Tuhan tidak harus ada

Qur’an adalah kata-kata abadi. Ketika di dalamnya dikatakan – misalnya, bahwa bangsa Arab (Mekkah) adalah bangsa jahil atau bodoh, itu bukan berlaku untuk saat itu saja. Tetapi juga untuk saat ini. Mengapa Muhammad muncul  di Arab? Salah satunya, karena negeri itu adalah prototipe dunia saat ini, bahkan hingga kiamat : beragama, tapi goblok. Mengapa qur’an adalah penyempurna kitab? Karena manusia setelah rasulullah – nabi dengan mukjizat itu, adalah manusia-manusia bodoh. Bahwa manusia setelah generasi beliau adalah manusia-manusia bodoh, yang bahkan ketika telah hadir dalam sejarah empat manusia dengan mazhabnya masing-masing pun, kita bukan semakin paham, tapi sebaliknya, semakin bodoh dan saling bermusuhan. Keadaan seperti ini akan berlanjut sampai kiamat, ketika – konon – datangnya Al Mahdi : Mahmud-Ahmad-Muhammad.

Secepat mungkin manusia harus ‘memutus’ tanggung jawab Tuhan padanya. Segala apa yang terjadi bukan karena tindakan Tuhan, tetapi murni ulah manusia. Tidak ada Tuhan yang memberi kemudahan ketika kau rajin sholat (kau kira sholat itu bermanfaat untuk Tuhan? Lemah sekali Tuhanmu itu?), memberimu penyakit HIV karena kau rajin melacur, tidak ada Tuhan yang berdiri ‘di atas sana’ yang mengawasi, yang menghukum, yang mengatur segala sesuatu. Selama ini, kita hanya menyembah ‘ilusi’ kita sendiri : Tentang Tuhan personal di luar diri manusia. Tidak ada yang benar-benar terpisah dari diri kita, bahkan Tuhan. Sangat susah mengatakan diri kita adalah Tuhan, tapi menganggap bahwa Tuhan berada ‘di luar sana’ atau ‘di atas sana’, adalah kebodohan luar biasa : yang konyolnya kita meyakini itu.

Perdebatan antara Jabariyah dan Qodariyah hanya untuk mereka yang buta sebelah mata. Mana manusia, mana Tuhan? Manusia tidak ada, karena yang ‘ada’ hanya Tuhan. Tapi, kata ‘ada’ itu adalah produk akal, sedangkan akal (logika) sangat cacat jika harus menyentuh wilayah ketuhanan. Jadi? Kesimpulannya adalah, bahwa Tuhan tidak harus ‘ada’. Tuhan melampaui konsep ‘ada’ ataupun ‘tidak ada’. Terlebih lagi, ketika agama menjadikan penganutnya bodoh, Tuhan tak bisa diberikan ‘tanggung jawab’, bahwa Ia-lah yang menghendaki semua itu. Tidak ada! Tidak ada Tuhan yang menghendaki seperti itu. Mutlak kebodohan yang kita bahagia di dalamnya adalah keputusan kita : entah disadari atau tidak.

Tidak ada yang benar-benar terpisah dari diri kita sendiri : Tuhan. Mengapa manusia harus saling mengenal? Setiap apapun yang ‘terpisah’ dari diri kita adalah kita dalam bentuk (wujud) yang lain. Apakah hujan, petir, bergeraknya bulan-bumi-matahari, bencana, terjadi begitu saja, jika Tuhan ‘di atas sana’ memang tidak ada? Kesadaran. Manusia tak akan pernah ‘tahu’ apa rahasianya selama kesadarannya masih tertutup oleh akal. Benar, dengan akal manusia mampu mengerti qur’an, tapi akal tak akan mampu membawanya menuju kesadaran terbesar : bahwa qur’an adalah kata-kata kita sendiri sebelum ‘menjadi’ seperti ini. Kita ‘membuat’ pedoman untuk diri kita sendiri yang ‘seperti ini’ agar selalu kembali (awwab/tawbat) kepada kesadaran asal, agar jangan tersesat : juga dengan apa yang kita buat sendiri.

Di awal aku katakan, bahwa manusia beragama saat ini – sebagian besar – adalah manusia-manusia goblok. Menganggap dengan rajin beribadah dan bekerja kita harus kaya. Siapa nabi yang mengajarkan kekayaan? Daud? Ia tergodaa oleh iblis yang menyamar perempuan di saat menjelang kematiannya. Sulaiman? Ia mati tegang, terduduk, menyesal, karena telah berdoa memiliki ‘setengah’ kerajaan Tuhan.

Kita mengimani rasulullah, tapi kita tak meniru hidupnya, seluruhnya. Kita rajin ibadah, tahajud, sedekah, tapi juga menumpuk harta. Meyakini bahwa umat Islam harus kaya : individu. Tidakkah mereka, para ulama kaya berpikir, bahwa nabinya pernah lapar bahkan terganjal batu hanya karena terus menerus memberikan makannya untuk orang lain? Umat Islam harus kaya, tapi seluruhnya, menyebar, mengalir, merata, jika tidak mau memberi Cuma-Cuma, berikanlah perkerjaan untuk mereka yang putus asa menganggur. Konyol sekali dengan mereka – sebagian ulama kaya, yang terpengaruh jaman dan menganggap bahwa ulama miskin adalah ulama yang tak makbul doanya.

Itu semua karena apa? Tuhan-lah yang mereka anggap bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di dunia ini, dengan berkata : semua ini kehendak Allah. Untuk apa tangan (kekuasaan) dan seragam (kekayaan) yang kita miliki?

Apakah mereka – para ulama kaya – tak berpikir, mengapa perbudakan masih saja disebut dalam qur’an, sedangkan perbudakan telah dihapuskan di dunia ini, dan mereka – umat Islam – harus membebaskan itu? Apakah mereka berpikir perbudakan sudah hilang? Mereka, para relawan yang nyaris bekerja percuma, mereka, pendidik-pendidik yang harus stress antara memikirkan tugas hidup dan urusan perut, mereka yang perang, mereka, para penjaga hutan dan laut dari tangan-tangan manusia goblok : mereka adalah ‘budak-budak kebenaran’ yang harus dibebaskan. Siapa yang bisa? Orang-orang kaya!


Bersambung,

Bacaan selanjutnya

Tuhan tak harus ada (Bag. II)                                                         Tuhanku berhala


Post a Comment

0 Comments