Qutiba 'alaykumul qitalun ngantuk!

Selepas mengaji tafsir ala Jon Quixote, malam lalu saya meminta izin pulang dulu untuk makan. Kami berencana datang ke peringatan khotmil qur'an majlis ta'lim 'Kebijaksanaan'. Biar bagaimanapun, mencari ilmu itu rasanya tak afdol kalau perut keroncongan. Ada nasehat bilang, yang paling penting pertama adalah makan, kedua, pendidikan.

Jam 9 malam, kami berangkat ke tempat mulia itu. Ada tiga tempat di bumi yang cahayanya mencorong kayadene bintang-bintang di langit, kata para ulama. Apa saja itu? Masjid, majlis ta'lim, tempat-tempat dzikir / mengaji. Nah, si Jon itu 'kan kuliatnya gelap, mudah-mudahan dengan menghadiri tempat mulia itu, dia nampak agak bersinar. Jelek-jelek begitu, Jon termasuk anak muda ndeso yang rajin ngangsu kawruh pada ulama-ulama setempat. Nampaknya, dia mempraktekan idiom the long life education alias ngelmu iku kelakone nganti laku atau tholabul ilmi minal mahdiy ilal lahdiy.

Acara yang sedang berlangsung adalah, tes para wisudawan dan wisudawati khotimin dan khotimat yang ternyata baru berumur 10-11 tahun. Dan 15 anak di antaranya telah hafal qur'an 30 juz! Si Jon kalah telak. Terlihat tiga santriwati sedang membaca surat Hud ayat 41 wa qoo lar kabuw fiyha bismillahi majreeha wamursaha...
"Lho, kok bacanya majreeha? Bahasa arab 'kan ndak ada huruf 're' ?" tanya ustadz penguji. Para hadirin bengong.
Tiga anak itu pun kompak menjawab, "Namanya hukum imalah. H-u-k-u-m  i-m-a-l-a-h  a-d-a-l-a-h...," mereka nampak kompak mengeja, "Bacaan yang condong atau miring dari harokat fathah ke harokat kasroh. Terdapat di surat Hud ayat 41,"

مَـجْـرَا هَـا  dibaca hampir sama dengan مَجْرَ يْـهَـا

Jon yang dari tadi senyum-senyum bangga, mendadak menangis sesenggukan.
"Eh? Kau ini, kenapa nangis??"
Jon tak menjawab, ia masih menangis sesenggukan mendengar anak-anak di panggung itu mengaji dan membacakan hukum tajwid.
"Saya ndak tahu kenapa nangis, tapi hati saya benar-benar pengin nangis mendengar suara ngaji dan ilmu mereka. Khoiru man ta'alamal qur'an,"

Lalu saya membiarkan sahabatku yang cengeng itu. Terlihat sang ustadz menunjukan satu hukum bacaan lagi, "Qo luw yaa a baa naa maa laka laa ta mannaa 'ala yuwsufa...," anak-anak memperhatikan ekspresi bibir sang ustadz ketika mengucap ta mannaa, "Adakah yang salah dalam bacaan ustadz tadi?" tanya ustadz penguji lagi.

"Ya salaaah..." kompak para santriwati.
"Shuutt.. yang bener, jangan nyalah-nyalahin orang tua lho, dosa," kata sang ustadz. Para hadirin pun tertawa.
"Namanya hukum apa itu?" tanya ustadz lagi.
"Namanya hukum bacaan Isymam. B-a-c-a-a-n  I-s-y-m-a-m   a-d-a-l-a-h memoncongkan bibir tanpa suara setelah mematikan huruf, seolah-olah memberi isyarat adanya dhommah. Sehingga bunyinya hampir sama dengan 'Maunnaa'    " مَوْ نَّـا 
Mereka terdengar kompak, "Terdapat di surat Yusuf ayat 11,"

Tangis Jon semakin mengguguk-guguk.

Entah tangis Jon ini karena dia berusaha untuk mengusir kantuk - sambil menunggu sang penceramah datang, atau memang benar-benar hatinya seperti yang dikatakan taqsya'irru minhu juluwdulladzyna yakhsyauna rabbahum. Hati yang bergetar ketika ia teringat dengan ucapan-Nya sendiri. Teman karib saya ini, meski berpenampilan biasa, memiliki kedalaman spiritualitas yang tak bisa diremehkan.

* Tausiyah

Acara puncak pun tiba. Tausiyah diawali dengan kabar pemilu yang baru saja dilakukan para warga. Lalu beliau berbicara tentang reformasi. Saat bicara reformasi inilah, Jon tersenyum kecut. 
"Kenapa senyumnya gitu?"
"Ndak, ndak papa," jawabnya singkat.
"Sing bener lu, cerita saja, kau tahu apa tentang reformasi?"
"Tentang pemilu, sudah sewajarnya masyarakat tak percaya. Karena memang masyarakat tak pernah benar-benar memilih pemimpin, tapi penguasa. Mabur ra ngedek lemah ketika sudah jadi," katanya. "Dan para ulama, sebagai salah satu tiang negara, sewajarnya bertindak sebagai 'cemeti' ketika para pemimpin lupa. Bukan sebaliknya, membuat deal-deal-an politis-pragmatis temporal,"

Lalu, sang kyai berbicara tentang fabel.
"Manusia dalam mendidik anak-anaknya, bisa belajar dari empat hewan. Ada hewan yang ketika melahirkan, hanya betina saja yang bertanggung jawab, jantannya jalan-jalan cari betina yang lain, contohnya ayam. Ada hewan yang ketika beranak, si jantan yang bertanggung jawab, betinanya jalan-jalan, mencari pejantan lain, contohnya burung puyuh. Ada yang dua-duanya tidak bertanggung jawab, contohnya bebek-entok, makanya telur mereka langsung diangkut ke Brebes dan diberi tato (cap). Ada yang dua-duanya bertanggung jawab, contohnya merpati. Makanya gambar undangan pernikahan biasanya merpati. Maksudnya biar kedua-duanya bertanggung jawab. Ndak mentang-mentang wanita karir atau anggota dewan, suami-istri saling melempar tanggung jawab," kata beliau. "Syukur alhamdulillah, panjenengan memiliki anak-anak shalihah yang rajin belajar qur'an. Itu tanda, bahwa panjenengan peduli dengan masa depan anak-anak panjenengan. Adanya anak-anak seperti mereka, akan memberi sedikit harapan pada kita untuk memperoleh doa setelah kita mati. Hanya itu yang orangtua harapkan dari anak. Orangtua mendidik anak agar anak bahagia, masa depan cerah, panjang umur. Berbeda dengan ketika anak-anak merawat orangtua, yang diinginkannya adalah kematiannya. Tapi, insya Allah anak-anak kita yang belajar qur'an ini tak akan seperti itu, amin!"

Lalu sang kyai bercerita tentang seorang anak dari Jawa Timur yang belajar di luar negeri, Amerika Serikat. Karena kecerdasannya yang tinggi, ia tak sempat belajar al qur'an. Ketika ayahnya meninggal, sepulang dari bandara ia mampir ke toko elektronik : ia membeli tape. Tak lupa, ia membeli kaset surah yasin. 
Supirnya tanya, "Kok beli tape? Wong ibumu lagi sedih kok, mau dangdutan?"
"Ini saya beli kaset yasinan pakde, jadi nanti kalau saya ziarah, tinggal di stel dan saya bagian nangisnya,"

Sang Pakde tepok jidat. *plok*

Tapi yang menarik, ketika pak kyai bercerita tentang seorang anak yang hanya bisa hafalan doa mau makan. Mengapa menarik? Karena itu cerita ada di blog ini, dan entah beliau langsung membaca atau dengar dari seseorang, ceritanya persis dengan judul tulisan 'doa' di blog.

Semakin malam, pak kyai nampaknya semakin kehilangan esensi ceramah. Bukan melanjutkan dengan ungkapan-ungkapan tafaqur, tapi malah candaan-candaan dewasa.

"Paling ndak suka kalau isi ceramahnya cabul. Mbok ya menjelang ditutup diisi dengan nasehat, apa yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam sekarang. Apa yang harus dilakukan besok, setelah mengaji hingga larut malam, lalu subuhnya telat atau bahkan ketinggalan. Apa yang mesti dilakukan kami umat awam, dengan perpolitikan yang bagai lintah, menyerap umat saat pencalonan tapi lupa saat setelah jadi. Apa yang dilakukan umat, dengan perpecahan dan kebekuan berpikir generasi muda. Memberikan rambu-rambu untuk anak muda agar tidak menjadi seperti orang tua mereka yang berbahagia menjadi orang awam dan jangan sampai seperti para pemimpin yang kal 'an'am bal hum adlola sabiyla." celetuk Jon sebelum pak kyai memimpin doa.

"Lah, Jon, tiap ulama 'kan punya ciri khas ceramah masing-masing. Mungkin beliau bukan dalam wilayah itu - mencairkan alam berpikir umat,"

"Kita ini 'kan masih dan akan selalu perang. Qutiba alaykumul qital. Termasuk anak-anak kecil para hafidz itu, disiapkan sebagai prajurit-prajurit penyimpan ayat-ayat Allah. Kita juga lagi perang Qutiba alaykumul qitaludz dzulumatil aql, perang melawan kebekuan akal, kemandegan budaya berpikir jernih. Termasuk perang melawan kantuk, biar subuh besok ndak kesiangan, apalagi di qodho, qutiba alaykumul qitalun ngantuk!"

"Huzt! Situ kalau sudah malam sablengnya kambuh. Ayat qur'an kok dimainin begitu! Dosa!"

"Salah satu kebekuan akal, kita mudah bilang ini dosa itu haram itu sesat,"

"Ya wez lah, karepmu!" saya melenggang pergi.

Post a Comment

0 Comments