Hidup itu harus kaya : harta!

Kini pemahaman tentang surga dan neraka harus diganti. Neraka bukan hanya untuk para penjahat, melainkan sebaliknya, untuk orang-orang ikhlas yang tak merasakan bahwa ia sebenarnya berada dalam penderitaan (neraka). Sebaliknya surga, teruntuk mereka yang kaya, namun tetap rajin ibadah. Untuk itulah surga ada. Kesimpulannya, adalah konsep keadilan. Surga adalah neraka untuk para penjahat, tetapi juga tak berarti untuk para mukhlisin : orang-orang ikhlas. Karena orang ikhlas, akan ditempatkan di mana saja, sama saja : rasanya. Neraka adalah surga, untuk para penjahat, juga bisa saja untuk para mukhlisin : orang yang tetap bahagia di mana dan kapan saja mereka berada. Orang-orang yang hidup kaya dan rajin ibadah, mereka akan di masukan ke surga berdampingan dengan rasulullah yang hidup miskin. Tingkatan surganya juga hanya satu level. Berbeda dengan orang-orang miskin, yang harus mendaki tangga super tinggi dan jauh untuk menjangkau surga rasulullah, meski dulu di dunia sama-sama miskin. Konsep adil.

Jadi hiduplah kaya, atau, meminjam istilah para ulama kaya : HIDUP ITU HARUS KAYA (HARTA). Hadits yang digunakan juga shahih, yaitu hadits yang diucapkan rasulullah ketika Ka’ab bin Malik akan menyerahkan semua hartanya, setelah ia terlepas dari ‘fatwa’ munafik : tersebab menolak pergi berjihad. Lebih baik meninggalkan anak istri dengan kekayaan, daripada mereka harus meminta-minta : mengemis. Di sisi lain, agaknya rasulullah ‘munafik’ dengan apa yang diucapkannya itu. Karena saat beliau wafat, keadaan Fatimah sangatlah miskin, bahkan hanya beberapa orang – sesama orang miskin – yang melayatnya. Begitupun para sahabat. Umar yang menaklukan Persia, wafat hanya meninggalkan beberapa dirham. Khalid bin Walid, sang panglima perang nan gagah, hanya meninggalkan sedikit dirham dan seorang budak yang sebenarnya sudah ia bebaskan. Sholahudin Al Ayyubi, tabi’it tabi’in, sang ‘pangeran yerusalem’, wafat hanya meninggalkan tak lebih dari 60 dirham. Akan sangat wajar, jika fastabiqud dunya alias mengejar dunia dilakukan para penerus nabi – ulama. Karena ulama memang harus kaya. Ulama yang tak kaya, tak akan dianggap oleh masyarakat. Tak peduli anggapan Tuhan bagaimana : yang penting kaya dan rajin tahajud. Jikapun rasulullah dan para sahabat ‘menyebarkan’ hartanya seperti kran penyiram air mancur – yang menyebar ke segala arah – itu ‘kan dulu. Jaman telah berubah.


Seorang anak muda harus ‘terhukumi’ sesat hanya karena mengatakan : aku tak berharap lagi bahkan pada Tuhan. Orang-orang tak tahu kehidupan seperti apa yang membuatnya berani berkata seperti itu. Ia telah gila, tak mampu membedakan mana penderitaan mana kesenangan : karena dua-duanya membuatnya bahagia. Ia telah kehilangan hasrat hidupnya, bahkan hasratnya untuk berhasrat, keinginannya untuk berkeinginan. Ia tak berpikir apa-apa, karena itulah disebut gila, sableng. Apakah itu yang disebut ikhlas? Tidak mungkin, seorang gila disebut ikhlas. Orang-orang ikhlas adalah para ulama. Sebagian ulama kaya : merekalah para mukhlisin sebenarnya.

Post a Comment

0 Comments