Putus asa boleh, tapi jangan menyerah (!)

1 Oktober 2013

Pernah aku menulis satu dongeng tentang seorang manusia yg mengikuti perlombaan lari maraton. Ia berlari, berjuang keras, ketika sampai finish, karena ia yg menang, juri berteriak, "Tidak ada hadiah! Tidak ada hadiah!" tapi, si manusia ini tak sedih, karena sebelum juri berteriak itu, ia telah pergi lebih dulu. Ia tak bertanya, "Mengapa aku?" karena, ia paham. Ia mengikuti perlombaan itu bukan karena ingin menang/hadiah, tapi karena memang, harus. Ia harus ikut.

Tahun 2011 awal, seseorang yg ku suka berkata setelah ku beri buku&tulisan-tulisanku,"Kau pikir aku akan membaca buku-buku&tulisanmu itu? Kau pikir aku akan senang dengan pemberianmu itu? Jangan ge-er deh!"

Aku hanya tersenyum. Tulisan itu termuntahkan dari pikiran&perasaanku begitu saja. Ada/tidak ada yg membaca, disenangi orang/dibenci, itu sama sekali tak berpengaruh sedikitpun pada diri ini. Aku menulis, karena memang, harus.

Manusia tak akan belajar menjadi kuat jika ia tak pernah jatuh. Manusia tak akan belajar untuk kembali menyadari, 'siapa aku', jika kegagalan&keterpurukan tak pernah datang. Putus asa, kehilangan harapan, itu boleh. Tapi tidak dengan menyerah, berhenti hidup. Karena menyerah, adalah mati. Kita tidak bisa menyerah, selama kita masih hidup. Jika kematian, katakanlah, indah, hidup ini keindahan yg harus kita bawa&menjadi bekal di dimensi lain itu. Orang-orang yg tak pernah hidup, mereka tak bisa berbahagia melihat tawa nakal anak-anak. Bermain shiratori bersama sahabat. Bercanda, bercerita tentang hidup. Jika hidup adalah derita, maka kematian adalah peristirahatan. Saat peristirahatan, tak akan bermakna bagi mereka yg menyerah. Untuk mereka yg putus asa, tapi terus hidup, peristirahatan adalah surga. Jangan menyerah, karena kita masih hidup, karena menyerah itu, mati.

Post a Comment

0 Comments