Mau ngaji, Mak. Adek mau ngaji,

Selepas maghrib, anak-anak kecil bersegera mengambil juz amma dan sepeda mereka. Ibu mereka heran, "Heh, mau kemana, maghrib-maghrib!"
Jawab anak-anak itu, "Mau ngaji, mak. Mau ngaji sama pak guru Jon,"
Barangkali ibu mereka takut, mereka akan bermain sedang waktu masih dalam saat maghrib. Ibu mereka takut barangkali masih banyak setan berkeliaran. Padahal, anak-anak itu mau mengaji bersama pawangnya setan : Jon.
Si Jon pernah disindir temannya dari kota, hanya karena hidupnya yang 'santai'. Pagi di sekolah, sore mainan layangan sama anak-anak kecil, atau mancing di kali tanpa kail, malamnya mengajar ngaji anak-anak SD.
"Sepele amat kerjaan lu di kampung?! Lu punya pikiran besar, kok malah mainan layangan?"
Jon hanya tertawa.
Tiap sabtu sore, ia mengisi pengajian ibu-ibu wali muridnya. Itu juga rutinitas, kata teman kotanya, sepele. Karena pasti isi pengajiannya hanya sebatas sholat, sedekah, atau mahdloh lainnya.
"Ibu-ibu 'kan orang jawa nih ya, tahu arti 'ngaji' enggak?" tanya Jon pada para jamaah.
"Ngaji itu, ngangsu jajan dan ilmu. Jadi, selain kita dapat jajan, juga dapat ilmu. Memang ilmu diletakkan di belakang, tapi itu yang paling utama. Nabi Muhammad 'di letakkan' di belakang, penutup para nabi dan rasul, tapi justru beliau-lah yang utama. Bahkan, maharnya Nabi Adam saat menikahi Siti Hawa, itu dengan sholawat, sampai ia kebingungan 'Muhammad itu siapa?' kok disandingkan dengan nama Allah?"
Begitulah hidup remeh Jon. Ia 'di utus' di sana, di masyarakat yang nyaris setiap orang menganggap diri pintar. Jon tak pernah menganggap diri pintar -ia suka menceritakan kisahnya saat tinggal kelas waktu SD, tapi justru dia yang 'dipaksa' berceloteh di-angsu ilmunya tiap saat. Masyarakat tak paham barangkali, kalau Jon itu cuma bisa bicara tok. Cuma bisa berceloteh tentang agama, tentang ilmu. Padahal, sebenarnya ia tak tahu apa-apa, tak bisa apa-apa. Tuhan-lah yang membuatnya bisa.

Post a Comment

0 Comments