Merindukan keterasingan

Senang rasanya, dua hari kemarin bertemu dengan adik-adik mahasiswa PMII. Saya diminta oleh panitia, untuk memberikan sedikit pengetahuanku tentang filsafat hidup. Walaupun – ya ampun, sebenarnya saya sama sekali tak punya apa-apa jika harus menyampaikan tentang itu : filsafat hidup. Dua bulan kemarin, saya diminta panitia Latihan Kader (LK) HMI untuk mengisi materi yang sama : filsafat. Saya sendiri sebenarnya bukan satu-satunya orang yang sedikit tahu tentang itu. Sangat banyak, bahkan amat banyak alumni PMII atau HMI yang pemahaman filsafatnya melebihi saya. Tapi, barangkali, dari banyaknya orang-orang itu, saya salah satu orang yang keras kepala menjaga diri dari keterasingan megahnya kehidupan. Saya anak muda yang masih dan terus – paling tidak sampai saat ini, menjaga prinsip, untuk terus menemani mereka yang miskin, bekerja sekuat tenaga mengangkat mereka yang direndahkan : meski hanya level kampung. Dan itu, keterasingan yang cukup berat untuk manusia rendahan macam saya.

Mereka menganggap apa yang saya pegang – prinsip hidup – itu sebagai sesuatu yang hebat. Itu wajar. Mereka mahasiswa, masih muda. Kelak, bergulirnya waktu, ketika peci bernama toga mereka kenakan, mereka akan berpikir lebih realistis-logis. Bahwa hidup tak bisa terus menerus miskin. Belagu membela mereka yang menderita, menemani mereka yang teraniaya. Mereka harus punya istri dan anak, juga memenuhi apa yang diinginkan mertua mereka. Dari sana, keinginan menjadi PNS atau pengusaha kaya yang buta realita, kembali ke muka.

Kita ini dibutakan akan realita sejak SD. Yang kita pelajari di sekolah hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan angka, skor, nilai – parsial. Kita diarahkan untuk paham, bahwa dunia dan kehidupan ini normal-normal saja, tidak ada yang darurat, tidak ada yang harus diperbaiki diperjuangkan  sepenuh hati. Jadi wajar, ketika para aktivis mahasiswa yang telah menjadi orangtua kini menjadi kompromis. Lebih baik hidup mapan, mendidik anak agar sholih dan sholihah, pintar mengaji dan tahajud, dan memahami bahwa kehidupan ini normal-normal saja. Tidak ada yang harus dikorbankan, tidak ada yang harus diperjuangkan total. Saya setuju, bahwa di fase-fase hidup tertentu, seorang anak muda harus meninggalkan Tuhan. Total! Total! Menjadi Fir’aun, Qarun, atau Musa yang menerjang penindas dengan kekuatannya : meski ia tak begitu cerdas. Saya tidak meninggalkan Tuhan saat masih muda, hanya menjaga jarak. Saya yang berada di dekat-Nya, adalah saya yang lemah, manja, mengkhayal bahwa surga selalu siap melayani mereka yang rajin ibadah ritual – saja. Konyol.

Tentang totalitas, dua organisasi di atas mungkin melihatku demikian. Kere, tubuh ringkih, terhina di hadapan wanita – modern, tak punya apa-apa, tak punya koneksi ‘ke atas’, tak punya seni ‘menjilat’, hidup seperti orang awam meski sarjana pendidikan sejarah. Mereka masih melihat, bahwa saya konsisten dengan apa yang saya ucapkan dulu – saat masih mahasiswa, dan saya perjuangkan sejak dulu. Mereka melihat, bahwa saya masih hidup dan ternyata menikmati, meski terasing dari keramaian : eksistensi. Tak mau dikenal, enggan mengemis meski membawa banyak orang – lemah, dan terus tolol mengorbankan diri yang memang sudah habis tak punya apa-apa : selain, mungkin, akal dan iman. Mereka melihat, saya dengan kesablengannya masih enak hidup (bukan hidup enak!), meski tanpa apa-apa.


Tentang eksistensi, saya juga masih muda. Masih mudah tergoda oleh dunia. Alih-alih menjaga diri dari dunia, saya justru mendekatinya – tapi tak berhasrat padanya. Ikan yang kuat bukan ia yang berenang di air menggenang. Tapi ikan-ikan yang terus melawan arus, meski tak punya teman. Berbahagialah ia yang terus terasingkan : dunia.

Post a Comment

0 Comments