirkan ini? Bukankah urusan yang orang-orang sebut 'realistis' - tugas-tugas sekolah itu - sudah sedemikian rumit? 

Kini benar-benar jiwaku sakit. Pada siapa aku meminta pertolongan, jika Ia ternyata tidak ada?

Bacaan selanjutnya

Menyekutukan Tuhan dengan khusyu                                               Allahnya nggak ada...? 

Post a Comment

0 Comments