Refleksi akhir tahun 2013

Oleh :  Jon Quixote

Jika masa lalumu itu indah, apakah kau bisa menetap di sana?
Jika masa lalumu itu buruk, mengapa kau masih saja menyesalinya?
Biarkan ia menetap di sana,
Dan mengalirlah menuju masa depan

Penerimaan diri memang berat. Ketika seseorang menyesali apa yang telah lalu, ia tak menyesali peristiwa itu an sich, tapi ia menyesali dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa. Lalu kita terjebak dalam perenungan, ‘mengapa – yang tak seharusnya – ini terjadi?’ Berapa banyak di antara kita yang merasa tak berdaya oleh keadaan, lalu kita seakan melambaikan tangan pada setiap waktu yang bergerak di hadapan kita – tanpa mampu berubah lebih baik. Dan mimpi, seperti kata Coelho, kita lebih takut kehilangannya, daripada mewujudkannya (karena saat mimpi terwujud, ia secara otomatis menghilang). Perspektif tragis, tapi itulah – kebanyakan – kita.

Tahun 2013, tanggal 2 Januari, amanah itu – memimpin sekolah sekarat – aku terima. Sebelumnya, berapa kali aku katakan – bahkan sampai saat ini pun masih – pada keluargaku, keinginanku untuk hidup, untuk menginginkan apapun, entahlah, rasanya telah hilang. Aku sudah tak menginginkan apa-apa lagi. Termasuk ‘tahta kecil’ itu. Barangkali, kehidupan masa mudaku (memangnya sudah tua lu?) yang terlewati begitu ‘kejam’, membuat segala keinginan itu bosan menetap tinggal dalam pikiran. Membuatku serasa tak berkeinginan, atau kata Baghawad Gita, melakukan tindakan yang tak berkeinginan. Satu cerita lucu, beberapa bulan sebelum aku menjadi pimpinan sekolah, seorang pegawai swasta dinas pendidikan memarahiku. Bagaimana ceritanya?

Tahun 2011 sampai 2013 menjelang akhir, aku berprofesi tambahan jadi tukang becak, mencari rumput untuk sapi-sapi. Saat itu, jerami yang ku bawa begitu banyak, sampai menutupi arah pandangan depan. Sang pejabat memarkir motornya agak menjorok ke jalan, selain sudah begitu lelah, benar-benar aku tak melihatnya. Menempel-lah roda becak pada motor itu – lalu jatuh. Seperti masyarakat pada umumnya, ketika ada orang miskin – tukang becak, pemulung, pengemis – melakukan kesalahan sedikit saja, rasanya itu menjadi bahan ‘hujatan (bukan hajatan) bersama’ mereka, orang-orang kaya. Disidang-lah si tukang becak (saya) ramai-ramai di pinggir jalan. Kemarahan, kebencian, nuansa jijik (pada tukang becak yang gembel itu alias saya) terlampiaskan. Aku hanya tersenyum, tenang. Tidak ada perasaan takut sedikitpun, marah, benci, atau keinginan balas dendam. Anti klimak (penurunan ketegangan) terjadi, ketika ia menanyakan anak siapa tukang becak brengsek dan gembel itu (saya). Ia sendiri yang menginterogasi, ia sendiri yang malu, setelah tahu anak siapa – dari keluarga siapa – si tukang becak sialan itu (saya, lagi,he). Tapi tetap, dia minta pertanggungjawaban (halah!), oke, saya kasih dia uang untuk skotlet bodi motornya yang lecet-lecet. Tukang becak memberi santunan pada pegawai dinas??? Mulai Januari itulah, ia malu-malu (tai) kucing tiap bertemu denganku : padahal saya biasa saja.

Lalu, apa yang ia ceritakan pada teman-teman kantornya?

“Saya ditabrak sama pak Jon (saya), sampai kaki saya terkilir,” ditabrak becak? Terkilir? Bukannya dia ada di dalam salon saat motornya saya, baiklah, tabrak? Saya mendengar ini dari teman kerjanya yang dekat dengan salah satu guru sekolah yang saya pimpin.

Aku tertawa mendengarnya. Sudah disidang, dikasih uang – oleh manusia kere macam saya, membuat berita palsu pula. Tapi, justru aku tertawa, sedikitpun tak merasa marah. Dunia(ku) ini konyol, daripada marah-marah, lebih baik menertawakannya.

Bulan Februari, mendapat dua ‘kabar mantap’ dari masyarakat. Pertama, sekolah kere itu mendapat bantuan dari Amerika Serikat sebesar (besar atau kecil?) 450 juta rupiah. Mantap. Tawa saya begitu meledak – konyol sekali. Masyarakat geger, sekolah dapat bantuan banyak kok tak ada pembangunan sama sekali? Bahkan toilet guru pun sekola itu belum punya! Hahaha, konyol!

Kabar kedua, inspektorat dari provinsi datang, akan melakukan audit karena telah menerima bantuan sebesar 30 juta. Hadeuh, ingin rasanya saya lempar buku rekening kosong itu ke wajah bapak (yang terhormat) inspektorat. Tapi, demikianlah, kehidupanku begitu ‘indah’, dari sangat muda, aku telah ‘dipaksa’ untuk belajar tua : bijak (?). Sekali lagi, daripada marah, mending tertawa : dengan air muka sedih. Orang gila.

Selama satu semester, system dan menejemen sekolah saya ‘revolusi’. Pembinaan guru tiap minggu (karena dulu kakak saya, mantan kepala) merekrut guru seadanya, gaji saya naikan dengan konsekuensi saya tak mengambilnya, saran dan kritik saya minta dari semua guru, pengajian orang tua saya yang pegang. Selama satu semester itu, saya membuat penilaian pada dua guru – yang pada akhirnya diberhentikan sementara. Di bulan Juli, ramadhan, dua guru itu ‘berkonfilk’ denganku. Mengapa?

Sekolah itu begitu sekarat. Saya menghendaki guru-guru yang open minded, menerima kritik, mau bekerja sama, sadar diri. Oke, jika sekolah itu sudah agak maju, mereka boleh bekerja di sini kembali, tapi saat ini, saat sekolah masih ‘merangkak’, guru-guru seperti itu tak saya butuhkan. Bukan hanya dengan mereka, dengan yayasan pun saya konflik. Saya mengajukan pengunduran diri – yang tentu saja ditolak. Siapa lagi yang mau (dengan sangat bodoh) dikorbankan dalam jabatan panas itu? Kondisi saat itu benar-benar ‘panas’. Saya dengan kakak sempat ‘perang diam’, tak menyapa tak saling berbicara. Saya terbiasa hidup dijalanan, ketika memegang sesuatu, saya harus memiliki kendali penuh, di samping kritik dan pengawasan (control) tetap dilakukan.

Sebelumnya, bulan Mei, aku masih inga tanggal 11 jam 10.30 malam, aku mengirim sms pada ‘dia’ – yang bulan November 2013 menikah. Seseorang yang aku cintai tanpa pernah menghargai sedikitpun – bahasa alay-nya – perjuanganku untuk menjadi seperti ini. Ibarat anak kecil, aku adalah anak kecil yang mencintai pesawat terbang yang melintas di atas langit, tanpa sedikitpun pesawat itu tahu bahwa ada di bawah sana anak kecil yang sangat mencintainya. Apakah tidak aku buktikan? Ckckck, semua karya nyata – yang sama sekali tak bisa ia ciptakan – tak ia anggap apa-apa. Lalu, sms apa yang ku kirimkan?

Udah tidur? Udah pernah nonton film ‘Wreck it Ralph’”
“U don’t know what its like to be rejected and treated like a criminal!” kata Felix.
“Yes, I do! That’s everyday of my life,” ucap Ralph.
Mybe right, I did a crime to u, but I’m not a criminal. I’m not a badman. Everyone doing a bad act something ever. But, not automatically their being bad people’s. Just bad act, but not bad people.
Pernah membayangkan seorang Jon putus asa lalu meninggalkan orang-orang yang membutuhkannya? I’m so sorry about that, and I know u’re nice girl.

Tapi, seseorang yang benar-benar mencintai, ia akan tetap bahagia sekalipun orang yang ia cintai bersanding dengan orang lain. Cinta harus memiliki – kalau (dengan terpaksa) meminjam kata Pak Mario, tapi jika saling mencintai. Jika tidak, maka bukan suatu keharusan. Mengapa harus memaksa orang lain agar mencintai kita?

Baiklah, lanjut.

Selepas lebaran haji, aku dibelikan motor oleh kakak, sebagai – katakanlah – hasil kerjaku menggembala sapi. Aku terima, tapi kemudian tak ku pakai. aku justru berangkat kerja pakai sepeda balap yang bapak belikan saat aku SMA. Kakak marah, tapi aku cuek. Tidak akan lagi, aku menerima apapun dari seseorang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya. Aku tak meminta, kau yang memberi, mengapa kau menyebut-nyebut seakan aku meminta-minta? Betul, hidupku ini nyaris tak modal. Maka, sebentar lagi, nutbuk (notebook) yang ia berikan pun akan ku kembalikan. Aku akan membeli sendiri, sekalipun second. Aku tak pernah meminta – untuk diriku sendiri, bahkan pada Tuhan!

Memasuki bulan-bulan akhir, saya mondar-mandir ke Bandung. Hampir tiap bulan. Menemani teman-teman HMI dan PMII diskusi. Aneh saja, saya bukan orang yang paham tentang filsafat, tapi mereka meminta saya untuk banyak berbicara tentang itu. Yang saya pahami, betul memang ahli filsafat muda banyak di luar sana, tapi yang mau dengan senang hati menemani mereka tanpa paksaan, imbalan, mungkin hanya saya.
Bulan Desember, urusan sekolah sudah di hendel bendahara dan Wakasek. Saya hanya memikirkan infrstruktur. Entah ke siapa saya akan ‘mengemis’ untuk sekolah itu, apalagi untuk membangun kelas. Haha, tragis.

Dua kabar di bulan terakhir itu yang nampaknya baik adalah : pertama tentang seorang teman yang menghilang dua tahun ini (saya senang sekali dia masih mau menghubungiku), kedua, tentang seorang gadis remaja yang memiliki banyak mimpi.

Pertama, tentang teman, sahabat lama saya itu. Ia menghilang selama dua tahun, hingga kami (teman-teman forum) telah lulus kuliah semua. Kemarin dia menghubungiku, untuk membantu teman yang lain yang kesulitan menghadapi penyelesaian skripsi. Siap, aku katakan. Sebenarnya, pada HMI dan PMII Bandung pun, aku menyediakan waktu tiap bulan 1x untuk menemani mereka diskusi bebas. Hanya saja, nampaknya mereka tak menganggapku serius – dengan tidak membuatkan jadwalnya. Hari Jumat besok, aku akan kesana, bertemu dengan teman-teman lamaku itu, menemani mereka menyelesaikan tugas akhir itu.

Kedua, tentang gadis remaja yang penuh mimpi – entah mengapa tiba-tiba aku rasa menyukainya. Tiap anak muda harus memiliki mimpi, untuk mengukur seberapa kuat dan besar kualitas hidup mereka. Pada akhirnya, sebagian besar anak-anak muda menyerah, karena menganggap pencapaian mimpi menuntut pengorbanan yang begitu besar. Tapi entah dengannya, mudah-mudahan, ia dapat mewujudkan mimpinya itu : menjadi perawat yang masuk ke pelosok-pelosok desa. Berjalanlah, maka jalan akan terbentang di depanmu. Dua macam pria yang menjadi pilihannya adalah – sebaiknya, jika bukan anak seorang konglomerat yang suka sibuk keluar rumah, maka laki-laki modern. Mengapa? Tugas itu menuntutnya untuk selalu berada di luar rumah. Dan itu akan menjadi wajar untuk dua macam pria tersebut. Aku, tak termasuk. (hehe) :p

Bagaimana denganku?

Aku menghendaki kehidupan yang sederhana (meski nampaknya kehidupan tak akan setuju)
Mencintai seorang gadis sederhana : siapakah nantinya?
Aku akan menunggunya – selama apapun, dalam perjuangan itu
Biarlah orang-orang menganggapku seperti Elang
Gagah perkasa terlihat di atas sana
Tapi aku hanya ingin menjadi seperti  merpati di sampingmu, sayangku
Menghabiskan hari bersama
Menikmati senja di taman depan rumah kita

Hanya itu, sungguh

Ditulis tadi malam, 31 Desember 2013, goodbye the past.

Post a Comment

1 Comments