Apa saja

Akun Facebook telah ku tutup – lagi. Mungkin kali ini agak lama, atau mungkin juga selamanya. Sebenarnya akan aku tutup sejak lama, ternyata ada beberapa sahabat yang masih asyik membaca catatan-catatanku ‘dari masa lalu’. Memang ada sekitar 600-an judul. Ah, rasanya seperti seorang penulis hebat saja. Tulisan-tulisannya dicari-cari bahkan saat masih belajar menulis – sampai sekarang juga masih belajar. Tulisan-tulisan ‘aneh’.

Kalaupun – misalnya, aku tak sempat membuka facebook lagi, pasword telah ku tuliskan di papan tulis kecil di kamarku. Siapa saja bisa membukanya – jika misalnya ternyata umurku tak sempat membuka itu lagi. Nampaknya serius sekali? (Hehe).

Ah, tentang papan tulis kecil di kamar. Itu berawal dari ketidaksengajaan. Dulu, dua tahun terakhir kuliah, aku mengontrak ‘gudang’ sebuah rumah yang aku sulap jadi kamar penuh buku, dan, tak sengaja di sana, di dinding gudang itu, ada papan tulis putih. Satu kebetulan, aku gunakan papan putih itu untuk mencatat ide-ide dan inspirasi picisan selama masa akhir mahasiswa itu. Sejak muda, aku terbiasa berkreasi dalam keterbatasan. Tidak hebat, jika kita mampu, lalu kita berkarya. Tapi satu ‘keajaiban’, jika kita – dalam berbagai hal – terbatas, tapi tetap mampu berkarya. Saat aku pulang, aku pasang juga papan tulis di kamar ini. Salah satu tulisannya, ya itu, pasword akun-akun dunia maya. Kini aku tak percaya apapun selain akhir kehidupan. Dan pasword ini, mungkin akan dihapus oleh ibu – yang mengira tulisan-tulisan itu sampah, tapi masih ada kemungkinan itu dibuka oleh seseorang setelah ketiadaanku : mungkin.

Sejak aku mampu belajar berpikir ‘berat’ – mungkin SMP kelas 2, aku mengira kehidupan ini adalah kebermanfaatan. Tapi hingga beberapa hari kemarin, aku tersadar, ternyata kehidupan ini bukan apa-apa. Ugly truth, kalau kata film. Kebenarannya memang menyakitkan. Tiap orang yang hidup penuh motivasi, ia akan berkata, tidak ada yang percuma, dunia ini indah. Itu bagi mereka yang selalu memberi makna, memaksakan, dan memberi nuansa keindahan dalam hatinya, hingga ia menyebut apa yang dilihat-didengarnya terasa indah. Kita menyebutnya, cinta. Perasa yang akan membuat apapun menjadi indah. Tapi, merasa bermanfaat adalah sifat manusia pamrih. Mengapa seseorang harus senang ketika ia rasa hidupnya bermanfaat untuk orang lain? Mengapa tidak ‘biasa saja’? Merasa lepas, tak berpikir bermanfaat atau tidak, karena yang terpenting adalah perbuatan baik. Menjadi ‘dingin’ sebaik apapun tindakan yang telah kita lakukan.

Kemarin aku diskusi dengan seorang kepala sekolah lain. Aku katakan, aku tipe orang yang tak senang dengan hierarkis. Anda kepala sekolah, jadi saya menghormati anda. Itu salah. Sekalipun anda bukan kepala sekolah : tukang becak, tukang cilok, saya akan tetap menghormati anda, atau siapapun itu, termasuk orang yang menghina mengfitnah saya. Menghormati orang baik adalah suatu kewajaran, tapi menghormati orang yang mencaci, itu suatu kemuliaan. Hierarkis hanya dalam kuantitas, bukan kualitas. Saya kepala sekolah, jadi saya kerjakan tugas-tugas kepala sekolah. Dia guru, jadi dia harus mengerjakan tugas-tugas guru. Dan kita masih bisa saling membantu.

Siangnya, nyaris saja aku ribut dengan kakak : ini alasan paling besar mengapa aku bisa saja mati muda. Hampir saja terucap dari mulutku, jika saja aku tak cepat menyadari, bahwa ia kakakku, seburuk apapun temperamennya, aku menyayanginya.

“Anda fokus saja pada pemenangan Pileg! Mengapa sih masih sok perhatian dengan sekolah? Kalau misalnya mau peduli, silakan tepati apa yang dulu pernah dijanjikan pada para orangtua siswa, para guru. Mana bangunan? Mana fasilitas? Mana laptop tiap guru? Mana honor tiap bulan apalagi sesuai UMR? Anda sudah tidak bertanggung jawab dengan itu! Saya, saya yang menangungjawabi itu semua sekarang! Anda benar-benar ingin saya mati muda?! Sengaja saya tidak mengatakan rumitnya sekolah itu karena saya memahami anda yang sedang fokus pemilu! Siapa saya sehingga kehidupan memberi beban seperti ini? Budak?!”

Tapi tentu saja, aku tak mengatakannya. Bukan tak berani, hanya tak tega. Dia tumbuh dengan motivasi dari kecil. Hidupnya penuh mimpi, dan mungkin ambisi. Tak kuat dengan benturan-benturan kehidupan yang berat, dan konsisten.

Berbeda dengan adiknya ini. Tumbuh dan dibesarkan dengan penuh depresi. Mimpi-mimpi ada, namun tak pernah merasa memilikinya. Seorang motivator nasional berkata : Cinta harus memiliki. Konyol sekali, menjadikan cinta sebagai tertuduh bersalah, karena kepemilikan hanya untuk benda mati. Hanya wanita atau pria dungu yang mau disamakan dengan – sekalipun – batu zamrud termahal di dunia. Cinta adalah tentang ‘menjadi’, bukan memiliki. Menjadi ‘satu’. Karena setiap kita mencium kening istri dan anak, kita sebaiknya sadar bahwa kita akan saling meninggalkan. Tetap bersatu – jiwa, meski tubuh lagi bersama.

Sore lalu aku ke sekolah, mengukur tanah bangunan yang belum jadi. Banyak sekali orang-orang yang ‘memaksa’ agar cepat dibangunnya kelas baru, dan segera pindah dari bangunan lama, yang memang kami menungpang di sana. Aku tak pernah menyesal dengan apa yang terjadi di sekolah itu, betapa rumitnya. Tapi aku juga tak pernah merasa senang, jika pun diberi kesempatan untuk menjadi – seperti – pejuang, yang akan ‘memerdekakan’ pendidikan di sana. Pria baik akan memilih mati dalam jalan perjuangan : selalu. Tapi, rasanya aku telah melewati semua perasaan/pikiran itu. Senang, sedih, terbebani, termudahkan : semua tak ku rasa lagi. Serasa semakin dekat saja dengan apa yang dulu aku sebut : Ketenangan konstan. Kekosongan.


Kini aku tersadar, bahwa hasrat paling menyakitkan adalah penemuan akan Dia. Dunia ini adalah penderitaan, dan hasrat kebendaan-lah yang membuat hidup terasa sebagai derita. Tapi ada derita paling besar : ketika hasrat keduniawian kering, berubah menjadi hasrat untuk menemukan-Nya. Hari-hari ini aku merasakannya, seakan ada ‘jembatan putus’ antara diri ini dan Dia. Apa penyambungnya? Logika begitu cacat. Seakan hidup ini sendiri saja. Melihat orang lain, atau apa saja yang ada di dunia ini adalah diriku sendiri, hanya dalam wujud yang berbeda. Fisik akan hancur, dan ‘yang tak hancur’ itulah, yang aku katakan tadi, ‘diriku sendiri’ saja. Ya, apa saja. Semua ini adalah aku. Bukan ‘aku fisik’, tapi aku, yang, ah, aku katakan tadi, logika begitu cacat untuk menjelaskannya. Kini aku tahu, mengapa umat ini selalu ditertawakan. Agama tauhid yang umatnya menyembah berhala : apa saja.

Post a Comment

0 Comments