Banyak Hal : Aneh?

Segala sesuatu yang nampak di dunia ini adalah petunjuk, tanda, ayat, yang Dia berikan pada manusia agar mengenal Diri-Nya sendiri. Dirinya Yang Besar. Bukan aku, tapi Aku. Bukan engkau, tapi Engkau. Bukan dia, tapi Dia. Begitu pun dengan segala hal, semua hal, satu.

Begitu banyak cerita akhir-akhir ini. Saking banyaknya, jika diceritakan, akan seperti kebanyakan tulisan-tulisan saya sebelumnya : unbelieveble.

Seekor semut ku angkat dari air hujan yang menghanyutkannya. Aku pun berdialog dengannya (yang sebenarnya berdialog dengan hatiku sendiri).

"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada semut yang sudah berjalan lagi di lantai kering.
"Alhamdulillah," jawabnya.
"Kamu mau kemana?"
"Terus berjalan (hidup) mencari karunia Tuhan, tak akan berhenti sampai ku mati. Allah... Allah... Allah..."

Apa kau bak-baik saja?

Sebenarnya ini pertanyaan untukku sendiri. Apa kau baik-baik saja, sampai-sampai melakukan hal-hal bodoh begitu : menyelamatkan semut? Bisa jadi, saya yang sedang gila.

Menyelamatkan? Semut tak punya perasaan (?), dia tak akan senang ataupun sedih ketika hanyut ataupun ketika hidup. Ia biasa saja. Karena tak punya perasaan (?).

Hampir tiap hari ada 'seseorang baru' yang masuk di inbox facebook. Ceritanya, terkadang mengagetkan. Ada seorang teman muda, ia masih SMA, mengirim ke inbox saya : sebelumnya aku tak mengenalnya sedikitpun. Apa katanya?

"Perkenankan saya mengagumi anda,"

Tapi, seperti yang biasa saya lakukan, saya tak pernah menganggap diri ini spesial. Aku seperti kamu, orang biasa. Bahkan sangat biasa, bukan luar biasa. Aku berikan nomor, agar dia bisa menghubungiku kapan saja : anggap aku teman. Mengapa? Kesinambungan komunikasi akan mengurangi rasa kagum, terlebih lagi, perasaan bahwa aku punya teman hebat -nya juga akan semakin hilang. Pada akhirnya, seperti yang aku harapkan, satu per satu menjauh, tak ada kabar, tak ada diskusi. Bukan apa-apa, tapi karena memang aku bukan siapa-siapa : seseorang yang tak pantas dikagumi.

Semalam, entah ada perasaan apa. Semacam sedang 'berkelahi' dengan jin-jin picisan yang diutus seseorang untuk menjahili : saya. Setengah tidur, teriak-teriak sholawat dan syahadat (bacaan saya ketika hal-hal seperti ini datang), seperti ada yang akan mengambil 'benda-benda' keramat dari dalam tubuh saya. Ah, ini agak membingungkan. Aneh (?). Dulu, saat SMP, aku pernah bermimpi mendapatkan batu delima merah : yang pada akhirnya masuk ke punggung saya. Saat SMA, seorang berpakaian putih, bersurban - masih dalam mimpi, memberikan benda berbentuk trisula berwarna putih susu, dimasukan di bagian hati saya. Sampai saat ini saya tak percaya, karena saya orang ilmiah. Tapi, setiap ada kejadian aneh, mungkin orang-orang 'nakal' yang akan menjahili saya dari jarak jauh, dua benda ini, depan belakang, bereaksi, menunjukan sakit yang luar biasa, seakan ingin keluar dan melawan orang yang menjahili itu. Nyaris saja saya merasakan nafas terakhir saya. Ya, hati saya berkata : Kalau kamu melepas 'ini' (nafas terakhir?), kamu akan mati. Saya ingin mati, tapi jika melihat 'amanah' (tugas masyarakat) yang belum rapi di sini, rasanya kok serba salah. Mengapa saya ingin mati, toh tak usah diinginkan juga pasti akan datang? Saya tak menemukan alasan hakiki mengapa saya masih hidup, kecuali, mungkin pemahaman hidup ini bukan untuk apa-apa, tidak untuk apa-apa.

Mengapa hal aneh itu tadi malam terjadi? Ada kemungkinan, doa yang saya panjatkan untuk seseorang yang sedang 'disakiti' (dijahili dari jaraj jauh), sampai. Tapi hanya mungkin, sekali lagi mungkin. Saya tak paham klenik, saya hanya melakukan apa yang rasulullah pesankan ketika berurusan dengan hal-hal macam itu. Bagaimana ceritanya?

Sore hari, seorang teman mengeluh, bapaknya ada yang 'nakali'. Saya tanya, disakiti bagaimana toh? Disakiti dari jarak jauh, bahkan pernah dari tubuhnya keluar lidi (kayu kecil), jawabnya. Astaghfirullah... Dan ternyata, sudah delapan tahun 'sakitnya'. Lebih parah lagi, beberapa kali memanggil 'orang pinter' untuk mengatasi itu. Aduh! Itu bertumpuk-tumpuk 'energi negatif' yang terkumpul di tubuh bapak dia. Selepas isya, yang sebelumnya saya tutup dengan sholat sunah hajat, saya kirimkan 'doa sholawat' untuk bapak teman saya itu. Sekitar 20-30 menit, mata saya merasa sangat mengantuk (padahal baru jam 8, dan itu malam minggu!). Saya tidur jam setengah sembilan malam, mulai-lah 'kejadian' itu : teriak-teriak membaca sholawat dan dzikir. Tapi, alhamdulillah, ternyata yang melakukan tubuh batin saya, bukan tubuh dhohir, bapak dan ibu tak mendengar saya teriak-teriak (hehe). Saya lihat keluar rumah, dan.... mungkin, sekali lagi mungkin, saya tak melihat hanya merasakan, 'utusan' orang nakal itu hanya bisa bergerak di luar rumah saya. Entah karena rumah ini tiap pagi dan sore terdengar suara mengaji, di sepertiga malam sudah bangun bersujud, atau apa saya tidak tahu. Yang saya lakukan, seperti nasihat Caknun - tulisan saya banyak terinspirasi darinya - percayalah hanya pada Allah dan Rasulullah. Jangan percaya apa yang kau lihat, karena, biasanya kita melihat ketika kita percaya.

Hal-hal aneh lainnya....

Terdengar suara adzan duhur, tanda diri ini harus sejenak beristirahat.

Post a Comment

2 Comments